Oleh: Fera Safitri

 

MASIH pagi, tapi ribuan mahasiswa berjas almamater sudah berjalan berbaris-baris menuju halaman Gedung dr. Prakosa Universitas Sebelas Maret (UNS) alias gedung rektorat. Beberapa terlihat membawa spanduk entah bertuliskan apa. Satu dua diantaranya ada yang membawa toa. Malah sebagian terdengar sedang menyanyikan lagu Mars Mahasiswa. Ada apa ini? Apa mereka mau berdemo pagi-pagi begini?

 

Tenang saja, ini tahun ajaran baru, belum jadwalnya berdemo. Ribuan mahasiswa tadi menuju halaman rektorat hendak mengikuti upacara pelantikan mahasiswa baru (maru) UNS tahun 2016/2017. Jumlahnya memang ribuan, tepatnya 8.498 mahasiswa yang terdiri dari 5.511 mahasiswa S1, 1.867 Mahasiswa Diploma, 1111 mahasiswa Pascasarjana dan delapan mahasiswa asing.

 

Selain melantik mahasiswa baru, upacara ini juga sekaligus menjadi upacara pembukaan kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), yang akan dilakukan mulai Kamis (18/08) sampai dengan Minggu (21/08).

 

Setelah semuanya siap, pukul tujuh pagi upacara dimulai. Wakil Rektor I UNS, Sutarno mendahului. Ia naik ke mimbar yang menghadap ke peserta upacara, dengan sedikit basa-basi lalu menyebutkan jumlah mahasiswa baru tahun ini. Ia juga mengatakan, betapa sulitnya persaingan para calon mahasiswa UNS tahun 2016/2017. “Keketatan persaingan tahun 2016 ini  satu banding 34. Sedangkan jumlah peminat yang masuk UNS tahun akademik 2016/2017 ini sebanyak 284.801 orang,” sebutnya. Setelah Sutarno selesai membacakan laporannya, lalu Rektor UNS, Ravik Karsidi gantian naik mimbar.

 

Pengarahan  yang diberikan hampir  sama seperti tahun sebelumnya, kurang lebih seputar, “UNS menempati peringkat sekian di Indonesia dan peringkat sekian di Dunia, UNS kampus hijau, UNS PTN-BH, UNS sedang berakselerasi menuju World Class University,” dan sebagainya dan sebagainya.

 

Untuk yang terakhir disebut itu rupanya lebih spesial, penyebutan “World Class University” (WCU) sebanyak empat kali menyiratkan betapa pentingnya ia. Memang, sejak UNS mengikrarkan ambisinya untuk menyandang gelar World Class University (WCU) pada Dies Natalis UNS ke-34 tahun 2010 lalu, mengulas WCU dalam menyambut mahasiswa baru serasa wajib bagi Rektor. Ia menjanjikan bahwa kampus akan memfasilitasi mahasiswa dalam kegiatan semacam seminar atau workshop tingkat internasional.

 

Bukan hanya kampus, tapi Ravik juga menghendaki agar para mahasiswa juga ikut membantu mewujudkan ambisi tersebut. “Selain itu saudara harus meningkatkan kemampuan di bidang riset, berkreasi inovatif, berani berpresentasi di depan publik dan juga menguasai bahasa asing khususnya bahasa Inggris.”

 

MENJADI kampus dengan gelar WCU memang bukan soal gampang, beberapa kriteria harus dipenuhi, seperti kualitas penelitian yang berupa penilaian kualitas dari dalam negeri, produktivitas penelitian perguruan tinggi yang didasarkan pada jumlah jurnal nasional dan internasional, indikator lulusan kerja yang harus fokus terhadap kekuatan akademik, kualitas pengajar dan tentunya infrastruktur. (kompas.com 21 Januari 2015)

 

Gawatnya, kebanyakan dari maru yang “diminta untuk membantu’ itu ternyata malah tak tahu apa itu WCU. Beberapa mahasiswa yang saya tanyai perihal WCU, mengaku tak tau dan cuek terhadap gelar yang sangat diimpikan oleh kampusnya tersebut. Amelia Happy Beauty, mahasiswi Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), jurusan Pendidikan Biologi misalnya,  yang mengetahui WCU hanya sebatas kelas Internasional saja, “bayanganku sih, kalo WCU itu ya kelasnya Internasional kali ya? Pake bahasa Inggris,” katanya

 

Namun, Prayudi, mahasiswa FKIP jurusan Pendidikan Tenik Mesin punya jawaban lain, “Ee..World Class University kedengarannya bagus sih, menurutku kalo WCU jangan cuma fasilitasnya yang internasional, tapi kualitas akademiknya juga harus internasional, ” ujarnya sembari membenarkan letak kacamatanya, lalu melanjutkan,”tapi ya, asal jangan UKT-nya yang standar Internasional lah ya!”[]

 

(Foto: Panji Satrio)