Sabtu (6/4) rintik hujan dan lilin-lilin kecil yang berbaris, mengiringi langkah kaki para penonton menuju aula SMA Negeri 4 Surakarta. Daun-daun berserakan di tiap-tiap anak tangga. Antrian yang panjang terjadi di tengah kegelapan. Tiba-tiba seorang waria datang dan menggoda pria yang sedang minum di angkringan, tanda dimulainya pertunjukan.

Pentas malam itu berkisah tentang malangnya nasib jatmiko yang tak kunjung mendapat pekerjaan setelah sebulan merantau di kota metropolitan. Lebih sialnya lagi, ketika ia akan pulang ke kampong, kereta yang ditungganginya mengalami kecelakaan. Barang bawaannya raib, termasuk satu-satunya ijazah SMA yang menjadi modal mencari kerja. Jatmiko pulang dengan tangan hampa. Hanya tetes air mata yang dihadiahkan kepada ibu dan adiknya, Atun.

Penonton tenang mengikuti alur adegan demi adegan. Rasa frustasi Jatmiko membawanya pada khayalan-khayalan yang ngawur. Jatmiko ingin membiayai ibunya untuk naik pesawat dengan uang hasil penjualan sawah keluarga. Harapannya satu, Jatmiko dan Atun akan memperoleh uang santunan sebesar satu milyar jika pesawat yang ditumpangi ibunya jatuh.

Pentas tahunan teater Golek dengan lakon ”Momati” kali ini terasa lebih special. Hal ini karena drama-drama yang terjadi di belakang panggung. Setelah melakukan persiapan sekitar dua bulan, pada h-9 diputuskan untuk ganti naskah. Selain itu, ketika pementasan akan dimulai tiba-tiba saja ada konsleting kabel tata cahaya panggung mereka. Sehingga para penonton terpaksa menunggu beberapa saat. Judul Momati sendiri merupakan singkatan dari Montor Mabur Tibo.

Tepuk tangan penonton mengakhiri pentas malam itu. “Setiap pementasan itu pasti ada perbedaannya,” tukas Didik Panji sang sutradara. Pasalnya, tahun lalu naskah ini pernah ia garap bersama teater Dong SMA Negeri 7 Surakarta. (Hanputro)