Foto dilansir dari: @wordfangs

Merayakan Bayangan dalam Empat Babak

Artis                 : Baskara Putra / Hindia

Album              : Menari dengan Bayangan

Rilis                   : 2019

Produser           : Baskara Putra, Adhe Arrio, Ibnu Dian, Petra Sihombing, Rayhan Noor, Rizky Indrayadi, Yosugi, Wisnu Ikhsantama

 

 

Kita mungkin berbeda dalam segala hal, tetapi bukan berarti cerita kita tak sama. Perjalanan hidup yang seringkali terjal mengukir beberapa cerita baik dan buruk. Bayang-bayang tersebut menukik tajam menghantu angan. Kita akan selalu lebih baik bersama teman, walaupun teman itu bayangan diri sendiri. Dua belas lagu, dua wejangan, satu pesan suara dirangkai dalam album Menari dengan Bayangan.

 

Baskara Putra sebelumnya telah meniti karir sebagai vokalis grup band .Feast, kini membuat proyek solonya bernama Hindia. Sebagai penulis lirik di .Feast yang mengangkat isu-isu sosial, Baskara tak leluasa bicara mengenai pengalaman pribadinya. Lahirlah Hindia sebagai media lain dengan cerita lain pula.

 

Berkolaborasi dengan beberapa penyanyi seperti, Rara Sekar, Petra Sihombing, Sal Priadi, Matter Mos, Natasha Udu, dan Kamga. Hindia seolah-olah mengatakan ‘sini kumpul dulu, aku mau berbagi cerita’. Melalui Menari dengan Bayangan, proses pendewasaan diri bagi Hindia selayaknya harus dirayakan bersama.

 

Babak Pertama: Mati Sendiri-Sendiri

 

Babak pertama dimulai dengan keterasingan melihat dunia. Bagaimana ketenangan yang dicari-cari, sangat jauh dari angan-angan.

 

“Seribu Tuhan, ini berat. Bangun berpura menjadi kuat” Evakuasi, Hindia

 

Ketenangan yang diburu dan dera kebisingan membuat Hindia merasa harus dievakuasi. Menjadi awal mula yang berat, tetapi cukup adil untuk sebuah pembuka cerita.

 

Hindia merefleksikan diri menjadi seorang yang pernah gagal dalam hidupnya. Keputusasaan digambarkan secara dewasa dalam lagu Secukupnya. Jikalau Kunto Aji punya Sulung yang berperan sebagai kakak, ketika melihat adiknya bersedih. Secukupnya seperti mengiyakan kesedihan tersebut. Kita adalah teman baik, mari bersedih bersama.

 

“Kita semua gagal, ambil sedikit tisu, bersedihlah secukupnya” – Secukupnya, Hindia.

 

Babak Kedua: Bertahan Hidup

 

Kegagalan dalam pekerjaan, kehidupan percintaan, maupun cita-cita membuat Hindia menemukan cara bertahan hidup. Dari lagu Jam Makan Siang, Besok Mungkin Kita Sampai, dan Dehidrasi ditemukan sikap dari kesedihan dan kegagalannya.

 

“Hidup bukan saling mendahului, bermimpilah sendiri-sendiri” – Besok Mungkin Kita Sampai, Hindia.

 

Kekhawatiran mengenai masa depannya tak terlalu nampak lagi. Berusaha melepaskan diri dari racun diri sendiri dan mencoba hidup tenang. Bahwasanya mimpi kita mungkin besok akan sampai sendiri.

 

Babak Ketiga: Jangkar

 

Pelepasan dari racun diri sendiri, di babak ini adalah sebuah penguatan dan alasan-alasan Hindia untuk hidup lebih baik. Hal tersebut terpresentasikan dalam lagu Membasuh.

 

“Telat ku sadar hidup bukanlah perihal mengambil yang kau tebar” – Membasuh, Hindia ft. Rara Sekar.

 

Lagu ini merupakan bentuk rasa syukur dari perjalanan yang rumpang. Syukur atas apa yang dimiliki walau diri tak mampu, tetapi masih bisa memberi. Hindia menemukan makna hidupnya di sini.

 

Perjalanannya tak lekang dari kisah percintaan juga. Rumah ke Rumah didedikasikan untuk perempuan-perempuan yang pernah dan hadir dalam hidupnya. Sebagai rasa terimakasihnya kepada mereka, nama-nama yang disebut di dalamnya.

 

“Perempuan terkuat dalam hidupku, terjagalah apa pun yang kalian tuju” – Rumah ke Rumah, Hindia

 

Babak Keempat: Kelahiran Kedua

 

“Canggih tubuhmu kan mampu, sembuhkan lukanya sendiri” – Belum Tidur, Hindia ft. Sal Priadi.

 

Babak dimana Hindia mampu lahir kembali. Kesadaran bahwa dirinyalah yang mampu menakhlukkan diri sendiri, membuat Ia sedikit tenang. Kesedihan-kesedihan dan pertanyaan yang sempat terlontar, terjawab atas waktu.

 

“Berikan tenggat waktu, bersedihlah secukupnya. Rayakan perasaanmu sebagai manusia” –Mata Air, Hindia.

 

Perasaan yang jatuh dan segala proses senang dan sedihnya patut dirayakan sebagai manusia. Di titik ini Hindia menuntun untuk bersikap sewajarnya, bahwa hidup akan baik-baik saja dengan segala kekurangan.

 

“Masalah yang mengarung

Perasaan yang rapuh, ini belum separuhnya

Biasa saja kamu tak apa” – Evaluasi, Hindia

 

Evaluasi adalah sikap terakhir yang patut untuk menutup album Menari dengan Bayangan.

 

Skenario empat babak ini, dibawakan oleh Hindia dalam konser Perayaan Bayangan untuk merayakan kelahiran album perdananya.

 

Patut dikatakan sebagai skenario, Menari dengan Bayangan secara utuh merupakan sebuah cerita perjalanan hidup seseorang. Dari ia menangis, merengek, berjalan, dan berlari. Hindia menemukan proses yang cukup panjang di sini.

 

Semua perjalanan hidup dari keterpurukan, mencoba berjalan, rasa syukur, harapan, dicurahkan secara terbuka oleh Hindia. Alur cerita dari lagu pertama Evakuasi hingga Evaluasi merupakan susunan yang tepat. Bawasanya Hindia ingin menyampaikan bahwa perjalanan hidup seorang tak selalu mulus, rintangan kecil itu mesti ada dalam diri sendiri.

 

Bayang-bayang tersebut seringkali menghantui dan sedikit demi sedikit mencoba untuk menari dengan bayangan. Menikmati peran, menikmati kehidupan yang pahit.

 

Karena hidup perlu perayaan.
Bersedihlah secukupnya. []

 

 

Lutfia Nurus Afifah
Pendengar Hindia, tetapi bukan anak indie. Surel: [email protected]

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/saluransebelas/public_html/wp-includes/functions.php on line 4673

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/saluransebelas/public_html/wp-includes/functions.php on line 4673

Notice: ob_end_flush(): failed to send buffer of zlib output compression (1) in /home/saluransebelas/public_html/wp-content/plugins/really-simple-ssl/class-mixed-content-fixer.php on line 110