Membahas tentang kartun atau yang di dunia perfilman lebih dikenal dengan istilah animasi, harus dipahami dulu bahwa kartun di Indonesia sudah ada sejak lama, tepatnya pada tahun 1955. Pada waktu itu, Indonesia sudah mampu membuat kartun atau animasi seiring dengan munculnya film berjudul “Si Doel Memilih” karya Dukut Hendronoto. Dari masa ke masa, animasi semakin berkembang di Indonesia lalu didirikanlah studio animasi di Jakarta oleh seorang warga Amerika yang bernama Anima Indah, hingga di era 80-an semakin maraklah kartun di Indonesia berkat berdirinya studio animasi film animasi tersebut. Berlanjut ke tahun 90-an, semakin menjamurlah film animasi Indonesia. Kala itu munculnya film animasi yang berbasis cerita rakyat seperti “Timun Mas” yang disutradarai Suryadi alias Pak Raden, saat itu beliau dinobatkan sebagai animator Indonesia yang pertama. Pada era 2000-an studio animasi Indonesia semakin banyak berkembang, film animasi pun banyak melahirkan inovasi yang lebih baik lagi, misalnya saja film animasi yang berjudul “Home Land”, film tersebut adalah film 3 dimensi yang pertama di Indonesia, dan sebagai tanda dimulainya babak baru bagi dunia peranimasian di bumi nusantara.

Dari perkembangan film Indonesia dari masa ke masa muncullah pertanyaan, mengapa di era sekarang ini malah film animasi Indonesia tidak menjamur di stasiun pertelevisian? Mengapa pula masih banyak memutarkan film-film animasi buatan jepang atau pun amerika? Padahal, film animasi kita sudah berkembang dari tahun 80-an dan sebenarnya tidak kalah keren dari film animasi buatan jepang atau pun amerika. Lebih parahnya lagi, film animasi dari luar tersebut ditayangkan pada jam-jam prime time yang bisa ditonton siapa saja, termasuk anak-anak. Bukan suatu masalah kalau film tersebut mengandung muaan edukasi, namun film animasi luar tersebut banyak yang bergenre dewasa/remaja dan cenderung tidak cocok ditonton oleh anak-anak, contohnya kartun “Sinchan”. Benar saja, “Shinchan” termasuk film animasi anak namun bahasan ceritanya tetap saja bergenre dewasa dan masih banyak lagi film animasi-animasi seperti yang dicontohkan dari hasil diskusi teman-teman LPM Kentingan UNS.

Untuk mengatasi hal tersebut, di samping peran primer orang tua untuk mengawasi tontonan anak, peran pemerintah pun tidak kalah pentingnya. Sudah seharusnya, pemerintah lebih memperhatikan tontonan kartun yang pas diputarkan terutama untuk anak-anak Indonesia, tidak hanya acara televisi saja yang disensor ataupun ditutup namun film animasi luar sekarang lebih diperhatikan dari segi penyiaran jam tayang atau pun genre yang tepat untuk ditayangkan. Selain itu, animator-animator Indonesia seharusnya juga mendapat ruang untuk memutarkan film asli dari karya anak negeri, lagi pula dari sejarahnya Indonesia sudah cukup banyak melahirkan film-film animasi, dan seharusnya di masa sekarang film animasi Indonesia sudah lebih mumpuni dan tidak kalah dengan film animasi luar negeri.

Film animasi Indonesia harus diberikan ruang selebar mungkin di waktu prime time terutama khusus di jam-jam anak menonton televisi, sehingga animator pun juga bersemangat untuk membuat film kartun yang layak untuk ditonton oleh masyarakat luas, dan pihak pemerintah lewat stasiun televisi swasta atau pun negeri pun tetap harus lebih memberikana presiasi penuh terhadap karya film animasi dalam negeri.

 

Data penulis:

  1. NamaLengkap                      : ARIENDA ADDIS PRASETYO (ADDIS)
  2. Tempat , TanggalLahir     : NGAWI , 15 JUNI 1996
  3. Domisili                                  : KABUPATEN PURWOREJO , JAWA TENGAH
  4. Sekolah                                   : UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
  5. Fakultas                                  : ILMU SOSIAL DAN POLITIK
  6. Jurusan                                   : PERPUSTAKAAN B (2014)
  7. NIM                                          : D1814012
  8. JenisKelamin                        : LAKI-LAKI
  9. Agama                                     : ISLAM
  10. E-mail                                      : [email protected]