Aku pikir pagar itu menyebalkan soalnya tidak membantuku saat meloncat. Aku menangis ketika gagal meloncati pagar. Kakiku kecantol. Aku marah padanya. Saat itu aku masih kanak. Kira-kira lima tahun usiaku. Menurutku, tidak seharusnya pagar dibangun sedemikian tinggi, supaya anak seusiaku bisa meloncat dengan hati riang dan tawa kemenangan. Kenang seorang kawan.

 

AKU MEMULANGKAN memori pada masa-masa sekolah dasar. Kebetulan sekolahku berpagar. Terdiri dari kayu-kayu yang disusun sejajar, tak lupa dicat. Pagar kayu bercat biru. Selaras dengan warna bangunan gedung sekolah. Pagar kayu membentang sepanjang bangunan sekolah bagian depan. Lebih jauh, tepat di tengah-tengah bentangan pagar kayu, ada pagar besi yang berukuran lebih tinggi sebagai gerbang masuk utama. Sementara pada bagian samping dan belakang gedung, berjajar pagar hijau –yang hidup dengan menghasilkan oksigen sendiri.

 

Bersama kawan-kawan, aku menghabisi hari-hari di sekolah dasar dengan bersepeda. Bangunan di samping sekolahku berpagar jingga kecoklatan. Itu rumah dinas pegawai kehutanan. Sapuan pandangan terhadap pagar itu pertanda keberadaan sekolah kian dekat. Gerbang utama sekolah dibuka sekira pukul 05.30 WIB. Pada pukul 06.00, sudah banyak di antara kami yang sampai di sekolah. Terlebih kalau ada di antara kami yang menuai jadwal piket harian kelas.

 

Sepagi itu pula, telah hadir kepala sekolah. Beliau berdiri di dekat gerbang utama. Laju sepeda kami memelan, dan turunlah masing-masing kami dari sepeda. Menuntun sepeda dengan satu tangan, sementara tangan lain menyalami kepala sekolah. Kami terus menuntun sepeda sampai parkiran. Itulah pagi yang hangat yang terus kuingat. Berlainan dengan kenangan kawan dalam penceritaan di awal, aku kecil memiliki nostalgia yang demikian mesra ihwal pagar.

 

 

Buah Pemagaran

Menelisik arsip. Diketemukan potret dengan kalimat demikian, kemegahan bisa jadi sangat membanggakan. Tapi bisa juga suatu petaka. Akibat pemagaran kampus UNS, mahasiswa terpaksa main terobos untuk masuk kampus (edisi 02/TH. II/1995). Tak ada tulisan panjang yang menceritakan potret tersebut. Diri jadi mereka-reka. Bahkan, susah menjahit bayangan potret dengan kondisi bangunan UNS terkini. Diri belum jua mendapat kebenaran, bagian kampus mana yang terpotret tahun 1995 itu.

 

Lantas apa pula yang mendesaki pikiran para mahasiswa dengan ‘main terobos’. Barangkali untuk memperpendek jarak, yang jika berjalan lewat pagar/gerbang utama lebih jauh. Main terobos berujung pada kecepatan serta kehematan waktu (barangkali jua sedikit tenaga) menuju fakultas-fakultas. Lantas ‘petaka’ mana yang dimaksud dalam keterangan yang menyertai potret. Diri lagi-lagi sekadar mampu mereka-reka. Petaka itu barangkali ada hubungannya dengan kenangan seorang kawan –yang kusebutkan diawal. Kaki kecantol sebab gagal meloncat. Atawa lebih parah dari itu.

 

Kiranya pemagaran kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) perlu ditelisik. Keberadaan pagar lekat dengan privatisasi tanah, bangunan, halaman, dan aset-aset lainnya. Mengambil permisalan benteng pertempuran atawa pagar tembok yang gagah pada keraton. Barangkali sejarah pagar tak lain merupakan sejarah kekuasaan raja. Kini, pemagaran rumah kiranya sudah menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan sosial masyarakat kita. Selain simbol privatisasi, barangkali jua telah menunjukkan kelas sosial si tuan rumah.

 

Jika Sapardi Djoko Damono dalam puisinya yang berjudul Gerimis di Jendela Kaca menyebut jendela sebagai “…batas antara yang di dalam sini dan yang di luar sana.” Kurasa dalam hal ini menggati kata “jendela” dengan kata “pagar” masih bisa diterima. Yang “di dalam sini” tak lain adalah para akademisi berilmu tinggi, para mahasiswa dengan pelbagai varian seperti aktivis, tukang pacaran, penceloteh, pengkritik, pendakwah – dan mungkin masih ada mahasiswa dengan jenis varian lain selain yang disebutkan di atas — gedung megah, peraturan, dan kemewahan yang dipisahkan oleh pagar dengan “yang di luar sana”. Sang akademisi berilmu serta mahasiswa dengan pelbagai varian jadi tak bisa benar-benar bersama masyarakat sekitarmya. Masyarakat sekitarnya tak bisa mengintip. Kampus yang berada di atas tanah nenek moyang mereka itu bagai dunia lain yang benar-benar lain dari tempat sekitarnya.

 

Seandainya banyak kilah bahwa pagar merupakan pelindung, yang mengamankan apa yang ada “di dalam sini” dengan “yang di luar sana”. Maka semesta pun akan bertanya, memangnya seberapa ganas “yang di luar sana” sampai-sampai “yang di dalam sini” harus dilindungi? Maka tak ayal banyak kalimat “terjun ke masyarakat” seringkali muncul dari bibir manis para mahasiswa. Wong, mereka bacut menganggap bahwa ada pagar yang memisahkan mereka. Pagar bukan saja telah memisahkan keberadaan mereka tapi juga memisahkan apa-apa yang ada diantara keduanya. Jika sudah begitu, pagar akan selalu jadi antagonis. Kejam karena selalu berhasrat untuk memisahkan. []

 

 

 

Baca juga saluransebelas.com edisi “Geledah Arsip” lainnya!

 

Tulisan 1   : Tak Ada Malaikat Bernama “Pers”

Tulisan 2   : Pagar Itu Antagonis!

Tulisan 3   : Internet Masuk Kampus

Tulisan 4   : Ulang Tahun Tak Seromantis Dulu

 

 


Rizka Nur Laily Muallifa

Anggota diskusi kecil. Senang bertualang dengan damai dan berkawan dengan tumbuh-tumbuhan.

Bisa diajak berkawan lewat [email protected]