Sayang, kau telah menjadi abadi

Di hati di sejarah kami

Kan ku relakan hari ini besok, lusa atau lain kali

Karena beberapa orang memaafkan

 

Mengudara sore itu lagu Berita Kehilangan dari .Feast disertai bising lalu lalang kendaraan. Sekelompok orang berseragam hitam bersenandung di Bulevard UNS dengan secarik kertas berisi contekan lirik. Tatapan mata pengendara menuju orang berseragam hitam, memakai payung hitam, membawa pigura foto seseorang. Tanda tanya 2004-2019 dengan #MenolakLupa, pigura lain foto seseorang dan “masih ingat?”. Sore Selasa itu, 10 September 2019, tak ada yang istimewa dengan hari atau tanggalnya. Tetapi September?

 

Bagi sebagian orang September menjadi bulan sakral. 7 September, 15 tahun yang lalu Munir diracun di udara. Sampai saat ini belum ada penyelesaian kasus Munir maupun kasus pelanggaran HAM lainnya.

 

Munir Said Thalib sebagai salah satu aktivis penegak HAM. Munir sering disebut-sebut beberapa kali dalam setiap orasi dalam Mimbar Bebas: Munir dan Penegakkan Hukum HAM di Indonesia.

 

Tidak hanya diramaikan dengan orasi-orasi, Mimbar Bebas juga mewadahi siapapun untuk tampil. Pembacaan puisi dan akustik menjadi pilihan lain. Mimbar Bebas, diikuti oleh beberapa perwakilan BEM antar fakutas di UNS dan beberapa mahasiswa. Beberapa awak BEM yang hadir dari fakultas FISIP, FIB, FH, FT, FKIP, FMIPA, FEB, dan BEM UNS sendiri.

 

“Munir adalah seorang aktivis kemanusiaan dan juga bisa dikategorikan sebagai perwakilan dari beberapa korban, yang sampai saat ini belum terselesaikan kasusnya”.  Menurut Zharfa Qonita, penyelenggara Mimbar Bebas, ketika ditanyai mengapa hanya Munir saja yang ditampilkan di sini. Di antara sekian banyak aktivis kemanusiaan dan korban pelanggar HAM.

 

Munir masih menjadi primadona bagi setiap aktivis kemanusiaan yang lain. Munir juga disebut sebagai perwajahan kondisi korban yang sampai saat ini belum terungkapkan kasusnya.

 

“Harusnya kita tidak sekedar memperjuangkan seorang aktivis kemanusiaan, seharusnya kita memperjuangkan semuanya”. Tambah Zharfa, itu yang jadi titik alasan mengangkat dan melakukan aksi tersebut karena saking banyaknya korban yang tidak dikenal oleh masyarakat.

 

Karena itu Munir menjadi solusinya. Dengan harapan kasus  Munir menjadi salah satu alasan orang untuk peduli dan  tidak melupa terhadap ketidakadilan yang menimpanya. Sehingga memunculkan pemberani lain untuk menjadi sosok Munir.

 

“O, zaman edan!

 O, malam kelam pikiran insan!

 Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan

 Kitab undang-undang tergeletak di selokan

  Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan”

 

Sepenggal puisi Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia karya WS. Rendra turut dibacakan oleh salah satu mahasiswa.

 

Menolak lupa, masih menjadi bahan pembicaraan di Mimbar Bebas. Kepada korban yang nama-namanya selalu disebut-sebut, Munir, Marsinah, Wiji Thukul.

 

Menurut Simon Selamat Kevin salah satu orator Mimbar Bebas, “Munir adalah sesosok aktivis HAM dia benar-benar memperjuangkan hak secara total, dia tidak memikir resikonya bagaimana yang notabenenya untuk aktivis HAM itu sendiri di masanya itu luar biasa bebannya”.

 

Menurut Simon, Munir itu patut untuk dijadikan sosok tokoh yang kita kagumi. Munir juga disebut-sebut sebagai pejuang HAM, karena sudah mengadvokasi beberapa kasus pelanggaran HAM seperti kasus Marsinah, pelanggaran HAM di Aceh, di Papua, kasus pelanggaran HAM ’98. Banyak pelanggaran HAM berat yang diselesaikan olehnya.

 

“Apakah sosok Munir separah itu harus dengan dibunuh secara mengerikan menurut saya, bertolak belakang sama tujuannya sendiri yang sangat mulia. Karena hal itulah Munir harus tetap diperingati” tambah Simon.

“Jadi, kematiannya Munir sendiri apakah patut bagi dirinya?”

“Tidak, sangat tidak patut” jawab Simon.

 

Karena kebenaran akan terus hidup

Sekalipun kau lenyapkan

Kebenaran takkan mati

 

Lagu Kebenaran Akan Terus Hidup dari Fajar Merah menjadi penutup Mimbar Bebas, sore itu.

 

Reporter: Lutfia Nurus Afifah