“MEREKA benar-benar hidup!” kata Jatmika ketika mengampiri kami yang sedang jaga malam. Ia datang dengan terengah-engah. Tubuhnya seketika lemas dan tak berdaya. Terlalu banyak mengeluarkan keringat. Mukanya linglung. Seperti usai menjumpai sesuatu yang menakutkan.

 

“Kau kenapa?” tanyaku. Aku terkaget dengan kedatangannya. Begitu juga tiga orang tetangga yang ikut meronda. Aku dan yang lain menatap Jatmika penuh pertanyaan dan rasa penasaran menghinggapi kepalaku. Entah apa yang telah terjadi padanya.

 

Waktu menunjukkan tengah malam lewat beberapa menit saja ketika Jatmika datang. Itu kuketahui karena salah satu dari orang yang meronda baru saja usai memukul kentongan. Sebuah kebiasaan yang tak akan bisa dilawan. Kentongan dipukul keras pada jam dua belas malam. Bukan bermaksud mengganggu waktu tidur melainkan untuk membangunkan orang-orang selalu waspada terhadap hal-hal yang tak diinginkan terutama kejahatan.

 

Akhir-akhir ini memang banyak hal mecurigakan. Tiga hari yang lalu, rumah Orus katanya dimasuki orang. Suara ribut terdengar dari arah dapurnya. Tetapi ketika dicek bersama istri dan anaknya, tak ditemukan apa pun. Kondisi dapur juga baik-baik saja dan pintu masih terkunci rapat. Jendela pun tak ada yang terbuka. Semua masih baik-baik saja sama seperti semula.

 

Orus bercerita padaku sewaktu kami melepas lelah di peternakan milik Haji Sugeng. Kami sama-sama bekerja di peternakan ayam petelur yang letaknya di sisi selatan sungai. Sungai yang berada di sebelah selatan desa. Di sebelah kanan jembatan dan di sekelilingnya terhampar sawah dengan padi menguning emas. Aku merebahkan badan di bawah rerimbunan pohon waru yang berjarak hanya beberapa langkah dari peternakan. Ia datang lantas duduk dan meluruskan kakinya, kedua tangannya menyangga tubuhnya menahan jatuh.

 

“Semalam ada suara berisik dari dapurku,” kata Orus memulai pembicaraan. Ia tampak ingin mengatakan hal itu karena dari ucapannya terdengar serius.

 

“Ada apa?” aku yang semula mencoba menutup mata lantas meliriknya.

 

Ia menarik napas panjang. Serupa sedang berpikir dan kurasa ia sedang menata kalimat dengan tujuan tak lain berusaha meyakinkanku dengan ucapannya.

 

“Nah itu masalahnya. Tidak ada apa-apa ketika aku cek. Aku dibangunkan anakku yang ketakutan lantas menyusul ke kamarku membangunkanku dan istriku.” Orus benar-benar berbicara dengan serius. Dari nada bicaranya terdengar bahwa apa yang ia sampaikan tak boleh dibantah.

 

Aku mereka-reka apa yang akan dikatakannya selanjutnya. Apakah sebuah kebenaran atau cerita bohong. Aku berpikir bahwa apa yang dikatakannya serius jika diperhatikan dari caranya berbicara. Tegas dan serius. Ia begitu mengebu-gebu ketika menceritakan hal itu kepadaku. Tapi entah apa tujuannya mengatakan hal itu padaku. Sebuah usaha untuk menakutiku atau mungkin memang ia ingin menceritakan hal yang luar biasa.

 

“Lalu,” sahutku meminta Orus melanjutkan apa yang telanjur ia sampaikan.

 

“Apa kau percaya hantu?” ia berbalik bertanya kepadaku. Kurasa ia meminta pertimbanganku.

 

Hantu bagiku adalah kisah dongeng yang lahir berkat proses cerita lisan yang disampaikan oleh orang-orang dulu. Mereka menyusun cerita yang menakutkan dan tak lain bertujuan untuk melahirkan ketakutan. Membuat sebuah kepercayaan bagi manusia lain. Cerita tentang hantu dilahirkan untuk menciptakan sebuah iklim yang tenang. Sebuah keinginan hidup yang begitu didambakan oleh setiap manusia.

 

Pernah suatu kali aku mendengar lamat-lamat sesepuh desa yang membicarakan sebuah kematian dan kudengar dari mereka ketika membicarakan hantu atau makhluk halus. Mereka memercayai adanya makhluk halus yang berada di sekitar kehidupan manusia tetapi tak menyebut ‘mereka yang lain’ itu sebagai hantu. Mereka yang lain tidak mengganggu. Tetapi sebaliknya, manusialah yang menciptakan hantu dan menciptakan ketakutan-ketakutan bagi manusia lain.

 

Hantu lahir karena manusia ingin tak ada ganguan dari manusia lain. Mereka dulu bercerita tentang hantu agar tak ada yang keluar rumah pada malam hari. Tentu saja hal ini bertujuan untuk menciptakan kenyamanan ketika mereka terlelap pada tidur mereka. Hantu dibuat untuk menakut-nakuti manusia agar suatu malam yang suci tidak dinodai oleh perbuatan manusia khususnya pada malam hari.

