DI TENGAH kemuakan yang memuncak pada penilaian mahasiswa tentang sastra, seperti ujaran Mbak Ririn dalam tulisannya berjudul “Mengusir Paksa Sastra”, yang terbit di saluransebelas.com tanggal 11 Januari 2017 lalu. Izinkanlah aku memperkenalkan diri. Aku mahasiswa biasa, tak berani mengklaim diri aktivis, terkadang malu untuk berteriak “Memperjuangkan rakyat!” ketika belum satu perut pun yang berhasil aku kenyangkan. Barangkali aku termasuk ke dalam kaum pelajar yang berhasil terdoktrin 12 tahun pendidikan sekolah yang anti-sastra. Duh, betapa hinanya aku dibanding Mbak Ririn. Aku hampir tak pernah membaca karya sastra, hanya tahu bahwa puisi itu berima dan hafal tak lebih dari lima majas saja. Namun Mbak, untungnya aku bukan penggila kisah Milea – Dilan, lebih – lebih Tere Liye.

 

Aku banyak bersepakat dengan Mbak Ririn dalam tulisanmu nan menarik tersebut. Nampaknya, Mbak Ririn ini sangat mengasihi sastra. Mulia sekali. Apalagi ketika mecoba menggugat celoteh mahasiswa sok ngaktivis yang menyayangkan tulisan-tulisan sastrawi ketimbang kritis di tubuh pers mahasiswa. “Tau apa kamu tentang sastra?!”, mungkin itu yang terpikir di kepalamu, Mbak. Terlihat sangat jelas dari caramu menjabarkan sejumlah fakta bahwa sastra ternyata justru amat lekat di jalan aktivis. Namun, apakah itu fakta mengejutkan bagiku?

 

Justru aku tak kaget. Bahkan setuju penuh denganmu. Selain “hanya ada satu kata: Lawan!” milik Wiji Thukul, karya sastra memang lekat dengan budaya aktivisme populer saat ini. Untuk pegiat sastra sekelas Mbak Ririn, tentu anda seharusnya tahu bahwa lagu Mars Mahasiswa yang begitu dibanggakan di jalan itu merupakan gubahan dari sebuah syair karya Hasan Al – Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir. Sungguh, betapa nyastra-nya aktivis yang mencari literatur hingga sastra Timur Tengah hanya untuk membuat sebuah mars.

 

Dan seharusnya, akhi wa ukhti aktivis kampus sepakat denganmu. Jika mereka menjadi bagian dari pengusir paksa sastra, maka, aku akan sangat menyesal. Mbak Ririn dengan pengetahuan sastramu tentu harusnya tahu bahwa sastra sangat erat dengan budaya-nya akhi wa ukhti ini. Syair, dahulu menjadi penyemangat di medan jihad. Para panglima sekelas Khalid bin Walid dan Ali bin Abi Thalib kerap mengayunkan pedang dengan lantunan syair sebagai penyemangat.

 

Atau kalau hendak ditilik, Anda juga tentu tahu bahwa cendikiawan muslim masa lampau, disamping mempelajari banyak keilmuan-keilmuan lain, pasti menyelipkan sastra sebagai pemanis khazanah keilmuan mereka yang begitu multidisiplin. Berbeda dengan “Bapak Profesor” yang kamu ceritakan, para cendikiawan muslim ini mafhum betul urusan sastra. Empat imam mahdzab pun bersastra. Barangkali ini yang membuat nasihat mereka begitu menyejukkan. Usulku, kalau benar-benar hendak membela sastra, jangan hanya bahas Islam dari yang ngepop-nya saja, bahas juga sastranya!

 

Namun, izinkanlah aku memohon maaf. Awak mahasiswa sok ngaktivis tadi barangkali ada benarnya. Jujur saja, aku rindu pers mahasiswa yang bertaring. Bukan kepada pers yang memojokkan diri ke sudut sastra saja. Menikmati buku-buku karya sastra, menumpuknya, namun abai bahwa hidup sosial terus berjalan. Asyik bersenandung dengan sastra sementara harga mulai naik, kampus mulai menjelma menjadi penjual jasa dan media tak lagi bisa dipercaya. Kurasa bukan seperti sastra yang dicita-citakan oleh Wiji Thukul maupun WS. Rendra.

 

Mirisnya, yang terjadi malah menjatuhkan kemuliaan sastra hanya sebagai karya untuk menyerang aktivis kampus di seberang jalan, aktivis sebelah gedung mu, Mbak. Atau mengisi rubrik di harian kota.

 

Jika menggunakan logika Mbak Ririn, yang menganggap bahwa aksi massa akan lebih digauli jika dibumbui sastra, maka demikianlah dengan sastra. Sastra mungkin saja sepi peminat, karena Mbak dan rekan-rekan mulai (maaf) mengosongkan makna pada tulisan sastra. Coba dengar, mengapa “hanya ada satu kata: Lawan!” begitu termahsyur, diminati? Jawabannya jelas: karena sastranya tajam, kritis, menggelora. Bukankah itu salah satu nikmat dari sastra? –membangkitkan  gairah, dari seksual hingga berani mati?

 

Maka lihatlah, adakah Wiji Thukul bersastra dalam diam, sepi sambil hanyut dalam buku-buku saja atau beliau bersastra di jalanan, kritis di tengah lautan massa? Dan, adakah sastrawan Timur Tengah dahulu menjadikan sastra sebagai karya yang disombongkan? atau sebagai sarana penyemangat dan nasihat? Sastra memang kerap digunakan untuk membolongi kuping penguasa.

 

Namun sayang, aktivis populer memang abai dengan sastra. Barangkali sastra mereka hanya sastra terapan, tak tahu seluk beluk dan keindahannya. Namun, hanya berlagak di tengah demonstrasi dengan karya sastra tokoh-tokoh aktivis. Cobalah sesekali nikmati aksi massa dengan menyaksikan bagaimana para orator dan agitator bersusah payah untuk bersastra bak Thukul di tengah massa. Upaya mereka tentu harus diapresiasi!

 

Bagiku, bukan dosa mereka yang tak kenal sastra. Bukankah anda dan rekan-rekan juga berdosa jika sastra di aksi massa begitu-begitu saja? Padahal anda kenal betul dunia sastra dan segala kemahsyurannya. Maka, kalau Mbak Ririn dan rekan mau berkumuh dan berpeluh untuk ikut aksi, mungkin saja aksi massa akan lebih nyastra, dan akan menarik seperti yang disampaikan dalam tulisan Anda. Atau, jika itu terlalu hina bagi anda, jangan bodoh-bodohi mereka dan ajarkanlah sedikit dari pengetahuan sastramu kepada mereka. Semoga tidak terbalas dengan celetuk “prei kenceng!”

 

Tapi sudahlah, tak usah terlalu digubris tulisan ini. Tulisan ini mungkin hanya pidato retak di mata Mbak Ririn. Tak layak baca. Apalagi diterbitkan di saluransebelas.com, laman sastra tingkat tinggi. Toh, semua ujaranku belum tentu benar. Dan sungguh, aku tak siap jika ada cibiran khas sastra kepadaku akibat ulah ku ini. Maka, janganlah Mbak Ririn balas tulisan sumbang ini. Hanya melelahkanmu, mengganggu waktumu dan rekan untuk bersastra. Di akhir, aku hanya ingin berdoa, “Ya Rabb, ampuni hamba yang menjadikan sastra sebagai nikmatmu yang hamba dustakan”

 


Faith Silmi

Bocah Ingusan di Tepian Omong Kosong

Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNS