lpmkentingan.com – Kerumunan orang tampak memadati Teater Arena, salah satu gedung di kompleks Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT). Ada yang sedang sibuk di depan meja registrasi, ada yang asyik bergaya di booth selfie serta ada pula yang duduk-duduk bermain gawai sembari menunggu pintu dibuka. Ternyata, malam ini semua orang menunggu masuk untuk ikut berpesta. Ya, Teater Arena tanggal 13 hingga 15 Juni mempunyai jadwal menggelar pesta bertajuk Pesta Film Solo #5. Dengan tema Putar Kembali, melihat kembali tak selalu merugi, Kine Klub FISIP UNS mempersembahkan sebuah pesta dengan acara utama menonton film dan diskusi film.

Meskipun terlambat 30 menit dari jadwal pemutaran yakni pukul 19.00, begitu pintu dibuka penonton bersiap menempati posisi senyaman-nyamannya layaknya di sebuah bisokop. Jadwal tayang pada hari ketiga Pesta Film Solo #5 adalah pemutaran Film’e Wong Solo berjudul Tauhid dalam Hati yang disutradarai oleh Zen al-Anshory. Film tersebut bercerita tentang kerumitan masa transisi tradisional Jawa yang menerima pengaruh dari penyebaran agama Islam. Berfokus pada sebuah keluarga dengan seorang bapak yang berpandangan Jawa yang kental dan seorang ibu yang sedikit demi sedikit mencerna pembaharuan melalui pengajian dari radio MTA. Dalam film tersebut, bapak digambarkan sebagai sosok yang menjunjung tinggi budaya Jawa dengan keseharian nembang jawa sambil makani burung. Sedangkan ibu adalah orang Jawa yang telah mendapatkan sentuhan lebih modern yang digambarkan mulai gerah dengan tradisi Jawa seperti merawat ari-ari (plasenta) anaknya.

Berlatar lingkungan pedesaan masa lampau dengan sumber informasi melalui radio serta dialog yang menggunakan bahasa Jawa, membuat film ini begitu bersih dan alami. Cerita mulai memanas saat bapak merasa muak dengan ibu yang lebih percaya pada radio MTA ketimbang dirinya dan budaya luhur nenek moyang orang Jawa. Pengajian radio MTA dinilai bapak menyimpang karena berbeda dan dianggap tidak wajar karena melarang untuk tahlilan. Dengan pendirian yang kuat, bapak terus mencoba menyadarkan keluarganya yang meurutnya mengikti ajaran sesat. Puncaknya terjadi saat bapak duko (marah) dan membanting radio karena ibu yang dipanggil-panggil tidak kunjung membalas karena asyik mendengarkan radio.

Akirnya bapak yang bingung dengan permasalahan tersebut pun berikhtiar dengan bersepeda puluhan kilometer ke pusat kota untuk menemui pemuka agama dan meminta pendapatnya mengenai radio MTA. Di sini, bapak pun mendapat jawaban bahwa apa yang disuarakan radio MTA adalah apa yang diajarkan MTA. Siapapun boleh menerima namun juga boleh berbeda pendapat. MTA tidak memaksa umat untuk serta merta meninggalkan tradisi Jawa seperti tahlilan, namun tahlilan bukanlah ajaran dari MTA. Semua orang berhak menolak boleh setuju, namun tidak ada paksaan, karena inilah ajaran MTA. Mendengar jawaban demikian, bapak pun tampak kembali tenang dan pulang dengan membawa radio baru.

Dalam film yang berdurasi tak kurang dari satu jam ini sutradara Zen al-Anshory mencoba mengangkat tema keberagaman yang disinggungkan objek keluarga, tradisi dan agama. Film dengan cerita yang sederhana namun serius ini pun mendapat sambutan hangat dan tepuk tangan dari penonton. Seusai menonton kisah keluarga, budaya, dan agama, kisah menarik lainnya datang dari sesi diskusi dengan tema “Perindustrian Film Indonesia”. Dalam diskusi yang memperbincangkan bagaimana produksi film, minat menonton film orang Indonesia hingga pembajakan film ini turut menghadirkan pembicara perfilman seperti Haryanto Corakh, Zen al-anshory, dan Tunggul Banjaransari.

Menanggapi persoalan film Indonesia yang sepi penonton, Haryanto Corakh mengungkapkan bahwa keunggulan film luar terutama Hollywood adalah teknologi, hal ini bisa dilawan dengan konten yang bagus. Dia mencontohkan filmnya di tahun 2009 Emak Pengen Naik Haji yang pada waktu itu berhadapan dengan film 2012 dan penjualan tiketnya pun mampu bersaing. “Film 2012 itu memamerkan teknologi dengan special effect yang super canggih, kita lawan dengan hati nurani,” ungkapnya yang menuturkan bahwa film Emak Pengen Naik Haji cerita yang dekat dengan rakyat dan bisa bertarung dengan film Hollywood. Dia juga mengajak kepada penonton dan komunitas film di berbagai kota di Jawa Tengah bahkan hingga Surabaya, untuk mengedepankan konten bila suatu hari membuat film.

Membicarakan minat menonton film masyarakat Indonesia, ketiga pembicara juga menunjukan keluh kesahnya hidup di dunia perfilman. Haryanto memberikan contoh biaya produksi film Pendekar Tongkat Emas yang memiliki biaya produksi sebesar 25 miliar namun pemasukan hanya 5 miliar dari penujualan tiket. Bila hal ini terus berlanjut maka produser atau investor dunia perfilman akan semakin menjauh. Pendapatan yang minim ini pun belum bisa ditutup oleh penjualan dalam bentuk piringan CD dan hak siar oleh televisi. Keadaan ini juga diperparah oleh banyaknya kasus pembajakan yang terjadi di Indonesia. Namun, para pembicara justru melihat dengan pandangan lain. Tunggul berasumsi bahwa dibalik pembajakan ada tangan-tangan dari produser sendiri yang sengaja membajak film yang diproduksi sendiri. Sementara itu, Zen tak ambil pusing filmnya dibajak. Meskipun tidak mendapat keuntungan materil, pembajakan dapat membuat nama pembuat film menjadi terkenal. “ DVD Filmku itu belum laku semua filmnya aja di Youtube udah ada. Aku pikir yaudah, ga masalah, yowes” tutup Zen dengan santai. (Inang)