> Catatan Kentingan > Mobilitas nan Bersahaja, Jalan Kaki

Mobilitas nan Bersahaja, Jalan Kaki

Paving trotoar di tepian jalan dalam kampus beradu dengan alas kaki yang menghantarkan empunya ke tempat tujuan. Sementara di tengah jalan, pa ving-paving beradu dengan ban-ban yang menggelinding sesuai arah mana yang diingini pemiliknya.

ensana in Corpore Sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ungkapan tersebut sering terdengar dan bahkan kerap terpampang di dinding kelas atau di tempat-tempat umum. Pada dasarnya, ungkapan tersebut mengajak untuk senantiasa menjaga kesehatan tubuh, salah satunya dengan berolahraga.

Olahraga tidak harus identik dengan hal-hal berat se perti fitnes, futsal, panjat tebing, atau berenang. Namun, bisa juga olahraga yang sederhana tapi bermanfaat besar jika rutin dilakukan.  Salah satu contohnya adalah berjalan kaki dan bersepeda secara rutin, olahraga ini juga ramah terhadap lingkungan.

Dari berbagai penelitian yang dilakukan, jalan kaki mempunyai banyak manfaat. Diantaranya adalah me ningkatkan kesehatan jantung, mengurangi resiko kanker payudara, membuat tidur lebih nyenyak, menjaga berat badan, mengurangi keropos tulang, dan mengurangi resiko diabetes. Lebih dari itu, jalan kaki dan bersepeda  juga mengajak kita untuk berhemat, hidup bersahaja, dan juga mengasah keuletan, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Di beberapa dae rah di luar negeri, berjalan kaki sudah umum dilakukan, bahkan membudaya. Bagaimana dengan di Indonesia, terkhusus lagi di kampus UNS?

Rasanya tidak aneh bila kampus UNS dijuluki sebagai kampus hijau. Bagaimana tidak? Kesan hijau yang berasal dari pepohonan rindang seketika menyapu pandangan sesaat memasuki area kampus yang terletak di daerah Kentingan, Solo ini. Jangankan dulu, sekarang saja setelah pembangunan gedung-gedung makin gencar, kesan hijau itu masih tetap ada walau banyak berkurang. Rindangnya pepohonan dan topografi kampus  yang bergelombang, sebenarnya cukup mendukung untuk bentuk olahraga sederhana seperti jalan kaki dan bersepeda. Tetapi, tampaknya  hal tersebut belum cukup memikat banyak warga kampus untuk berjalan kaki dan bersepeda.

Mayoritas mahasiswa, dosen, birokrat kampus, dan kar yawan lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor, yang berbahan bakar bensin. Perilaku tersebut tentu saja dilandasi berbagai pertimbangan, seperti efisiensi waktu dan tenaga, terutama bagi mereka yang bertempat tinggal jauh dari kampus.

Ada juga mahasiswa yang memilih tidak berjalan kaki dikarenakan di beberapa sisi jalan tidak ada pepohonan, sehingga terasa panas. Sebaliknya, ketika hujan tidak ada kanopi yang melindungi pejalan kaki. Sementara ada juga mahasiswa yang mengaku merasa malu ketika harus berjalan kaki sendirian, karena sedikitnya mahasiswa lain yang berjalan kaki.

Ide berjalan kaki dan bersepeda di lingkungan kampus ini sebenarnya bisa membudaya jika ada kesadaran bersama akan pentingnya kesehatan tubuh dan lingkungan. Untuk menyiasati mobilitas yang terbatas, bisa memilih bersepeda atau menggunakan  kendaraan umum. Dari pihak rektorat, diharapkan  bisa mengembangkan program kampus yang sehat, bukan hanya pemenuhan fasilitas fisik akademik, tetapi juga pengembangan ruang hijau serta ruang olahraga. Mungkin ini bisa menjadi usulan bagi kepemimpinan rektor yang baru, yaitu Prof. Dr. H. Ravik Karsidi. M.S, agar UNS tidak hanya  menelurkan lulusan yang berkompeten, tetapi juga sehat dan ulet. Jadi? Mari berjalan kaki! []

Oleh: Rina Yuliarti, Mahasiswi Komunikasi FISIP UNS

Baca Juga

Surat Terbuka untuk Mahasiswa Baru UNS 2018

Oleh: Arief Noer Prayogi     /1/   Ketika saya mengetik tulisan ini, saya menyadari bahwa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

If you agree to these terms, please click here.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.