Oleh: Muhammad Satya

Di sela-sela kunjungan Universitas Soedirman (Unsoed) ke Nurul Huda Islamic Center, Sabtu (31/10), lpmkentingan.com berkesempatan mewawancarai calon Wakil Presiden BEM UNS 2016, Muhammad Abdullah Azzam. Berpasangan dengan Nurdin Hidayatullah, Azzam menjadi satu-satunya mahasiswa Sosial dan Humaniora (Soshum) yang bertarung di Pemilu UNS tahun ini.

Keikutsertaan Azzam dalam Pemilu UNS terbilang mengejutkan. Mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), UNS ini tidak mempunyai rekam jejak sama sekali di BEM. Kini, ia aktif di Jamaah Nurul Huda Unit Kegiatan Mahasiswa Islam (JN UKMI) dan Badan Pengkajian Pengamalan Islam (BPPI) FEB.

Sambil menjawab pertanyaan, beberapa kali Azzam meminum susu vanilla kemasan di tangannya. “Saya sebenarnya waktu awal kuliah, (berpikir) jangan sampai ikut-ikutan politik,” katanya membuka wawancara hangat pagi itu. “Tapi setelah masuk Partai Asmara, saya merasa cocok dengan kebijakan-kebijakannya.” Berikut petikan wawancaranya.

Anda belum memiliki pengalaman sama sekali di BEM. Mengapa mau dicalonkan sebagai wakil presiden?

Kalau buat saya pengalaman itu bisa dicari. Untuk fungsi BEM sekarang ini kan tidak perlu orang-orang yang propolitik. Pro tapi tidak berprestasi sama saja. Kan BEM dilihat bukan karena setiap hari demo, tapi karena kebijakannya. Jadi, Mas Nurdin (calon presiden Partai Asmara) mungkin lebih ke bidang politik, saya di (bidang) akademik.

Saat wawancara dengan lpmkentingan.com, Nurdin berkata bahwa alasan memilih Anda sebagai wakil adalah untuk merangkul mahasiswa-mahasiswa sosial. Bisa dijelaskan?

Kalau saya ke kampus-kampus wilayah (kampus di luar wilayah Kentingan, red.), saya (merasa) miris. Tapi ketika ke kampus-kampus (fakultas) sosial, saya lebih miris lagi karena mereka kan di Kentingan, tapi jarang ada BEM yang masuk di sana. Coba aja tanya ke mereka ada yang tau nggak BEM itu apa?

Tahun kemarin Mas Eko sama Mas Nurdin, dari (fakultas) saintek (Sains dan Teknologi) semua. Makanya tahun ini saya dipilih. Tapi mungkin nama saya belum tersohor di (fakultas) sosial kecuali jeleknya (kejelekan saya, red), hahaha.

Apa yang membuat mahasiswa-mahasiswa sosial seperti itu?

Karena mereka punya pemikiran sendiri. Lebih bebas. Sedikit “nakal” dibanding orang-orang saintek. Ini dipengaruhi ilmu yang dipelajari. Ilmu sosial itu bukan tentang salah benar, tapi tepat tidak tepat. Kita boleh bilang sesuatu tepat atau tidak selama punya argumentasi yang jelas. Itu yang menbuat mahasiswa sosial lebih free. Akhirnya, orang-orang sosial menjadi orang-orang yang bebas mengeksplorasi dan harus kenal banyak hal.

Beda dengan orang-orang saintek. Kalau kita tanya mereka, “mau ngerjain skripsi di mana?” Mereka akan bilang, di lab (laboratorium). Orang kemarin kampanye di FT, anak-anak teknik itu teriak, “kata orang manajemen BBM memang harus naik.” Wah, ilmu saya yang dipakai. Itulah kenapa kebijakan-kebijakan BEM sering dianggap masih di bawah (mahasiswa sosial).

Salah satu misi Anda menyinggung generasi intelektual dengan budaya membaca dan menulis. Apa maksudnya?

Kita punya banyak lembaga-lembaga studi tapi tidak ada yang mewadahi. Ada SIM, lalu ada banyak yang di tingkat fakultas. Kenapa nggak kita lempar aja isu ke mereka. Pergerakan sekarang ini tidak hanya dari BEM, tapi juga dari lembaga-lembaga studi.

Bicara tentang pergerakan, masih relevankah pergerakan BEM UNS sekarang?

Kalau dari sisi media, masih relevan dengan mahasiswa sekarang. Sekarang tidak bisa hanya dengan menang lomba. Tapi harus bikin sesuatu yang heboh, yang hits. Itulah mengapa turun ke jalan.

Mas Doni (Capres nomor urut dua) menang ini-itu sampai nasional, nggak akan dilihat Pak Jokowi karena nggak ada media yang meliput. Tapi kemarin, mahasiswa demo di depan istana, itu agar keberadaan kita disadari.

Tapi kalau seperti itu apa tidak terkesan pragmatis?

Bukan bicara pragmatis atau tidak. Saya sendiri menyadari, di dunia ini tidak ada yang tidak pragmatis. Hanya wujudnya saja yang berbeda.

Lalu, permasalahan apa yang harus segera diselesaikan BEM?

Kalau untuk mahasiswa, UKT dan kesma (kesejahteraan mahasiswa). Lalu untuk organisasi. Kalau kita perhatikan, visi misi calon tahun ini banyak yang ke arah sinergi organisasi. Sebenarnya yang meng-ayah-i organisasi-organisasi itu siapa? Jangan sampai satu organisasi dengan yang lain malah ribut.

Untuk kalangan BEM sendiri internalnya sudah cukup baik. Tinggal lebih menyatukan lagi.

Bagaimana dengan persiapan Anda untuk debat besok Senin (2/11)?

Saya buka kuping lebar-lebar, karena (fakultas) sosial itu kayaknya tenang tapi dalamnya bergejolak. Jadi buka kuping lebar-lebar, buka mata lebar-lebar.

Apakah keawaman Anda di BEM bisa menjadi senjata untuk memenangi Pemilu?

Kalau itu saya masih belum tahu. Mungkin itu bisa jadi salah satu indikator.