lpmkentingan.com-Alunan musik gamelan memenuhi Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari, Rabu (02/12) malam. Penonton sudah memenuhi bangku khusus penonton bagian depan sesaat sebelum para tokoh wayang orang muncul, sekitar pukul 20.30 WIB. Pemandangan terlihat sedikit berbeda, tampak beberapa remaja hadir menonton pagelaran wayang orang Sriwedari.  Beberapa dari mereka datang bersama pasangan ataupun dengan teman.

Hiburan wayang orang bagi sebagian remaja kini memang dianggap sebagai sesuatu yang kurang menarik. Salah satu penonton muda, Yunita Prihatiningsih yang hadir menonton wayang orang berpendapat bahwa peninggalan budaya Indonesia semakin ditinggalkan oleh remaja sekarang. “Budaya sendiri nggak diperhatiiin, tapi sama budaya orang lain suka. Sekarang kan banyak budaya bahasa dari luar tapi sebaliknya bahasa Jawa sendiri malah nggak bisa, kan geli ngeliatnya,” ujar Yunita. Yunita mengaku, ia lebih sering menonton pagelaran wayang daripada menonton film di bioskop. “Frekuensinya bisa kadang dua hari sekali atau seminggu sekali. Ceritanya kan lucu juga, nasihat buat hidup juga banyak,” jelasnya.

Tradisi nyawer juga terjadi saat pagelaran wayang orang Sriwedari. Sawer adalah ulah penonton yang memberikan uang atau sebagainya di acara hiburan rakyat atau hiburan pesta pernikahan sebagai bentuk apresiasi kepada pemain. “Kalo sawer kita kasih sesekali kalo nonton. Biar budaya Jawa tetap eksis,” tutur penyawer saat pagelaran, Dinamit. Dinamit dari Semarang mampir karena penasaran melihat seperti apa pagelaran wayang orang Sriwedari di Surakarta dibandingkan dengan Semarang.

Keberadaan Wayang Orang Sriwedari

Pagelaran wayang orang di Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari digelar setiap Senin sampai Sabtu. Minggu menjadi hari libur karena sebagian besar dari pemain adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki sistem tata kerja yang sama seperti Pegawai Negeri Sipil (PNS). Cerita yang dipentaskan berasal dari cerita peninggalan sesepuh-sesepuh Sriwedari. Konon, ada beratus-ratus cerita yang ditinggalkan para sesepuh.

“Kita cuma melanjutkan apa yang ditinggalkan empu-empu zaman dulu, jadi kalau sebulan ada 30an hari, cerita-cerita yang kami miliki lebih-lebih. Tak pernah kekurangan cerita. Kemudian, wayang orang itu lak bukan cuma tontonan, tapi juga tuntunan,” terang Sulistyanto, sutradara pagelaran wayang orang bertajuk Bambang Pramudya yang dipentaskan Rabu (02/12) malam.

Bambang Pramudya bercerita tentang Arjuna yang mendapat perintah untuk menjadi Bambang Pramudya. Sepeninggal Arjuna yang telah berubah menjadi Bambang Pramudya, Sembrada mengalami banyak godaan. Hal ini menyebabkan Prabu Baladewa marah dan ingin mengawinkan Sembrada dengan Burisrawa. Setelah penyamaran Arjuna sebagai  Bambang Pramudya usai, Prabu Baladewa menyadari dan merasa bersalah karena menyangsikan cinta Arjuna kepada Sembadra. Akhir cerita, Baladewa mengakui kesetiaan cinta Arjuna pada Sembadra.

Pementasan usai, seluruh pihak yang berperan dalam pagelaran wayang orang Sriwedari menuju ruang belakang panggung. Mereka nampak begitu cekatan membebaskan diri dari balutan kostum-kostum pentas. Lalu bergegas pulang. (Syaumi)