BARANGKALI sudah banyak yang merasa muak, pada tabiat mahasiswa dalam menilai sastra. Kupikir, kita memang telah memasuki masa di mana kemakluman sivitas akademika atas buku-buku diktat yang membelenggu sastra kian memuncak.

 

Alkisah, sempat seorang awak aktivis mahasiswa bersikap sangsi pada tulisan-tulisan pers mahasiswa. Ia menyayangkan satu hal: mengapa tulisan-tulisannya kini lebih cenderung sastrawi ketimbang kritis.

 

Mafhum. Si aktivis pasti lupa atau memang tak tahu bahwa teriakan “hanya satu kata: Lawan!” yang kerap berkumandang saat demonstrasi merupakan salah satu bait puisi milik Wiji Thukul: Peringatan (1986).

 

W.S Rendra pun pernah sangsi pada dirinya. Ia seorang penyair yang ingin menuangkan sajak-sajak penuh makna sosial, ekonomi, dan politik, namun merasa tak mumpuni dalam mendalami bidang-bidang tadi. Kemudian ia melihat betapa peliknya permasalahan tersebut. Ia menghayati, belajar, lalu munculah Bengkel Teater dengan diskusi sosial, dokumentasi gunting-guntingan koran, perjalanan studinya ke desa-desa, hingga kumpulan sajak kritik sosial berjudul Potret Pembangunan dalam Puisi (1996).

 

Konon, aktivis memang haus akan pergerakan massa. Sebut saja: aksi massa. Coba dengarlah dulu kicauan Rendra.

 

“Jembatan seniman dengan khalayak ramai hanyalah kekuatan ‘bentuk seni’. Sebab meskipun isinya hebat tapi kalau bentuk seninya lemah tidak akan menarik khalayak ramai. Ibarat orang gagap yang punya gagasan bagus tapi tidak mampu menyampaikannya.”

 

Setidaknya kekuatan inilah yang disadari Pilus, tokoh dalam novel Bila Satpam Bercinta (Dono, 1999). Saat demonstrasi kampus ia diundang kepanggung dan menyanyikan lagu kritikan dengan gitar. Massa jadi tambah semangat dan berdecak kagum. Bila lagu Darah Juang dan Mars Mahasiswa disajikan dalam teater atau sajak Rendra, deklamasi puisi seperti Thukul atau gitaran dari Pilus, aku rasa demo akan lebih indah dan tidak berisik.

 

 

Sastra Mampir di Kampus

Siapa bilang sastra tidak pernah hadir di ruang kelas? Aku sendiri yang menjadi saksi bagaimana sastra hadir di ruang kelas, dan tidak ada satu mahasiswa pun yang mengenalnya. Suatu pagi, kuliah yang jarang – nyaris tak pernah – menyentuh sastra itu, dikejutkan dengan cerita seorang dosen yang tiba-tiba menyebutkan nama Umar Kayam. “Ada yang tahu Umar Kayam?” tanya sang dosen. Seperti biasa, mahasiswa tidak bergeming. Entah bingung atau kaget, maknanya sama saja: Tidak tahu Umar Kayam itu siapa!

 

Keheningan itu membuat sang dosen menyeringai, kemudian tertawa kecil sebagai keprihatinan sekaliagus ejekan. Ku artikan saja sebagai tanda kesedihan sekaligus geram. “Harusnya kalian tahu!” Mungkin pikirnya begitu.

 

Sayang, Umar Kayam pada akhirnya hanya dijadikan penghias tanya dan dijelaskan dengan sangat hemat. “Umar Kayam adalah seorang sastrawan yang terkenal,” itu saja.

 

Jika memang ingin bertanya perihal hafalan nama-nama sastrawan, mengapa sang dosen tidak bertanya dan menyeringai pada guru-guru sekolah pembedah sastra saja? Sayangnya, sastra sekolahan sudah tereduksi menjadi tak lebih dari sekedar majas dan kumpulan bait. Itusaja.

 

Kisah lain aku dapat lagi. Seorang profesor mencoba membandingkan pencapaian Indonesia dan negara lain pada suatu waktu. Tanyanya, “pada abad ke-8 ketika orang Indonesia sedang sibuk membangun Candi Borobudur, orang dari negara lain sudah bisa apa?” Dengan ragu, beberapa mahasiswa menggelengkan kepala. Sikap mereka bermakna ganda: tidak tahu atau memang mengiyakan bahwa negara lain pada masa itu belum bisa melakukan apa-apa.Yang kedua nampaknya lebih diamini.

