lpmkentingan.com – Pagi itu (16/6) sejak pukul 09.00 WIB Ahmad Syafii Maarif tampak sumringah. Matanya masih berbinar di tengah usianya yang kian senja dan rambut yang memutih. Mengenakan busana batik coklat, Buya Syafii, begitu sapaan akrabnya, dengan semangat memaparkan pandangan tentang islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan.

Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan merupakan tema yang sengaja dipilih dalam acara talkshow kebangsaan kali ini, yang diselenggarakan oleh Nurul Huda Islamic Center bekerja sama dengan Maarif Institute. Bertempat di aula Fakultas Hukum UNS, acara ini dihadiri tak kurang dari 250 peserta.

Talkshow kali ini juga merupakan bentuk ucapan syukur Maarif Institute karena pada akhir Mei lalu Buya Maarif telah genap berusia 80 tahun. Ucapan syukur itu juga ditandai dengan diterbitkannya kembali buku Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah oleh Mizan.

“Buya Syafii sampai usianya yang sekarang masih aktif menulis. Patutlah kita belajar dari beliau karena kita yang muda-muda ini mau menulis satu buku atau satu artikel saja tak selesai-selesai”, begitu celetuk sang moderator Garin Nugroho ketika membuka acara.

Didampingi sineas kondang ini, Buya Syafii mulai memaparkan tentang proses masuknya Islam ke nusantara, yang kemudian dikerucutkan sampai di Kota Solo. Termasuk kemunculan tokoh-tokoh besar di kota ini seperti Cokroaminoto dan organisasi Sarikat Islam. Mereka merupakan pemuda dengan pola pikir yang maju di zamannya. “Maka bukan tidak mungkin negarawan-negarawan islam baru akan lahir dari kampus ini, tidak hanya dari kampus-kampus Islam seperti UIN atau IAIN,” kata Buya Syafii.

Pokok bahasan berlanjut pada politik dan demokrasi yang kacau di mata mantan ketua PP Muhammadiyah ini. Demokrasi yang cenderung diartikan sebagai lahan mencari uang tentu akan menuai masalah di sana-sini. “Mereka (politikus-red) tak lagi berorientasi pada perwujudan keadilan sosial,” tandasnya.

“Mahasiswa pun janganlah terjun ke politik dulu. Selesaikan studimu dengan benar, baru terjun ke politik. Tak perlu banyak-banyak, kalau saja bisa lahir lima negarawan dari kampus ini kondisi bangsa akan lebih baik. Negarawan yang berwawasan luas, maka curilah waktu tidurmu untuk membaca” Buya Syafii menambahkan.

Sama seperti yang ia katakan bahwa anak-anak muda barangkali lebih “rakus” dalam melalap bacaan-bacaan baru yang lebih segar, sementara yang tua masih terpaku dengan khazanah yang serba klasik yang belum tentu sesuai dengan perkembangan baru. Gejala semacam ini tampaknya seakan-akan telah menjadi kecenderungan sejarah hampir di semua negeri Muslim. Peradaban Islam tidak boleh dibiarkan seperti “kerakap di atas batu, mati tidak hidup pun enggan” (Maarif, 2015: 318)

Diselingi oleh penampilan penyanyi Endah Laras dengan lagu rohani bernuansa keroncong seperti Assalamualaikum dan Sajadah Panjang membuat acara ini menjadi lebih menyenangkan. Di akhir acara 150 peserta pertama pun mendapatkan hadiah buku gratis dari Maarif Institute.

“Harapannya agar generasi-generasi muda ini semakin gemar membaca”, tutup Buya Maarif masih dengan sumringah. (Nadia)