Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto

 

BEBERAPA WAKTU yang lalu, aku memutuskan makan siang (sore sih sebenarnya) di warung makan Ayam Geprek Kumlot. Aku makan ke sana hanya karena warung makan langgananku sedang tidak buka saja. Sebetulnya aku memang tidak selalu suka makan ayam geprek. Sering kepedasan, sekalipun jumlah lombok aku sendiri yang menentukan. Tapi, aku dan ayam geprek punya sedikit kesamaan; kami sama-sama pedas dan kumlot.

 

Namun, saat aku sampai ke warung makan itu, betapa terkejutnya aku menjumpai sampah visual berwujud poster salah satu Calon Presiden Badan Eksklusif Mahasiswa (BEM), Universitas Nubuat Supersemar (UNS). Hanya ada satu calon yang berposter di sana. Ya, itu wajar saja sih, biasanya juga begitu: satu calon dikampanyekan dengan riuh, sementara calon lainnya sekadar pantas-pantas, biar tidak terjadi pencalonan jomblo, eh tunggal.

 

Aku baru sadar kalau di Universitas Orde Baru sedang musimnya Pemilihan Raya (Pemira). Raya, seperti bus antar kota. Kukira, setelah aku selesai sebagai mahasiswa, Pemira juga ikut selesai. Habis, aku merasa pagelaran itu sekadar seremonial belaka sih, sekadar kepantasan semata. Toh, berapa kali pun Pemira diadakan, yang menang pasti dari kubu “itu.” Topengnya bisa dengan partai kampus mana saja, isinya tetap sama. Ora percoyo? Lha mbok dibyak.

 

Aku sering terheran-heran sendiri, mengapa organisasi eksternal kampus “itu” masih eksis dan selalu datang sebagai pahlawan bertopeng di setiap penyelenggaraan Pemira. Padahal sejak akhir tahun 1979, organisasi eksternal dianggap sudah tidak relevan dan sudah tak bisa lagi menampung aspirasi mahasiswa (Tempo, 8 Desember 1979). Selain itu, kehadiran organisasi eksternal membuat politik kampus tidak sehat, dan kalau boleh menambahkan: tidak mencerdaskan sama sekali. Mustahil ada pencerdasan dalam tiap-tiap upaya dominasi dan monopoli kekuasaan.

 

Sebagai penggemar musik-musik cadas, tiap berjumpa momen pemilihan apa pun, aku selalu ingat sebuah tembang berjudul Pil Malu (2006). Tembang itu garapan orkes musik kenamaan asal Bandung, /rif, yang termaktub di album berjudul sama. Syairnya kira-kira begini:

 

kau yang telah memilih aku

kau juga yang sakiti aku

kau putar cerita

sehingga aku yang salah

 

Maaf, sepertinya ada kesalahan teknis. Itu bukan tembang /rif yang kumaksud, namun tembang patah hati biduan Mie Sedaap White Curry yang terinspirasi dari Anang Hermansyah. Sungguh, Anang memang menginspirasi, meskipun tidak inisiatif. Syair tembang Pil Malu yang lebih tepat seperti ini:

 

pemilihan manusia yang nggak punya malu

yang cara pikirnya cuma pakai anu

pidato isinya cuap-cuap melulu

tapi akibatnya orang pada diadu

hei, Pil Malu, lo orang apa benalu?

 

Syair tembang /rif ada benarnya. Para calon yang mengikuti Pemira, umumnya memang orang-orang yang nalarnya sebatas anu. Maksudnya, ya anu, kamu mengerti kan anu itu yang bagaimana? Soal pidato, ini sangat tepat. Sepanjang menyimak pidato-pidato capres-cawapres BEM UNS, terkhusus dalam agenda debat, komposisinya kira-kira 95% bualan retoris dan 5% jeda-jeda pendek untuk mengatur napas. Ada tembang lain yang keren lho soal pidato, yang dibikin dan dinyanyikan oleh Sisir Tanah: Pidato Retak. Syairnya kira-kira begini:

 

pidato-pidato presiden retak

tertusuk-tusuk dusta, teriak-teriak

tertambat sunyi, letih mengarung urat

sengsara rakyat berdayung lapar

di deras arus air mata

 

Ada lagi satu tembang yang cocok diperdengarkan di masa-masa Pemira ini, yaitu Bantulah Kami Melihat (2001) yang dikarang oleh Koil. Sebetulnya aku tak yakin amat sih kalau Koil mengarang betulan lagu itu. Sebab, konon Koil merangkai syair dengan mengkliping kata-kata dari majalah. Terlepas dari bagaimana Koil menggarapnya, syair yang tertulis adalah demikian:

 

harapan kerinduan

kelahiran akan

menjadi mimpi kami

menangisi zaman

surat ini, sogokan ini

tak akan mampu membeli

peran yang kau harapkan

 

Tembang Koil sangat relevan bila dipakai untuk memandang perpolitikan negeri. Namun, dalam konteks politik mahasiswa, tentu kasusnya agak berbeda. Mahasiswa tak main duit dalam politik kampus, melainkan bermain pengaruh, yang didakwahkan lewat halaqah-halaqah.

 

Baik, setelah melantur ke sana-sini, aku bocorkan saja gagasan utama tulisanku ya! Intinya adalah daripada kamu-kamu mengurusi Pemira (aku juga demikian, diminta redaktur menulis tentang hal tak penting ini), lebih baik mendengarkan sekian tembang yang membikin hidupmu tenang, nalarmu terang, hatimu senang, dan badanmu goyang. Maka, tulisan pendek tidak jelas ini pun hendaknya ditutup dengan tembang asyik yang masih tentang Pemira. Tembang berikutnya, Satu atau Dua (2012) dari Gamma1:

 

satu atau dua

pilih aku atau dia

yang engkau suka

satu atau dua

pilih aku atau dia

yang engkau cinta

 

Demikian, kepada para mahasiswa yang merindukan kejayaan, selamat memilih calon-calonmu. Kamu boleh pilih Agus-Silvy, Ahok-Djarot, atau Anies-Sandiaga. Lha nggih. []


Udji KayangUdji Kayang Aditya Supriyanto. Penggemar musik-musik cadas, terutama rock Jepang seperti X Japan, Dir en Grey, Maria Ozawa, dan sebagainya.