Pembicara : Udji Kayang Aditya Supriyanto

Saat ini gambaran penddikan di Indonesia memang cukup ironis. Pelajar Indonesia telah bertemu Tuhan-Tuhan baru. Tuhan yang Maha Tahu, dimana kekayaan ilmunya tak menerima interupsi serta menolak kritisi. Pelajar hanya bisa menelan mentah apa yang disampaikan oleh Tuhan-Tuhannya tanpa mampu mengolahnya terlebih dahulu. Tak pelak kultur itu menjadikan pelajar sulit untuk mengembangkan pemikirannya. Lantas siapakah Tuhan-Tuhan baru itu? Tentu saja mereka yang dinamakan “guru”. Tidak berlebihan kiranya bila saya menyebut guru seperti Tuhan baru. Pendidikan kita masih menempatkan guru sebagai penguasa, tepatnya yang Maha Kuasa. Terlebih lagi seperti yang telah disampaikan di awal, mereka merasa Maha Tahu dan tidak pernah memberi kesempatan muridnya untuk mengoreksi apa yang guru sampaikan.

Mudah kita temui di berbagai wilayah negeri ini sistem pendidikan yang guru-sentris. Dimana guru menempati posisi sebagai subjek, dan pelajar sebagai objek. Dengan kata lain, pelajar kita “dibendakan” oleh guru-gurunya. Maka pelajar kita “ada” dan belajar bukan sebagai kesadaran diri, melainkan sebagai objek doktrinasi para guru. Itu menandakan pelajar kita belum menjadi manusia yang paripurna karena tidak memiliki subjektivitas. Dalam hal ini subjektivitas diartikan sejauh mana manusia memahami eksistensinya sebagai subjek, berkaitan dengan kesadaran dirinya. Jean Paul Sartre, seorang filsuf eksistensialis asal Perancis mengategorikan subjektivitas manusia menjadi dua. Pertama etre en soi (berada dalam dirinya), artinya segala sesuatu yang tidak memiliki kesadaran, tidak mampu menyusun tujuan hidupnya sendiri, tujuan keberadaannya sepenuhnya ditentukan oleh eksistensi lain.

Di ranah pendidikan Indonesia, subjektivitas pelajar sifatnya etre en soi. Mereka belum memiliki kesadaran untuk apa dan bagaimana mereka belajar. Acap kali mereka belajar hanya untuk mendapat pekerjaan, bukan demi pengetahuan. Parahnya cara yang ditempuh bukan dengan cara yang cerdas, melainkan hanya patuh, karena dengan cara itu mereka bisa mendapat nilai baik. Dalam hal ini pelajar perlu berbenah, mereka harus memupuk kesadaran dirinya agak tidak terus menerus “dibendakan”. Coba kita ingat hukum kelembamam Newton, bahwa suatu benda tetap dalam keadaannya yang diam atau bergerak lurus hingga ia dipaksa mengubah keadaan itu oleh gaya yang memengaruhinya. Maka ketika pelajar hanya sekadar patuh tanpa memiliki inisiatif untuk berpikir mandiri, tak ubahnya ia seperti benda mati.

Kategori kedua adalah etre pour soi (berada bagi dirinya), artinya segala sesuatu yang memiliki kesadaran, dalam hal itu manusia sendiri. Dengan kesadaran tersebut manusia dapat menyusun tujuan hidupnya, memaknai diri sendiri sesuai kehendaknya, bahkan memaknai pihak lain. Idealnya pelajar berada dalam kondisi seperti ini, etre pour soi. Belajar adalah omong kosong bila dijalani tanpa sadar. Belajar adalah suatu perjalanan, maka sudah barang tentu pelajar harus memiliki tujuan. Begitu pula dengan para guru, mereka wajib memandu pelajar untuk memaknai dirinya, bukan justru membatasinya. Guru pun dirasa perlu menyampaikan berbagai perkara esensial yang mampu menggugah pemikiran para pelajar. Jadi kelas bukan hanya sebagai belenggu yang mengikat para guru dan pelajar dalam suatu ikatan yang disebut kurikulum. Sesungguhnya hakikat belajar lebih dari itu. Lantas siapa yang salah?, pemerintah?, guru?, atau siswa?. Pemerintah yang memegang peraranan dalam mengatur maupun mengawasi pendidikan di Indonesia. Atau guru sebagai pelaku pendidikan dalam perannya sebagi pendidik, orang yang membagikan ilmunya. Atau siswa yang menerima  materi dari seorang guru.

Menurutmu bagaimana? (Faaqih)