Oleh: Dimas Alendra

Artis                       : Morgue Vanguard feat. Still

Album                    : Fateh

Tahun                    : 2014

Genre                     : Hip Hop

Record Label       : Grimloc

MENJELANG keruntuhan Orde Baru, beberapa musisi Indonesia melakukan kritik terhadap rezim ini. Koes Plus dan Iwan Fals – dua diantaranya – berakhir di balik jeruji. Dari bawah tanah, Homicide, grup hip hop asal Bandung yang digawangi Sarkasz, DJ E, dan Andre, merayap di bawah kaki panglima-panglima birokrat. Mereka langsung menggebrak dengan lagu pertama mereka, Godzkilla Necronometry. Tidak ada yang lebih nge-punk daripada Homicide.

Orde Baru runtuh, Homicide tak berhenti berkarya. Tapi pada 2007, eksistensi mereka terpaksa dimatikan. Homicide membubarkan diri. Alasan pembubaran Homicide hanya diketahui oleh mereka sendiri. Namun isu yang beredar, tekanan represif dari berbagai pihaklah yang membuat grup “berisik” ini membubarkan diri. “Hip Hop is dead!” kata Ucok kala itu.

Pada 2014, Ucok terpaksa menelan ludahnya sendiri. Untung, ludahnya terasa manis. Ia menggandeng Grimloc Record – label rekaman besutannya – dan seorang turntablist, Still, untuk membuat sebuah Collabo EP bertajuk Fateh. Sepuluh lagu dalam Fateh dipastikan membakar gendang telinga penikmat musik hip hop.

Tetap Melawan Arus

“Kami tak akan berhenti meski lapar mengetam, hingga udara yang kau hirup mengantar pesan sederhana tentang potret generasi akhir zaman yang kusam,” bacot Ucok, also known as (AKA) Morgue Vanguard, dalam lagu Fateh. Dengan tegas, Ucok memantapkan diri untuk turun ke dunia per-musikan alternatif. Ia masih ingin melawan arus. “Kami adalah generasi terakhir yang dapat dikooptasi oleh Nike,” bacotnya lagi. Ia emoh dengan konsumerisme, emoh dengan kapitalisme.

“… di parit parit kota, dimana doa tak lagi terdengar, dan mimpi mimpi hanya dimiliki mereka yang menguasai kotak suara, dan mereka yang dibisu-butakan, dihilang-paksakan, dan merancang blueprint di atas bangkai bangkai harapan.” (Kondor Terjaga).

Lirik di atas adalah kritik atas konflik kelas. Kelas bawah dan atas tak pernah akur. Dalam ketidakakuran, yang di bawah yang selalu nahas. “Darah” mereka terhisap “moncong” rakus penguasa tak beradab. Perhatikan pula lirik ini;

“ Jejak tirakat investor berjelapak, di ruang hidup yang di atur nasib di telapak, tangan kamar dagang yang memaksa bersepakat, dengan cetak biru konsultan Boston mengatur lapak” (Dol Guldur).

Ucok menggambarkan bagaimana para Investor dengan modal tak terbatas dapat melakukan apa saja. Melakukan penggusuran, perusakan lingkungan, dan pembatasan ruang gerak masyarakat tanpa adanya kata sepakat atas nama keuntungan semata. Laiknya kasus yang menimpa masyarakat Samin dan sekitarnya. “Persetan sumpah pemuda, satu tanah air kami yang dijajah pemerintah, disodomi korporasi” (Manufaktur Pre-Teks).

Lirik-lirik di atas tak jauh berbeda dengan lirik-lirik Homicide. Seperti pada lagu pertama yang berjudul Volume 1, Bagian 8, Bab 32 yang diambil dari Kapital karya Karl Marx yang kurang lebih berbunyi “akumulasi primitif memainkan peran yang sama dalam ekonomi politik, seperti halnya dosa awal dalam teologi”. Selain itu ada juga lagu yang berjudul Kepada Kawan yang tak lain ditulis oleh Chairil Anwar dalam antologi puisinya 1942-1949 Aku Ini Binatang Jalang.

Bagi para pecinta Homicide, pasti akan merasakan perbedaan suara Ucok yang dulu dan sekarang. Vokal “Si Raja Bacot” yang dulu begitu keras terdengar sedikit melembek. Entah akibat asap tembakau atau karena ia tak lagi muda. Selain itu dalam EP ini Ucok sedikit mengurangi tempo ucapannya dibandingkan sewaktu bersama Homicide. Sehingga bagi orang awam yang tidak bermulut cepat masih dapat mengikutinya.

Satu hal lagi yang tidak boleh diremehkan yaitu penampilan Still dalam EP ini sebagai pemain turntable dan gitar. Kemampuannya melakukan mixing teruji saat menggubah turntable dengan kutipan narasi berita dari berbagai dokumentasi tentang perlawanan rakyat hingga menciptakan sebuah lagu “Tak Terbayang di Roban Batang.” Lagu yang bercerita tentang perlawanan rakyat Batang terhadap pembangunan PLTU. Selain itu permainan gitar Still pada album ini juga sedikit mengingatkan saya terhadap terhadap My Bloody Valentine dengan ciri khas efek noise/shoegaze.

Karya Ucok dalam EP ini sangat cocok bagi pendengar yang rindu akan Homicide dan musik perlawanan yang sudah sangat jarang terdengar. Atau pecinta musik yang mencari alternatif saat musik rap Amerika didominasi oleh konsumerisme dan hanya berkutat pada wanita, seks, dan fashion semata. Di tengah banyaknya masyarakat yang begitu apatis terhadap isu sekitar karena lebih sibuk mempercantik diri, musisi-musisi seperti ini secara perlahan akan mampu membangkitkan kesadaran kolektif dan semakin memahami peran kita dalam negara.

“Sepadan Kekekalan, Sepadan Kegagalan, Sepadan kekekalan, Sejahat kemiskinan” (Kondor Terjaga).

(foto dilansir dari gigsplay.com)


Dimas AlendraDimas Aji. Pernah dianggap aneh saat sekolah karena memiliki selera musik yang nyeleneh dari orang kebanyakan. Masih berharap suatu hari nanti bisa menonton Deafheaven dan Sajama Cut secara langsung. Surel: [email protected]