Tahun lalu, ia merasakan panasnya kursi debat Capres-Cawapres BEM UNS. Seakan tak punya rasa jera, tahun ini ia kembali mencalonkan diri, bahkan untuk jabatan yang lebih tinggi.

Nurdin Hidayatullah –yang kini menjabat Wakil Presiden BEM UNS– berpasangan dengan Muhammad Abdullah Azzam di Pemilu UNS 2016. Pasangan nomor urut satu ini bertekad mewujudkan BEM UNS yang “Satu, Budaya, dan Inisiatif dalam Kolaborasi Karya untuk Almamater Bangsa.”

Diiringi rintik hujan, lpmkentingan.com berkesempatan mewawancarai calon presiden BEM UNS nomor urut satu tersebut, Jumat (30/10) sore. Usai memarkirkan motornya, calon Presiden BEM 2016 dari Partai Asmara ini mempersilakan lpmkentingan.com menuju sekretariat BEM UNS. “Langsung naik ke atas aja, ya,” kata mahasiswa Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian ini. Berikut petikan wawancara yang diajukan lpmkentingan.com.

Anda sudah hampir satu tahun menjabat sebagai wakil Presiden BEM. Mengapa ingin mencalonkan diri lagi sebagai Presiden?

Yang pertama, karena saya diberi kesempatan oleh Partai Asmara untuk mencalonkan diri. Kedua, karena saya merasa masih ada kekurangan selama saya sama Mas Eko (Presiden BEM UNS 2015). Selama ini mahasiswa masih memandang BEM lewat kegiatan-kegiatan luarnya saja. Mungkin cuma dikenal karena aksi atau demo. Padahal banyak kegiatan yang langsung berkaitan dengan mahasiswa. Seperti kegiatan-kegiatan terkait advokasi UKT (Uang Kuliah Tunggal) dan remunerasi.

Seperti apa kinerja BEM UNS selama satu tahun ini?

Biasanya kalau bicara kinerja, dilihat dari program kerjanya. Kalau saya melihat 70-80 persen (tercapai). Walaupun masih ada kekurangan di sana-sini. Jadi agar bisa optimal, harus ada kolaborasi dari internal BEM sendiri, teman-teman fakultas, dan UKM juga mahasiswa umum.

Apa persoalan mendesak yang harus segera diselesaikan BEM UNS?

Harus memperbaiki masalah komunikasi. Harus turun lagi ke bawah. Ke BEM fakultas, ke UKM. Jadi kita harus benar-benar menjalin apa yang dibutuhkan sama teman-teman. Sehingga mereka juga punya sense of belonging sama BEM UNS.

Menurut Anda, masih relevankah pergerakan mahasiswa yang dilakukan oleh BEM UNS kini?

Memang relevan. Jadi sekarang BEM UNS kita bagi ke dalam tiga kementerian koordinasi besar. Pertama, Kementerian Koordinasi Internal. Itu yang bertugas melaksanakan advokasi, komunikasi antar lembaga dan UKM, mengawal remunerasi. Lalu yang kedua Kementerian Koordinasi Eksternal. Ini yang khusus mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah. Yang ketiga, Kementerian Koordinasi Minat dan Bakat. Kementerian ini membawahi tiga kementerian. Media dan Informasi, ini yang bertugas mengemas kegiatan-kegiatan BEM dan menjalanakan media-media sosial. PSDM, Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa. Dan Sosial Masyarakat. Jadi, kalau ditanya relevan atau tidak, sangat relevan.

Mengapa memilih Muhammad Abdullah Azzam sebagai wakil?

Memang dia belum pernah ada pengalaman sama sekali di BEM. Saya menilai dia dari tulisan-tulisan dia di blog. Dia juga sangat bagus di ekonomi. Dan saya ingin menjalin mahasiswa-mahasiswa sosial, yang di sebelah barat. Karena selama ini kalau kita perhatikan kebanyakan yang aktif mahasiswa-mahasiswa eksak.

Bagaimana dengan status BEM sebagai pemerintahan mahasiswa?

Kalau saya rasa belum ada, ya. Jadi BEM masih sebagai titik koordinasi saja.

Jadi kalau boleh dibilang, Anda selama ini menjabat sebagai Wakil Presiden Mahasiswa atau Wakil Presiden BEM?

Kalau saya menyebut, sebagai Wakil Presiden BEM. Tapi tidak menutup kemungkinan sebagai Wakil Presiden Mahasiswa. Karena apa-apa yang kami lakukan pun untuk mahasiswa.

Untuk debat capres-cawapres Senin (2/11), apakah ada persiapan khusus?

Persiapan isu-isu nasional juga seluk beluk universitas. Karena pengalaman tahun lalu, ya. Kita juga harus tahu kan apa yang kita pimpin.

Jadi, sudah menghafalkan mars UNS?

Ha-ha-ha. Ya, selama ini sudah mulai kita galakkan di setiap kegiatan mahasiswa untuk menyanyikan mars UNS.

Bila terpilih sebagai Presiden BEM, apa yang akan dilakukan?

Pastinya menjalankan visi misi saya. Lalu ada dua fokus pergerakan. Pertama internal, yakni merangkul seluruh UKM dan fakultas. Untuk eskternal, mengawal MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

Muhammad Satya

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS