“Pasar Klewer, bangkit!”

Itulah teriakan yang terus didengungkan saat aksi yang dilakukan oleh mahasiswa, di sebelah utara dari Pasar Klewer. Aksi yang menyerukan Pasar Klewer untuk bangkit dari keterpurukan pasca terbakar pada Sabtu (27/12/2014), itu juga diikuti oleh Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) dan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI). Aksi yang dilakukan pada Kamis (1/12/2014) mulai pukul 20.00 WIB ini dilaksanakan dengan khusyuk dan damai.

Aksi kali ini dibagi menjadi beberapa sesi. Sesi pertama pembubuhan cap tangan berwarna merah di sebuah kain putih oleh para peserta, lalu semua peserta harus mengenakan pita hitam sebagai tanda berkabung atau berduka. Puluhan cap tangan berhasil  terkumpul. Masing-masing duduk melingkar menempatkan diri dengan sebuah lilin di depan mereka.

Teriakan semangat dan motivasi didengungkan oleh Dede Junaedi, mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) yang mengatakan bahwa Pasar Klewer sangat penting bagi masyarakat terutama di Solo.

“Mahasiswa tidak tinggal diam melihat kejadian ini, kami akan membantu sebisa kami,” tuturnya.

Di salah satu kesempatan, Drs. Darojatun, seorang sejarawan, menceritakan sejarah Pasar Klewer. Dibangun sekitar tahun 1960, pasar ini seharusnya kuat hingga seratus tahun sejak dibangun. Namun, baru 44 tahun berdiri, pasar tekstil terbesar di Kota Solo ini hancur terbakar. Pamor pasar ini juga sudah mendunia.

“Terbukti ketika saya sedang umroh kemarin, para jemaah di Masjidil Haram membicarakan tentang terbakarnya Pasar Klewer,” tambah Darojatun.

Perlu diketahui juga bahwa pasar yangterletak disebelah selatan Masjid Agung Solo ini sudah diproyeksikan untuk menjadi cagar budaya di Solo.

“Tujuh tahun lagi pasar ini sudah menjadi cagar budaya di Solo,” ujar Rizka Febriliani, mahasiswi Pendidikan Dokter UNS.

            Pasca hangus terbakar kemarin, HPPK dibantu relawan melakukan pendataan ulang terhadap pedagang di Pasar Klewer. Relawan ini berasal dari kalangan mahasiswa, sarjana, juga volunteer dari Bakti Nusa. Rencananya, para relawan masih akan membantu di pasar ini hingga dua tahun kedepan atau setelah Pasar Klewer direnovasi.

Harapan

Tentu banyak doa dan harapan ditujukan untuk pasar yang sudah berdiri lebih dari empat puluh tahun ini. Harapan pertama datang dari para pedagang. Mereka berharap agar proses pembangunan Pasar Klewer secepat mungkin selesai.

“Kami berharap agar Pasar Klewer direlokasi ke Alun-alun Utara. Karena selain agar tidak terlalu jauh dari lokasi pasar sebelumnya, juga untuk mensinergikan antara Keraton, Masjid Agung, dan Pasar Klewer,” ujar Bambang, pedagang perwakilan dari HPPK.

Titis W S, mahasiswi yang menjabat sebagai Menteri Sosial dan Masyarakat(Sosmas) Badan Eksekutif Mahasiswa(BEM) UNS, mengatakan bahwa Pasar Klewer sudah sangat melekat dengan Kota Solo.

“Keramahan pedagang yang ada di Pasar Klewer sangat kita rindukan. Kita juga ingin melihat kembali senyum pedagang saat menawarkan dagangannya, atau kebahagiaan pedagang saat dagangannya terjual,” kata Rizka.

Pembicara terakhir, Eka, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) UNS turut mengungkapkan harapannya.Menurutnya, Pasar Klewer yang kini menjadi saksi bisu tragedi kebakaran, tidak memicu masyarakatuntuk terus larut dalam keterpurukan setelah bencana.

“Saya berharap, orang-orang berpikir positif dan kedepan agar pasar ini dapat terus berdiri dan tetap menjadi salah satu ikon di Kota Solo. Klewer harus bangkit!” pungkas mantan Wakil Presiden BEM FMIPA UNS ini. (Gilar, Fika, Thea)