Mereka hidup berdua di desa tepi pantai. Malam tak pernah sepi oleh debur ombak yang jelas terdengar. Seolah menerjang rumah-rumah disekitar bibir pantai. Menggulung-gulungkan sayap basahnya, menarik kembali, roh yang tengah berkelana menuai mimpi. Berusaha menjangkau bangunan hitam di kegelapan. Anyaman ilalang kering yang menjadi atap hunian ini hampir lapuk atau memang sudah lapuk, aku bisa mengintip bintang-bintang  yang hilang timbul dari beberapa tempat. Tentu saja rumah ini sudah tua dan lapuk, entah delapan belas atau bahkan dua puluhan tahun sejak batang pohon kelapa itu menyangga anyaman ilalang dilangit-langit. Tak ada yang memperbaikinya, memperhatikan pun tidak.

Aku masih belum bisa tertidur, Muti sudah pulas di pelukan mamaknya. Lama kupandangi wajah mamak, teringat ceritanya tadi siang. Mamak menikah saat usianya sudah mencapai 36, perawan tua begitu katanya dengan tertawa. Laki-laki yang menikahinya pun tak muda pula. Hingga waktu itu tiba. Muti baru dua tahun saat bapaknya pamit merantau, untuk merubah nasib mereka katanya. Kini umurnya sudah tiga belas. Terhitung sebelas tahun bapaknya pergi tak lagi berkabar. ’Tak tahu’, satu-satunya kata yang selalu diucap Muti ketika ada pertanyaan mengenai bapaknya.

”Muti, inget wajah bapak nggak?”

”Nggak inget.”

”Kangen sama bapak nggak?”

”Nggak.”

”Pengen ketemu bapak nggak?”

”NGGAK PENGEN”, puncak dari emosi terpendamnya. Jawaban yang cukup mencengangkan, mengingat kebanyakan anak rindu kepada orang tuanya bila lama tak berjumpa. Tak kusangka jawab demi jawab selanjutnya, semakin membuatku terpaku.

”Muti kenapa nggak mau ketemu sama bapak? Itu kan orang tuanya Muti juga!”

”Muti nggak punya yang namanya bapak. Cuma ada ibu, nggak ada lainnya. Bapak nggak mungkin nelantarin anak dan istrinya. Jadi Muti nggak punya yang namanya bapak!”. Bukan salah Muti, bukan salah mamaknya, juga bukan salah hunian bersangga pohon kelapa ini. Kalau pun Muti ingin bertemu bapaknya, akankah laki-laki itu kan kembali? Tak untung mamaknya, memendam sepi ditinggal suami. Tinggalkan bangunan hitam di kegelapan dan kerja keras menopang hidup panjang.

 

Sebelum ini sudah sering terdengar olehku. Hidup di daerah pesisir itu keras. Baik orang maupun alamnya. Tapi tak terasa nyata hingga aku menginderainya. Melihat bulir keringat mamak Muti menarik jaring dari tepi pantai dengan wanita-wanita lain. Terbungkuk dan menengadah, bertarung mengalahkan laju air yang kembali ke laut. Mendengar cerita mamak tentang Muti yang masih kecil, sedang dirinya yang kian menua. Merasakan hambarnya nasi jatah yang telah menguning, terselip asin dari potongan kecil ikan kering. Dan tak lupa, bintang-bintang yang hilang timbul di langit-langit hunian. Masih untung aku, bukan penghujan saat ini, dan bukan tetes deras air pula yang mengaliri ilalang lapuk.

Hujan kerap kali membawa dingin dan lapar bagi Muti dan mamaknya. Rintih nasib dan air mata hunian yang menjadi satu. Dikala hujan datang dan tak lagi musim ikan. Tapi selalu ada bahagia ditengah ketiadaan itu, seperti kue lapis yang memiliki banyak lapisan. Kemarin mungkin ada tiga lapis yang pahit. Seperti halnya hujan yang bisa memberi kehidupan baru bagi hamparan padi yang hampir tumbang ketika kemarau panjang. Enam ekor ikan teri hasil upah ketika penghujan, mampu menarik ujung bibir anak beranak itu. Satu buah kelapa tua yang jatuh di samping rumah membuat mereka berwajah sumringah.

Kembali beruntung aku, karena bisa bersama mereka saat ini. Memandangi wajah letih hasil hari ini. Dan masih ada esok, lusa, dan hari-hari letih selanjutnya. Mungkin aku akan memperpanjang keberadaanku disini. Menjadikan diriku bermanfaat. Aktualisasi, bentuk kebutuhan tertinggi yang ingin kucapai saat ini. Meski dengan pondok baca kecil di pinggir pantai. Tak mengapa, selagi Muti dan anak-anak seperti dirinya masih menganggap aku bisa berguna bagi mereka.

Dua lebih sembilan. Ombak belum lelah juga, buat aku pun tak kunjung menuai mimpi. Benang kusut yang belum bisa kuuraikan, terlalu banyak tanya. Manusia yang tak tahu akan kepastian. Hanya bisa bertanya, menggantung sebanyak mungkin pertanyaan yang mampu ia tanyakan. Meski tak satu pun mampu terjawab. Tanyaku menggantung pada ilalang lapuk di kegelapan. Menerobos langit-langit, berharap lintang akan berformasi membentuk wajah Muti yang tersenyum bahagia. Nasib? Hunian bersangga pohon kelapa? Beras yang tinggal dua gelas? Atau karena bapaknya? Yang telah merenggut senyum remaja awal itu.

Bisakah senyum itu kembali, kemana nasib ini akan membawanya? Atau, nasib tak akan pernah  membawanya kemana-mana. Seperti hunian ini yang melapuk, tak ada yang peduli, tak ada yang memperbaiki. Mungkin memang benar, laki-laki itu pergi untuk merubah nasib mereka. Merubah nasib Muti dan mamaknya menjadi kelabu. Sedang dia, tak tahu dimana. Entah mati atau pun kawin lagi! (Sklera)