Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, energi hanya dapat berubah wujud ke energi lainnya. (Hukum kekekalan energi)

Inilah yang kita tahu dari pelajaran menyoal energi di sekolah: hukum kekekalan energi yang akrab juga disebut Hukum 1 Termodinamika. Agaknya kita selalu mengamini bahwa energi di alam sejatinya kekal, mereka tidak musnah, hanya berubah. Maka, berdasarkan hukum itu, “menghemat” itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan energi yang menghilang, habis, apalagi musnah.

Premis ini hanya separuh benar dalam kehidupan praktis kita. Setidaknya, kita punya kesadaran bahwa bensin sebagai energi yang kita beli, lalu kita gunakan dalam menjalankan mesin motor atau mobil, atau sebagainya, berubah wujud, dan akhirnya habis.Jika hukum kekekalan energi tidak bisa dibantah, maka hukum perubahan energi juga tidak bisa kita bantah.Dalam perubahan ini, kita menemukan proses pergantian energi yang tak bisa kita elakkan lagi, bersamaan dengan hilangnya kendali kita terhadap kekekalan energi. Di sinilah posisi penghematan energi bisa kita pikirkan.

Keberadaan manusia, juga teknologi yang diciptakan manusia, hanya berpengaruh terhadap perubahan wujud energi—bukan eksistensi energi. Perubahan energi inilah yang seringkali tidak disadari oleh masyarakat, terutama dalam ranah yang lebih besar yaitu penggunaan listrik. Output perubahan energi ini seringkali terabaikan, terutama dalam kehidupan sehari-hari seperti perubahan listrik menjadi cahaya pada lampu, gerak pada kipas, dan berbagai mesin penyerap energi listrik lain.

Pada praktiknya, masyarakat sering menghambur-hamburkan energi dalam perabotan canggih mereka. Terutama pola masyarakat yang sudah terlanjur konsumtif terhadap produk-produk teknologi seperti telepon seluler atau perabotan elektronik. Produk penghambur energi ini sayangnya, justru menjadi tren dan bagian dari gaya hidup masyarakat. Penggunaan yang tidak sesuai kebutuhan inilah yang menyebabkan konsumsi listrik melonjak. Nielsen Newsletter menyatakan bahwa rata-rata wanita Indonesia di tahun 2012 mengonsumsi televisi tiga jam saban harinya. Televisi seringkali ditonton hanya sebatas pemenuhan sarana hiburan dan pengisi waktu luang, tidak lagi sebagai pemenuh kebutuhan akan informasi.

Listrik kini menjadi energi yang esensial dan krusial. Hampir semua aktivitas melibatkan energi listrik sehingga permintaannya kian meningkat. Data PT PLN (Persero) menyebutkan kenaikan pelanggan listrik rata-rata 2,2% per tahun dari 57,3 juta tahun 2014 menjadi 78,4 juta pada 2024. Selaras dengan kenaikan tersebut, permintaan elektrifikasi meningkat rata-rata 8,7% pertahunnya sehingga tahun 2024 diprediksi Indonesia membutuhkan pasokan listrik 464,2 TWh. Menyadari hal itu, pemerintah membuat program penambahan pasokan energi listrik sebesar 35.000 megawatt dalam waktu lima tahun yang dijadwalkan akan rampung tahun 2019. Sumber energi yang akan diolah 40%-nya menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis diesel sebagai penggerak generator. Demi mendukung program tersebut, PT Pertamina siap memasok bahan baku BBM jenis diesel, berapa pun jumlah yang diminta (Solopos.com, 18/3/2015).

Peningkatan permintaan energi listrik telah mendesak pemerintah untuk mengiyakan segala bentuk permintaan dari PLN dan Pertamina demi tercapainya pemerataan energi. Ini menjadikan negara semakin manja dan bergantung pada BBM yang dianggap sebagai sumber energi paling efektif. Ketergantungan ini sayangnya tidak dianggap juga sebagai sebuah permasalahan pemborosan energi (oleh negara). Sehingga tanpa disadari, ketersediaan BBM pun menyusut dengan cepat. Apabila tidak mengoptimalkan pengolahan energi dari sumber lain, habisnya BBM suatu hari nanti berarti sama dengan kiamat listrik dalam negeri. Oleh karena itu, kini teknologi mutakhir pengonversi segala bentuk energi alam sedang giat-giatnya diaplikasikan untuk mengoptimalkan pengolahan energi listrik. Di samping itu, masyarakat kemudian diimbau untuk lebih hemat dalam mengonsumsi energi listrik.

Optimalisasi Energi

Adalah baik bila masyarakat yang selama ini dikategorikan dalam kelompok konsumtif mengubah gaya hidup menjadi lebih produktif secara ekonomi. Perubahan orientasi ini akan memberi pengaruh pada optimalisasi penggunaan listrik. Misalnya, pengalihan listrik yang tadinya untuk televisi pada alat-alat yang lebihfungsional seperti oven listrik, microwave, mesin jahit sebagai sarana memproduksi barang atau jasa. Pengalihan penggunaan energi listrik ini akan mengurangi konsumsi listrik yang sia-sia.

Adanya orientasi produksi dan penargetan profit akan memberi efek pada penggunaan energi listrik seoptimal dan seefisien mungkin. Jadi, slogan “hemat energi” yang digalakkan pemerintah akan menjadi baik jika ditafsirkan sebagai penggunaan energi secara efisien dan produktif. Kata “hemat” tidak lagi diartikan sebagai pemangkasan pemakaian energi. Pemangkasan energi seperti melakukan pemadaman bergilir bukanlah solusi yang tepat, mengingat hal ini tidak dapat dilakukan secara kontinu. Pemangkasan energi dengan mengurangi konsumsi listrik per rumah tangga pun merupakan hal yang mustahil dilakukan dan dikontrol. Dengan demikian, hal yang paling mungkin untuk “menghemat” energi yang sejatinya kekal ini adalah dengan efisiensienergi untuk kegiatan produktif.

Jika meninjau kembali hukum kekekalan energi, maka kata “hemat” kurang tepat untuk mengapresisi aliran kosmik yang dinamis ini. Penghematan hanyalah sebuah asumsi yang dianggap benar, sedangkan kekekalan energi merupakan keniscayaan peristiwa alam.

Anindita Prabawati

Sekretaris Umum LPM Kentingan 2015