Shafa Rasendriya/LPM Kentingan

Mitos Kunang-Kunang: Kuku Jenazah, Jelmaan Iblis, Pembawa Keberuntungan, atau Pesan Kematian. Mana yang Benar?

Kunang-Kunang sering dianggap sebagai hewan pembawa romantisme karena kerlap-kerlip cahaya di ekornya. Dalam beberapa film di Indonesia, kunang-kunang dijadikan sebagai perantara dua sejoli yang sedang dimabuk cinta.

Keindahan kunang-kunang ternyata berbanding terbalik dengan mitos yang beredar di kalangan masyarakat. Di Indonesia, kunang-kunang dianggap sebagai kuku orang yang telah meninggal dan jelmaan Iblis. Apni Tristia Umiarti dan Made Sukana (dua orang tersebut adalah dosen tetap di Universitas Udayana, Bali) dalam karya penelitiaanya yang berjudul Kunang-Kunang (Firefly): Serangga Bercahaya Petualangan Eksotis Malam Hari, menyebutkan bahwa kunang-kunang memang sering dianggap sebagai jelmaan dari kuku-kuku manusia yang telah meninggal karena kunang-kunang sering ditemui di area pemakaman.

Mitos tentang kunang-kunang sebagai jelmaan Iblis atau Setan juga muncul karena faktor kecenderungan tempat kemunculan hewan bercahaya tersebut. Area pekuburan atau pemakaman identik dengan hal-hal yang menyeramkan seperti Setan atau Iblis. Oleh sebab itu, kunang-kunang dianggap jelmaan Iblis atau Setan. Selain itu, segala bentuk keindahan adalah godaan. Kunang-kunang itu indah, sedangkan Iblis itu menggoda. Jadilah kunang-kunang disebut jelmaan Iblis, karena keindahan kunang-kunang menggoda siapapun untuk memilikinya.

Kunang-kunang juga dipercaya sebagai hewan pembawa keberuntungan. Di dalam situs resmi National Gegraphic Indonesia, disebutkan bahwa rumah yang disinggahi oleh hewan bercahaya tersebut dipercaya akan mendatangkan nasib baik, tamu yang tak terduga, bahkan petanda akan terjadi pesta besar/pernikahan jika dimasuki lebih dari satu kunang-kunang. Hal ini yang membuat kunang-kunang (lightning bug) disebut simbol keberuntungan.

Di Jepang, membunuh kunang-kunang dipercaya akan membawa nasib buruk bagi pembunuhnya. Hal ini disebabkan oleh kepercayaan Jepang yang meyakini bahwa kunang-kunang yang menghadiri festival musim panas merupakan jelmaan dari pejuang-pejuang yang telah tewas.

Sebuah peninggalan di Amerika Serikat, tepatnya di dalam Scott County Historical Society di Virginia, menyebutkan bahwa jika salah satu di antara mereka membunuh kunang-kunang, maka mereka harus bersiap-siap untuk tersambar petir di badai yang akan datang. Mitos tersebut seakan-akan membawa pesan kematian bagi siapapun yang membacanya.

Kuku Mayat, Jelmaan Iblis, Pembawa Keberuntungan, atau Pesan Kematian: Mitos mana yang Benar?

Mitos-mitos tentang kunang-kunang mulai dari kuku mayat hingga pesan kematian memunculkan pertanyaan baru yang cukup menarik, yakni mana yang benar? Atau semuanya benar? Atau bahkan semuanya salah? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang membuat mitos selalu menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan.

Roland Barthes (seorang filsuf, kritikus sastra, dan semolog Prancis yang mengimplementasikan semiologi Ferdinand De Saussure dan mengembangkannya menjadi metode untuk menganalisis kebudayaan) dalam karyanya yang berjudul Mythologies menjelaskan bahwa mitos adalah sistem komunikasi yang merujuk pada suatu pesan. Barthes menyebutnya sebagai laku percaya atau tidak percaya, bukan sebuah hal yang ada atau tidak, juga bukan sebuah hal yang salah atau benar.

Pada dasarnya mitos bukan hal yang harus diungkap kebenarannya karena mitos bukanlah hukum. Mitos juga bukan sesuatu yang harus diakui wujudnya, karena mitos bukanlah berita yang harus disajikan dengan fakta-fakta yang valid dan kredibel. Mitos adalah kepercayaan, maksudnya adalah suatu hal yang ingin dipercayai atau diingkari.

