lpmkentingan.com—Semarak tujuh belas Agustus seolah berhenti denyutnya di lapangan upacara. Tempat parkir di kawasan Balai Soedjatmoko (17/8) yang berada satu kompleks dengan sebuah toko buku tersohor di Solo nampak lengang. Dapat dirasai betapa lengangnya jalanan yang menghubungkan toko buku dengan ruang utama di mana pameran Wayang Potehi digelar. Wayang-wayang Potehi ini dibawa langsung dari Gudo, Jombang, Jawa Timur. Salah satu daerah yang begitu konsen terhadap perkembangan Wayang Potehi di Indonesia.

Pameran Wayang Potehi merupakan satu di antara serentetan agenda Balai Soedjatmoko yang diadakan oleh Bentara Budaya. Wayang Potehi adalah salah satu kebudayaan Tionghoa yang sudah cukup akrab dengan Indonesia. Setelah tiga dekade dalam rezim Otoriter Orde Baru sempat dilarang berkembang karena dianggap tidak sesuai dengan bangsa. Sejak Reformasi 1998 hingga kini, wayang asli dari daratan Tiongkok ini seringkali dimainkan di kelenteng berdasarkan hari dalam hitungan-hitungan khusus Konghucu. Seperti beberapa waktu lalu, pementasan Wayang Potehi sempat digelar di kelenteng kawasan Pasar Gede Solo.

Puluhan wayang terjajar sedemikian rupa memenuhi Balai Soedjatmoko. Konon kesenian Wayang Potehi sendiri muncul dari latar belakang sejarah di Tiongkok. Di mana pernah ada peperangan besar antara Tiongkok melawan dunia barat dan timur. Di antara yang berjejer, bisa ditemui sosok kera putih yang terkenal dengan sebutan Chu Pat Kai, Sun Go Kong, serta beberapa tokoh terkenal lain.

Nampaknya sudah menjadi rahasia umum, menyoal jumlah pengunjung pameran-pameran seni yang seolah tidak pernah lebih banyak dibanding penonton konser musik katakanlah. Hal ini juga terjadi dengan Pameran Wayang Potehi. Memasuki hari kedua setelah pembukaannya pada 16 Agustus lalu, pengunjung bebas bergerak dan mengambil pose-pose untuk kepentingan berfoto sebab minimnya yang datang.

“Dibanding kemarin, hari ini lebih rame sih mbak,” tutur Ayas, penjaga buku tamu yang di mejanya juga memamerkan katalog Wayang Potehi serta kaos bertajuk Wayang Potehi. Satu katalog dihargai 10.000 rupiah. Sedang untuk satu buah kaos dihargai 100.000 rupiah. Beberapa wayang potehi yang terjejer dalam pameran juga bisa dibeli dengan kisaran harga satu jutaan.

“Ini tadi habis beliin buku anak, terus mampir ke sini,” ungkap Hendro, lelaki asal Karanganyar yang sedang asyik menemani anaknya yang berusia tiga tahun riang berlarian di sepanjang ruang pameran.

“Saya seneng ya ada pameran kayak gini. Soalnya dari kecil saya suka Wayang Potehi. Ini seharusnya juga ditampilkan senjata-senjata yang biasanya digunakan, seperti tombak. Tapi ini nggak ada. Acara semacam ini kan baru. Ya mungkin untuk ke depannya,” kata Budi Wijaya, salah seorang pengunjung asal Solo dengan memperagakan bagaimana tokoh wayang potehi saat berada di atas panggung pemetasan.  (Ifa, Arini)