 

Sang profesor mengiyakan. Tanda bahwa bangsa lain – pada masa itu – masih kalah dengan bangsa Indonesia.

 

Tapi, sastra memang kurang ajar! Pada halaman 12 dalam Dua Puluh Sastrawan Bicara(1984), Nh. Dhini yang “hanya” seorang sastrawan itu berani-beraninya menebas habis asumsi profesor.

 

“Di waktu kita di sini barangkali sedang merencanakan pembangunan candi Borobudur (abad ke-8), di sana [Prancis] orang sudah memiliki sastra yang dibaca. Puncak dari pengakuan akan kehadiran sastra tersebut adalah didirikannya Academie Francaise [..] bahkan Shakespeare menulis karyanya ketika bahasa Indonesia belum menunjukkan gejala kelahirannya.”

 

Mahasiswa yang menggeleng tadi tak salah, asumsiku yang salah. Yang benar, memang tanda menggeleng tadi condong ke perkiraan jawaban pertama: mahasiswa tak tahu sastra. Sedangkan sang profesor, sudah barang wajar jika ketidaktahuannya pada sastra dimaklumi. Para profesor dan dosen lebih sering menggunakan kacamata kuda dalam memandang sebuah persoalan. Ambil dua sampai tiga variabel, lakukan penelitian, selesai. Sementara sastra memiliki ratusan variabel yang saling terhimpit-terkait. Sastra bias melebihi sekat-sekat keilmiahan formal.

 

Sastra ternyata cuma mampir di ruang kelas. Tidak ada kesinambungan antara perkuliahan dan sastra. Begitu remeh temehnya ia, hingga kearifan sastra seperti pengamatan sejarah suatu bangsa, penghayatan hidup, pencarian kearifan, bahkan menjunjung nilai kemasyarakatan sering dianggap bukan merupakan bagiannya. Salah satu bagian dari Tri Dharma perguruan tinggi yaitu penelitian, dianggap tidak dapat lagi dinikmati lewat ujaran-ujaran sastra.

 

Sastra begitu flamboyan hingga pengartiannya hanya sebatas pada keindahan kata dan imajinasi dari sang pengarang. Penikmat sastra dan akademisi terkecoh semata pada sastra arus utama seperti Tere Liye serta jutaan cetakan novel Dilan-Milea yang laku dikutip menjadi bahan renungan cinta remaja. Contoh-contoh karya, seperti yang diujarkan Mochtar Lubis, dari seorang pengarang yang tidak punya kepekaan manusiawi, yang tidak peka terhadap apa yang terjadi ditengah masyarakatnya, dan tidak peka terhadap arus-arus sejarah yang timbul di zamannya. Novelis-novelis macam mereka dapat saja mengarang tentang kehidupan yang serba indah, serba menyenangkan, amat romantis, penuh dengan kepuasan dan kesenangan hidup. Tapi cuma berhenti sampai di situ.

 

Namun, sebenarnya Indonesia tak sebobrok itu dalam perjalanan kesusastraannya. Banyak sastra yang perlu dinikmati untuk mengetahui bagaimana bangsa ini berdiri dan bagaimana ia akan berdiri. Kalau kata Mochtar Lubis lagi, pengarang hidup di tengah kehidupan manusia, dia mengenal pertentangan atau perbenturan antara yang baik dan yang jahat (dan tidak selalu yang baik yang menang, yang heroik, yang tragis, dan juga komis).

 

Jika memang sudah tak mau mengakui begitu, ikhlaskan saja keluhan Subagio Sastrowardoyo dengan menjadikan adegan dalam drama Julius Caesar menjadi benar: seorang penyair yang dihalang-halangi ketika hendak masuk kemah dan melerai di mana Jenderal Brutus dan Cassius sedang bertengkar. Ia akhirnya berhasil masuk, namun Brutus secara kasar membentak “Di tengah peperangan begini mau apa kita dengan orang gila tukang berdendang ini? Sobat, nyah dari sini!”

Ah, sastra selalu dipaksa keluar.[]

 

[author title=”Ririn Setyowati” image=”https://www.saluransebelas.com/wp-content/uploads/2016/04/Ririn-Setyowati.jpg”]Seorang mahasiswi pembelajar pesan. Sering dikatakan terlalu belia dan belum pantas. Namun, menepis stempel dini bukan merupakan hal yang salah. Mencoba mengimplikasikan ‘manusia bermoral’ seperti apa yang diharapkan Moctar Lubis dalam pahamnya. Surel: [email protected].[/author]