Mitos tentang kunang-kunang sebagai jelmaan kuku orang yang telah meninggal, jelmaan Iblis atau Setan, Pembawa hoki, atau bahkan pesan kematian; adalah hal-hal yang perlu dipercayai atau tidak, bukan hal-hal yang benar atau salah. Keberadaan mitos bukan untuk dibenarkan, tetapi untuk dipercayai dan diyakini.

Pertanyaan selanjutnya adalah: Mengapa Mitos-mitos tersebut Perlu Dipercayai? Jawabannya adalah: Karena Mitos diciptakan untuk melindungi keindahan-keindahan Ciptaan Tuhan dari Para Manusia yang Melampaui Batas.

Penyebutan kunang-kunang dengan jelmaan kuku mayat dan Iblis diharapkan mampu melindungi kunang-kunang dari tangan-tangan jahil manusia yang ingin memilikinya. Di alam bebas, kunang-kunang dapat dinikmati oleh siapapun. Di tangan manusia tertentu, kunang-kunang hanya akan menjadi koleksi pribadi dan hanya dapat dinikmati secara terbatas. Dengan pemeliharaan yang minim pengetahuan, pengoleksian kunang-kunang bisa membunuh populasi mereka. Hal ini disebabkan oleh faktor habitat kunang-kunang yang harus berada di area berudara bersih dan bersuhu sekitar 18 hingga 250 C. Oleh sebab itu kunang-kunang sering ditemui di area pekuburan, karena banyak pohon yang dapat mempengaruhi kelembaban dan tanah gembur yang dapat digunakan oleh kunang-kunang untuk mencari makan serta bertelur.

Selain itu, mitos jelmaan kuku manusia yang telah meninggal juga menyiratkan pesan tentang keindahan kematian. Mayat tidak selalu berhubungan dengan hal-hal yang seram atau menjijikkan, seperti tengkorak, bangkai, belatung, dan seterusnya. Mayat juga dapat menjadi hal-hal yang sangat indah seperti kunang-kunang. Mulai sekarang, janganlah takut menjadi mayat, sebab kematianmu akan memunculkan keindahan-keindahan tak terkira.

Mitos pembawa kebahagiaan dan pesan kematian juga memberikan pesan untuk melestarikan kunang-kunang, bukan malah mengusirnya atau bahkan membunuhnya dengan raket listrik pembunuh nyamuk (serangga). Mitos-mitos yang telah ada diciptakan untuk melindungi kunang-kunang dari kepunahan.

Noor Kholid Ismail dalam penelitiannya yang berjudul Firefly Garden sebagai Pusat Penelitian, Pendidikan, dan Pariwisata di Kabupaten Klaten menjelaskan bahwa populasi kunang-kunang semakin hari semakin menunjukkan penurunan. Keberadaan kunang-kunang terancam karena habitatnya terganggu oleh pembukaan lahan dan hutan. Ismail bahkan mengusulkan pembangunan Firefly Garden sebagai langkah untuk menyelamatkan populasi kunang-kunang di Desa Manjung Kecamatan Ngawen Kabupaten Klaten.

Upaya yang dilakukan oleh Noor Kholid Ismail mengindikasikan ancaman kepunahan kunang-kunang. Tentu saja, kita tidak ingin generasi-generasi esok hanya dapat menikmati keindahan kunang-kunang lewat gambar-gambar yang disajikan mbah gugel atau video-video yang tersedia di yutub. Rasa takut dan percaya yang ada di dalam diri manusia terhadap mitos-mitos tentang kunang-kunang, membuat kunang-kunang terus mendampingi manusia sekaligus menjadi penjaga lahan dan hutan yang masih berudara bersih dari rasa rakus manusia.

Akhir kata, “terima kasih untuk ‘Mitos’. Keberadaan-mu menyelamatkan kami”.

 

Akhmad Idris
Penulis buku “Wasit Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia”

Surel: [email protected]


Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/saluransebelas/public_html/wp-includes/functions.php on line 4673

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/saluransebelas/public_html/wp-includes/functions.php on line 4673

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/saluransebelas/public_html/wp-content/plugins/really-simple-ssl/class-mixed-content-fixer.php on line 110