Senin, tanggal 25 Maret 2013, Kelompok Kerja Teater Tradisional Wiswakarman atau singkatnya KKTT Wiswakarman mengadakan sebuah pentas di teater arena Taman Budaya Jawa Tengah. Meskipun pentas ini bisa dibilang pentas kecil, tetapi persiapan baik dari para pemain, pengrawit, dan panitia pentas benar-benar maksimal. Latihan yang hanya sekitar sebulan sebelum pentas dengan hasil yang bisa dibilang sangatlah bagus.

Alfath Noke Nugraha, sang sutradara didalam pementasan teater ini mengatakan bahwa dalam melakukan latihan selama kurang lebih sebulan pasti ada banyak kendala, seperti pemain yang tidak bisa lengkap ketika latihan dikarenakan kesulitan menyamakan jadwal tiap pemain ketika akan melakukan latihan. Biasanya latihan dilakukan dua minggu sekali. Ketika hampir menjelang pentas, intensifikasi latihan mulai ditingkatkan yaitu dua kali dalam seminggu. Dan juga ketika melatih para pengrawit bersama dengan pemain untuk menyamakan nada gamelan dengan suasana di suatu adegan tertentu. Riwus, salah seorang pemain teater Wiswakarman berpendapat bahwa Wiswakarman biasanya tidak terlalu mementingkan proses dalam latihan, tetapi langsung saja ketika tampil para pemain spontanitas dengan adegannya. Kesulitan lainnya adalah setting tunggal padahal banyak sekali bagian-bagian dari adegan. Setting tunggal adalah tatanan setting hanya terdiri dari satu tempat dan tidak berubah. Jadi, hanya menggunakan dialog agar bisa membedakan suasana ketika berada di arena teater.

Didalam pentas ini, sang sutradara memfokuskan agar para pemain yang mendominasi ketika pentas. Peran pengrawit tidak terlalu diekspos secara berlebihan. “Karena peran pengrawit sesungguhnya adalah hanya sebagai pengiring pentas”, ujarnya. Meskipun begitu, pada akhirnya pentas berjalan lancar dan sukses. Kesan dari sang sutradara beberapa saat sebelum pentas adalah sangat kagum karena antusiasme penonton yang memadati tempat duduk di teater arena. Selain itu ada sedikit kekhawatiran dari sang sutradara jika saja hujan, maka pengunjung yang datang pasti sedikit. Apalagi hujan jelas mengganggu jalannya pentas karena air hujan yang bergemericik pada genteng teater. Tetapi untungnya hujannya tidak diwaktu pentas. Dan kesan setelah pentas dari sang sutradara adalah lelah dan senang karena penonton yang setia menonton sampai adegan berakhir. Sang sutradara telah membuat alur adegan supaya endingnya sulit ditebak sehingga para penonton penasaran akan endingnya. Dalam pembuatan naskah, sebenarnya sang sutradara telah merencanakannya selama setahun. Dan hanya butuh sekitar tiga malam untuk menulisnya. Karena sang sutradara sendiri telah berulang kali menjadi sutradara atau pemain dalam suatu pementasan. Teater yang bercerita tentang konflik di daerah perbatasan ini menurut mayoritas penonton sangatlah bagus.

Salah satu ciri khas teater Wiswakarman adalah banyak adegan-adegan yang lucu dan pasti mengundang tawa penonton. Teater tradisional juga bisa disebut teater yang merakyat karena penonton bisa ikut campur dengan dialog pemain. Istilahnya banyak dhagelan di teater tradisional. Dan inilah yang membuat Wiswakarman mempunyai keunikan tersendiri. Sukses untuk seterusnya dan teruslah berkarya. Wiswakarman. Sepisan Sedulur Selawase Sedulur. (Henri)