 

Selain itu, hantu sengaja terus-menerus dibualkan oleh orang-orang agar mereka selalu mengingat Tuhan. Sebuah upaya memaksakan suatu hal pada manusia lain demi terwujudnya sebuah surga di dunia. Manusia yang takut akan hantu pasti akan berusaha mendekatkan diri pada Tuhan dan tak lupa untuk beribadah. Sehingga semua manusia yang hidup akan berbuat baik. Tidak melakukan kejahatan apalagi menggangu manusia yang lain. Begitulah kisah itu kupercaya dan sebuah cara berpikirku yang entah kuciptakan dari mana.

 

“Bukankah hantu itu hanya omong kosong,” kataku pada Orus. “maksudku, hantu itu tidak pernah tampak di hadapan manusia mana pun. Tidak pernah menampakkan diri secara langsung. Bukankah begitu yang selalu orang-orang katakan ketika melihat hantu. Mereka tak menjumpainya secara langsung. Tetapi mereka menjumpai halusinansi mereka sendiri,” jelasku padanya.

 

“Berarti kau tahu ke mana manusia mati?” Orus kembali mengajukan pertanyaan yang begitu aneh.

 

“Maksudmu?” aku berdiri dan membersihkan bagian belakang celanaku dengan memukul-mukulnya menggunakan tangan.

 

Orus mengikutiku. Lantas kami berjalan bersama menuju sungai.

 

“Bukankah mereka yang mati dengan tidak tenang akan jadi hantu,” ia berkata ketika kami mencapai batu di pinggir sungai. Tempat kami biasa merebahkan diri karena posisinya tepat di bawah pohon trembesi yang buahnya yang berwarna hitam sesekali jatuh dan menghantam air sungai.

 

“Aku tidak tahu.” Aku mengakhiri pembicaraan kami dan bergegas memejamkan mata yang sempat tertunda beberapa waktu karena ceritanya yang begitu tanggung.

 

Aku tak pernah percaya pada cerita yang dilahirkan oleh mereka yang beranggapan bahwa orang mati akan hidup kembali. Menjadi manusia yang mampu bernapas dan memiliki ruh. Bukankah orang mati sudah memiliki dunia yang lain. Kalau pun masih di dunia paling mentok hanya seminggu dan paling lama empat puluh hari. Dan itu memang yang kami percaya selama ini dari sebuah kepercayaan yang diceritakan secara turum-temurun. Bahwa yang mati akan tetap di dunia manusia dalam waktu-waktu terbatas itu tetapi tak ada yang mampu berinteraksi.

 

Namun kedatangan Jatmika di pos ronda merubah segala kepercayaan yang telah lama kubangun. Bahwa hantu itu memang ada. Jatmika mulai bercerita dan menata kembali ingatannya dan mencoba membagi apa yang ia lihat pada kami.

 

“Aku mendengar suara air dari rerimbunan bambu di sana. Seperti hujan. Tetapi bukan hujan dan sekarang tidak hujan. Kalian lihat sendiri kan,” Jatmika memulai ceritanya. “Aku juga mendengar bambu-bambu itu seperti dipukuli oleh seseorang. Ah bukan seseorang, melainkan oleh banyak orang dan iramanya sangat kacau. Seperti orang ribut dan mau melabrak ke suatu tempat. Penuh emosi.”

 

Aku memasang telinga kuat-kuat. Aku tak ingin satu cerita pun terlewat dan telingaku. Begitu juga yang lain. Mereka memerhatikan Jatmika lekat. Seperti orang yang sedang khusyuk beribadah.

 

“Lalu kulihat sekelebat bayangan di belakangku. Tubuhnya seperti kita ini. Benar. Seperti manusia, tetapi ia berpakaian serba putih dan cahaya memancar dari wajahnya. Seperti Pak Guru Saleh yang belum lama mati. Sungguh. Lalu dibelakangnya banyak sekali yang lain, mereka berkumpul dan suara pukulan semakin keras. Sepintas, aku melihat ada Mak Gejik yang mati beberapa bulan lalu, Kang Nimrap yang tewas tertabrak truk di pertigaan gapura, dan beberapa lagi yang tak lain adalah mereka yang mati dari kampung kita.”

 

“Kau tidak sedang berbohongkan?” aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.

 

“Apa aku terlihat seperti orang yang sedang berbohong?” kata Jatmika yakin.

 

Tiba-tiba kami yang semula hanya berempat dan sekarang berlima bersama Jatmika mulai merasakan suatu hal yang ganjil setelah Jatmika bercerita. Aku mendengar langkah kami banyak orang. Saling bergantian dan begitu cepat. Kamu menatap yang lain. Kurasa mereka juga mendengar hal yang sama.

 

Tak sampai kami bergerak aku melihat serombongan entah apa aku menyebutnya. Kalau manusia jelas tidak tepat. Karena di baris depan, aku melihat Pak Guru Saleh yang mati beberapa waktu yang lalu. Ia terlihat seperti pemimpin. Di belakangnya ada para sesepuh yang dulu bercerita tentang kematian dan makhluk halus lalu ada Mak Gejik dan Kang Nimrap seperti yang dikatakan Jatmika. Ada pula mereka yang telah tiada dari desa kami beberapa tahun yang lalu.

 

Mataku terus melihatnya. Tubuhku kaku. Aku juga tak dapat membuka mulutku. Empat orang yang lain juga begitu. Kulirikkan mataku pada mereka. Jatmika juga tak mampu berbuat apa-apa. Kami memandangi orang-orang yang sebelumnya berbaring di utara desa menuju ke selatan. Entah ke mana.

 

 

Eko Setyawan