Oleh: Ririn Setyowati

Judul                : Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX

Pengarang      : Peter Carey dan Vincent Houben

Penerbit          : Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal                : 128 halaman

Tahun terbit  : 2016

“Sang penari, yang kerasukan, dibawa ke Proboyekso (kediaman pribadi raja), di mana putri belia itu disetubuhi oleh Susuhuban dalam suatu ritual yang mengingatkan rayuan asmara antara Senopati dan Ratu Kidul (hlm. 15).

MASUK ke abad 20, kelamin, bukan lagi hal yang dianggap mengkhawatirkan. Entah laki-laki atau perempuan, mereka sama saja. Paham maskulinitas dan feminis pun berangsur kabur oleh zaman. Inilah pengarusutamaan kesetaraan jender yang kerap didengungkan masyarakat modern. Keadilan dan non-diskriminasi, begitulah sekiranya. Maka tak jarang perempuan berparas ayu sliwar sliwer di kantor, menjadi buruh atau sekedar mikul bakul di pasar. Pabrik-pabrik pun tak kalah ramai dengan perempuan, berangkat pagi dan pulang hampir malam. Nyatanya, laki-laki malah hampir kelewat kalah. Buktinya, pukul empat hingga lima sore, suami-suami pembawa motor sudah bersiap menjemput perempuannya di depan pabrik. Keadilan atau pengambil alihan peran? Perempuan memang luar biasa!

Sayangnya, keunggulan perempuan kekinian jarang ditemukan pada era kolonialisme. Lebih jauh lagi, ketika perang Jawa belum berkecamuk, saat kaum-kaum feodalis masih tersebar luas di seantero negeri. Serta raja-raja masih berkuasa dan saung-saung masih awet berdiri di desa-desa. Perempuan kala itu hanya bertengger di kasta ke dua setelah laki-laki – bahkan dibawah telapak kaki laki-laki. Budaya pengukuhan maskulinitas (laki-laki) yang dikonstruksikan oleh masyarakat tertanam kuat. Perempuan hanyalah perempuan, objek pemuas nafsu kalangan lelaki bangsawan hingga kroco-kroco raja. Selebihnya, hampir tidak ada. Perempuan tetap saja sensual. Konco wingking (teman tidur), begitu kata Peter.

Menitikberatkan pada feodalisme Jawa Selatan, Peter dan Vincent fokus pada nasib sensualitas para perempuannya. Dalam karya Perempuan-Perempuan Perkasa, bahkan disebutkan bahwa Istana Mataram pun mengikuti tradisi mengoleksi perempuan. Keputren sesak oleh permaisuri, selir beserta dayang-sayang milik Raja. Para tledhek (penari) bahkan budak ayu dapat ditemukan di setiap sudut ruangan. Bak etalase, perempuan-perempuan itu sibuk bersolek menunggu, dipilih dan di boyong jadi konco wingking. Hal tersebut, turut mengukuhkan ungakapan Mochtar Lubis dalam bukunya, Manusia Indonesia, bahwa “… raja tidak lain merupakan despot-despot perwakilan dewata atau Tuhan. Raja bebas membunuh, memakai pakaian berbeda dan mewah, disakralkan bahkan untuk membuka keperawanan gadis yang dikawinkan” (2008: 16). Jadi, telah jelas bukan. Siapa yang berani menolak perintah raja?

Sayangnya, keagungan raja-raja Jawa – dengan melupakakan kediktatorannya, begitu mahsyur dan turut memikat nafsu para ibu dan bapak sang gadis ningrat ataupun desa. Bahkan bukan raja pun tak apa, yang penting darahnya masih bernafaskan “warna biru.” Ujungnya tetap kepentingan politik keluarga, yaitu dengan mengikat tali perkawinan dengan paksa. Jalan lain bagi perempuan di luar garis keningratan malah lebih nahas. Mereka tak banyak diajarkan pendidikan menjahit, membordir atau bahkan menulis. Orang tua mengajarkan anak gadisnya bersolek dan bersikap malu-malu di hadapan laki-laki bangsawan. Pipinya dibuat merona dan pakaiannya yang menampilkan payudara hampir telanjang. Berlagak sopan dan bertingkah laku pantas, hingga akhirnya dapat menarik minat sultan atau raja agar dijadikan perempuan piaraan (hlm. 46-47).

Begitupun para tledhek (penari) yang dengan semena-mena dapat diambil raja sebagai teman teman tidur. Terlebih dalam tari Bedhoyo Ketawang, tarian klasik dengan sempilan penari didalamnya, yang dipercayai salah satunya dapat kemasukan roh Nyi Roro Kidul. Dengan memadukan aspek mistik dan sensual, raja dapat melihat langsung siapa putri penari yang harus diambil, sebab ada semacam cahaya kehijau-hijauan yang menyala redup dari vaginanya, sesuatu yang mengingatkan kita pada simbol “gua garba yang bercahaya” seorang Ken Dedes atau Putri Padjajaran. Mengisyaratkan makna “panas” pada seorang perempuan. Orang Jawa percaya, menyetubuhi penari yang kemasukan akan menjamin kedamaian kerajaan.

Maka, entah bagi perempuan ningrat maupun perempuan jelata, masalah cinta bahkan terlalu haram untuk dipersoalkan. Cinta tak ada apa-apanya dengan mimpi untuk berdarah biru. Bagi mereka, tiada cita lain selain menjadi keluarga istana. Setidaknya, telah ditiduri raja sudah syukur.

Perempuan masa kini patutlah berbangga diri, kehadirannya telah diakui, dan jalan hidup bisa pilih sendiri. Namun, sensualitas yang diekploitasi tetap ada, bahkan semakin berkembang karena kemauan perempuan sendiri. Tak perlu paksaan orang tua untuk bersolek mempercantik diri, gincu sudah laris dengan sendirinya tanpa perlu dipaksa beli. Perempuan sudah bisa memilih dengan prasyarat cinta, tak hanya karena tahta dan harta. Ungkapan surga ditelapak kaki ibu menjadi sabda kebaikan atas nama agama, tempat “Ibu” sudah bukan zamannya ditelapak kaki bapak.  Cara pandang dunia relatif berubah. Tapi sayang, telaah sejarah perempuan tak begitu digubris kaumnya. Akibatnya, eksploitasi diri perempuan masih terjadi, perempuan tetap dijadikan objek pemuasan indra lelaki, hanya saja, eksploitasi terjadi tanpa pemaksaan pihak lain. Atas nama cantik dan naluri perempuan, bersolek dan “jual diri” di media masih berlabel halal.

Buku “Perempuan–perempuan Perkasa” mengulas kelam masa lalu perempuan, bagaimana sensualitas digali  atas nama kekuasaan. Mungkin generasi baru perempuan perlu membaca beberapa bab di buku ini, kalau perlu semua. Bukankah jatuh ke lubang ke sama adalah suatu kebodohan?[]


Ririn SetyowatiRirin Setyowati. Seorang mahasiswi pembelajar pesan. Sering dikatakan terlalu belia dan belum pantas. Namun, menepis stempel dini bukan merupakan hal yang salah. Mencoba mengimplikasikan ‘manusia bermoral’ seperti apa yang diharapkan Moctar Lubis dalam pahamnya. Surel: [email protected]