Oleh: Muhammad Ilham

 

LIBUR PANJANG semester lalu telah usai. Sudut-sudut kampus kembali ramai pasca sekira dua bulan sepi dari aktivitas mahasiswa. Ingar-bingarnya aktivitas berkampus telah dimulai. Mahasiswa mulai tersibukkan oleh bermacam-macam aktivitas. Bagi mahasiswa semester tua, awal semester menjadi tak lebih dari sekadar pengulangan aktivitas berkampus. Kadang kala kuliah, skripsian, dan bertemu dosen pembimbing di kampus. Sedangkan mahasiswa tingkat madya seperti Tomblok, awal semester menjadi waktu menyenangkan untuk santai leha-leha.

 

Sebagai mahasiswa tingkat madya yang tidak sibuk-sibuk amat, Tomblok sering menghabiskan waktunya di perpustakaan. Saat tengah asyik baca buku, tiba-tiba ia ketemu teman kelasnya yang kebetulan mampir perpustakaan.

 

“Wah Tomblok, ngapain di sini?”

 

“We-e-e awakmu. Hla mbok dilihat ini lagi ngapain tho.”

 

“Wah iya, tampaknya kalo tak lihat dari sampul buku yang mbok pegang itu, sedang baca novel. Bener to?”

 

Lha itu tau. Awakmu kok ke sini mau apa?”

 

“Iya ini, ceritanya mampir mau cari buku buat kuliah besok. Ini tadi habis rapat organisasi mahasiswa di fakultas, Mblok.”

 

“Wah ikut organisasi mahasiswa tho, keren. Jadi apa awakmu disana?”

 

“Waduh, jangan ditanya soal itu, aku juga lagi kacau sekaligus galau ini di sana jadi apa.”

 

Weh, lha gimana to?”

 

“Jadi ceritanya itu, gini Mblok. Aku gak masuk di rencana nama calon menteri baru di kabinet organisasi itu. Padahal aku udah mengabdikan jiwa, raga, dan hati di situ setahun-an lho. Bayangkan!”

 

“Wah ya tak bayangin dulu coba.”

 

“Ya jangan dibanyangin tenan to. Mau denger kelanjutan ceritanya apa gak ini?”

 

“Ya ya ya. Tak dengerin.

 

“Nah kan sekarang ini lagi rame-ramenya itu apa namanya, reorganisasi apa apa itu. Pokoknya pergantian pengurus di organisasi gitu, Mblok.”

 

Hoo, terus?”

 

“Di organisasi itu ada presiden utawa ketua baru. Lha, dia punya privilege buat milih menteri-menterinya. Sedihnya, aku gak masuk daftar calon menteri itu, Mblok.”

 

“Iya ya ya. Awakmu tadi kan sudah bilang begitu. Terus masalahnya itu apa?”

 

“Masalahnya, banyak orang-orang yang dikenal dekat dengan Pak presiden banyak yang jadi menteri, Mblok.”

 

Lho, ya wajar aja to. Wong deket, yo tinggal jadian kan, ha-ha-ha.”

 

“Wajar gundulmu itu.”

 

“Ya iya, wajar to.”

 

“Kok wajar? Lha aku sama temen-temen yang sudah berjuang mati-matian setahun-an ya gak ada gunanya to kalo kayak gitu caranya.”

 

“Owalah begitu, ya sabar sabar sabar. Siapa tahu yang dijadikan menteri itu memang lebih berkompeten di bidangnya. Ya tho? Siapa tahu lho.”

 

“Berkompeten gimana maksudmu, Mblok? Gak ada kok. Katanya, mereka itu temen-temennya Pak presiden di organisasi luar kampus, Mblok.”

 

“We-e-e, lha kok gitu?”

 

“Ya gitu, kabar-kabarnya mereka itu direkrut jadi menteri ya karena mereka satu atap di organisasi luar kampus.”

 

“Wah, kok cara mainnya bengis gitu, gimana tho?”

 

“Ya pokoknya katanya mahasiswa-mahasiswa lain ya gitu, Mblok. Ini katanya lho. Katanya.”

 

Waduh, padahal tak kirain mereka itu putih bersih, lho. Pada ikut organisasi mahasiswa itu karna tujuannya mulia, karna pingin belajar. Kadang juga katanya melakukan pengabdian masyarakat. Ternyata kok malah mementingkan kekuasaan sak warna kayak gitu. Terus gimana coba?”

 

“Ya begitu adanya, dari sejak mahasiswa aja gak bisa murni putih, Mblok. Ada yang ijo, abang, kuning, abu-abu, pelangi, terus apa lagi itu warnanya. Nanti kalo udah gak jadi mahasiswa, bakal jadi kayak apa coba?”

 

“Ya, paling kayaknya, ini kayaknya lho. Kalok enggak luput ya bakal tetep berwarna kayak gitu. Kalok enggak ya jadi, putih-putihan.”

 

“Ha-ha-ha.”

 

Lha nggih to?”

 

“Ha-ha-ha.”[]


 

Muhammad Ilham. Mahasiswa Sosiologi 2014. Surel: [email protected]