Oleh: Fitri Fazrika Sari

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sebuah musyawarah besar untuk menentukan seorang pemimpin baru yang akan menjabat selama setahun berikutnya. Pemilihan tersebut melibatkan mahasiswa dari berbagai angkatan, dengan musyawarah sebagai langkah utama yang ditempuh.

Seperti yang saya tahu, musyawarah dilakukan untuk mencapai mufakat. Setiap orang berhak mengutarakan pendapatnya sehingga pemilihan dilakukan secara terbuka. Dalam musyawarah, diperlukan seorang pemimpin yang arif dan bijaksana dalam menentukan sebuah keputusan. Hal ini sesuai dengan pengamalan sila keempat Pancasila, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Banyak orang yang lebih memilih musyawarah dibanding voting. Cara pemungutan suara ini agaknya dianggap tidak terbuka dan tidak adil, mengingat hasil hanya dilihat dari jumlah perolehan suara. Meski begitu, tidak lantas membuat musyawarah menjadi cara terbaik dalam melakukan suatu pemilihan dengan berbagai alasan.

Musyawarah besar yang kemarin saya ikuti telah menyepakati bahwa dalam menentukan pemimpin yang baru akan dilakukan secara musyawarah. Sayangnya, hasil dari pengerucutan beberapa pendapat tidak kunjung mendapat satu suara yang pasti. Di akhir musyawarah, terdapat dua kubu yang saling meninggikan pilihannya. Masing-masing pendukung memiliki alasan yang kuat untuk mempertahankan kandidat yang sama-sama dianggap terbaik itu.

Pemikiran masyarakat yang masih kaku dan sulit menerima perbedaan pandangan adalah hal utama yang membuat saya berpikir bahwa musyawarah belum dapat dilakukan secara utuh. Percuma saja dilakukan musyawarah jika tiap-tiap individu tidak mau menerima pendapat dari orang lain. Tujuan dari musyawarah untuk mencapai mufakat tidak akan tercapai jika masih ada individu egois mempertahankan pendapatnya sendiri.

Perbedaan persepsi adalah tembok penghalang terbesar bagi manusia. Ketika seseorang sudah terpaku pada satu objek atau pemikiran, kebanyakan mereka tidak akan memperdulikan hal-hal lain yang tidak sesuai dengan persepsinya. Meilih dua kubu yang saling berlawanan tidak akan bisa mengubah pendirian jika presepsinya tidak lagi sama. Pikiran mereka sudah terpaku pada satu subjek. Padahal, inti dari musyawarah padahal forum harus memilih calon pemimpin yang dibutuhkan untuk suatu komunitas tersebut. Calon pemimpin yang terpilih adalah ia yang dapat mengarahkan seluruh anggotanya menuju visi misi bersama.

Dalam sebuah pemilihan, saya merasa bahwa kebanyakan dari kita belum siap untuk melaksanakan musyawarah secara utuh. Percuma saja bermusyawarah jika sulit untuk membuka pikiran terhadap pandangan dari orang lain. Musyawarah dilakukan untuk mencari kata sepakat, bukan mempertahankan pendapat.

Oleh karena itu, voting tetap perlu dilakukan. Bukan untuk mendapatkan hasil akhir, namun untuk mendapatkan garis besar suatu permasalahan yang sedang dibahas dalam musyawarah. Voting adalah langkah awal untuk mempersempit berbagai perbedaan pendapat dalam suatu forum. Setelah didapatkan beberapa poin utama, barulah musyawarah dilakukan untuk menentukan hasilnya.