Oleh: Fera Safitri dan Rizka L. N. M.

Setelah sempat dibuat terperangah oleh pembangunan gedung megah bernilai Rp 65 miliar. Kini civitas academica Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dibuat tersentak setelah mengetahui motif lain dari pembangunan gedung delapan lantai tersebut. Kabar perihal pemusatan perpustaaan dari seluruh fakultas ke perpustakaan pusat memang tengah santer terdengar di awal semester genap ini. Kabar itu pun telah dibenarkan oleh kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan UNS Muh. Rohmadi, dalam wawancaranya dengan LPM Kentingan, Selasa (16/02).

Pada kesempatan tersebut ia menjelaskan pemusatan perpustakaan ini sudah sejak lama direncanakan. Meski begitu, di sisi lain, pihak perpustakaan fakultas mengaku baru diberitahu terkait wacana tersebut ketika gedung baru telah sampai pada tahap perampungan. Walau sempat kaget, namun pihak fakultas akhirnya manut dengan keputusan itu. Tak ada fakultas yang menolak. Kini, perpustakaan masing-masing fakultas sedang menanti giliran diboyong ke pusat.

Rohmadi berkeinginan menjadikan perpustakaan sebagai jantungnya universitas, pemusatan perpustakaan adalah salah satu manifestasinya. Selain itu, upaya pengefektifan tenaga kerja serta sarana dan prasarana kampus juga menjadi alasan tercetusnya keputusan kontroversial tersebut. Sebelumnya, konsep ini telah diumumkan secara resmi oleh Rektor UNS, Ravik Karsidi, dalam Forum Komunikasi Pimpinan Universitas dan Fakultas di Salatiga bulan November lalu. Rektor mencanangkan tanggal 2 Februari 2016 ini untuk memulai tata integrasinya. Mengenai hal tersebut Rohmadi mengungkapkan bahwa kini prosesnya sudah memasuki tahap penataan dari gedung lama ke gedung baru, sambil menunggu SK Rektor untuk integrasi.

Nasib Pustakawan Fakultas

Ketika bicara soal pemusatan perpustakaan, pertanyaan yang mengekor adalah bagaimana dengan para pustakawan fakultas? Bagaimana nasib para tenaga teknis yang telah lama mengurus perpustakaan fakultas namun tak memiliki basic ilmu pustaka?  Rohmadi mengatakan pihaknya akan menarik seluruh tenaga pustakawan fakultas untuk dipekerjakan di perpustakaan pusat. Sesuai dengan pembagian bidang yang telah ditentukan sebelumnya oleh pihak UPT Perpustakaan UNS.

“Yang utama pustakawannya, namun ketika tenaga teknisnya ingin ikut pindah, saya malah beneran, jadi menambah tenaga. Tapi kalau masih tinggal di fakultas entah jadi bagian administrasi atau sebagainya, ya saya tidak keberatan. Jadi saya serahkan pada fakultas dan tenaga teknisnya sendiri,” ungkapnya. Setelah tersedia pustakawan yang mencukupi, ia berencana meningkatkan pelayanan dengan membuka perpustakaan hingga pukul sepuluh malam.

Mengadaptasi The Crystal Knowledge UI

Gedung perpustakaan baru yang telah berada pada tahap finishing ini, sedang menunggu kedatangan jutaan buku dari berbagai fakultas untuk menjadi penghuninya. Nantinya, buku-buku akan disusun berdasarkan pembidangan, dan bukan berdasarkan fakultas dengan alasan untuk mempermudah mahasiswa. Selain itu, untuk meningkatkan minat mahasiswa untuk datang ke perpustakaan, UPT Perpustakaan berencana akan menyediakan fasilitas foodcourt, ruang audio visual, ruang pembelajaran, dan museum pustaka. Fasilitas-fasilitas yang masih jarang tersedia di perpustakaan dalam lingkup akademis.

Perpustakaan universitas di dalam negeri yang telah lebih dulu menyediakan fasilitas semacam ini adalah perpustakaan pusat Universitas Indonesia (UI) yang bernama The Crystal Knowledge, diresmikan pada tahun 2011 lalu. “Ya, memang kita mencoba melihat UI, diadopsi yang bagus. Nanti tak sediain  ruang audio visual. Jadi tidak selamanya ke perpustakaan itu membaca, tapi bisa juga nonton film, lihat video,” jelasnya. “Saya akan mendekatkan mahasiswa dulu ke perpustakaan, meskipun di situ hanya nongkrong-nongkrong dulu nggak apa-apa,” lanjutnya lagi.

Masih Kontroversi

Meski belum seluruh civitas academica, baik itu kalangan dosen atau mahasiswa mengetahui keputusan ini. Merebaknya kabar pemusatan perpustakaan UNS sangat disayangkan oleh banyak pihak. Terutama bagi mahasiswa sebagai pihak yang akan langsung merasakan dampak dari keputusan itu. Jika tadinya hanya perlu beberapa langkah kaki dan waktu setidaknya lima menit untuk sampai ke perpustakaan. Nantinya, mereka harus rela menambah lebih banyak jumlah langkah kaki dan lebih banyak  menit, untuk mendapatkan bahan pustaka yang dicari.

Namun hal ini ditanggapi dengan santai oleh sang kepala UPT Perpustakaan. Menurutnya, jika masih dalam satu kompleks universitas, ia menyarankan agar mahasiswa dapat memanfaatkan bis kampus. Ia pun sedang meminta agar bis kampus nantinya melewati perputakaan pusat. Dosen Sosiologi UNS, Akhmad Ramdhon, berpendapat lain. “Sebenarnya tidak perlu melakukan pemusatan perpustakaan, meniadakan perpustakaan fakultas. Itu seolah kita main sepak bola, mainnya di sini, lapangannya di situ, nggak bakalan benar.”