Di sawah itu padi-padi sudah mulai menua, sepertinya sebentar lagi akan dipanen.

 

TIDAK ADA burung-burung berterbangan di area sawah itu. Padahal, katanya, burung-burung suka memakan padi. Jika bukan karena burung-burung sudah kenyang, atau sudah bosan dengan padi, bisa jadi burung-burung itu takut dengan memedi yang ada di area sawah itu.

 

Aduh sayang nasib burung yang takut dan kelaparan. Ia mesti pergi jauh untuk mencari makan, bukan di sawah itu. Iya memang benar bahwa si petani yang menanam padi-padi itu. Seperti kata pepatah, “Siapa yang menanam, ia yang menuai”. Dan burung-burung itu benar-benar tidak pernah diajak untuk ikut menanam padi.

 

Petani-petani tidak ingin padi yang ia tanam dimakan oleh burung-burung yang tidak ikut menanam, bisa rugi mereka. Maka ia memasang memedi-memedi agar burung-burung takut dan pergi menjauh.

 

Di sawah yang padinya sudah mulai menua itu, ada memedi orang-orangan. Apa burung takut dengan orang-orangan? Sepertinya burung-burung lebih takut dengan orang beneran, tapi bagaimanapun, orang-orangan juga terlihat seperti orang beneran. Ia punya kepala, ia juga punya badan, kadang pula di wajahnya diberi senyuman. Kalau ia bergerak-gerak, takutlah burung-burung.

 

Tapi ternyata bukan hanya orang-orangan yang ada di sawah itu. Berkibarlah pula bendera-bendera partai politik. Apa iya burung juga takut dengan (bendera) partai politik?

 

Karya arsip Art Edu Care #7 yang dipamerkan pada perhelatan Art Edu Care #10 di Taman Budaya Jawa Tengah, (11-15/4) – Adhy Nugroho/LPM Kentingan

 

 

Di perhelatan Art Edu Care #10 yang ada di Taman Budaya Jawa Tengah, gambaran sawah itu terpampang sepanjang galeri besar. Di dekatnya, ada diletakan kursi-kursi yang biasa terlihat di ruangan rumah. Orang-orang pada duduk di kursi itu. Seperti sedang mertamu saja.

 

Dibilang oleh si pembuat karya, Diki Krisna atau yang akrab disapa Bokir, karya itu merupakan rekaan ulang dari salah satu karya yang cukup ikonik dari perhelatan Art Edu Care tiga tahun silam. Pada 11-15 April 2019, galeri Taman Budaya Jawa Tengah memang terisi oleh arsip karya-karya Art Edu Care selama satu dekade ini.

 

Menurut Adam Wahida, ketua umum acara, Art Edu Care kali ini memang sengaja mengajak pengunjung untuk membawa ingatan Art Edu Care dari tahun ke tahun. “Sejauh apa ia memberi dampak ke masyarakat dan, sebaliknya, sejauh apa yang didapat oleh masyarakat dari Art Edu Care” seperti itulah singkatnya.

 

Maka Bokir mengingat kenangan tiga tahun silam. “Saat itu kami mengajak petani untuk terlibat, saat itu adalah (membuat) ogoh-ogoh” jelasnya. Di pesawahan area Palur, Karanganyar, ia membuat memedi dari barang-barang keseharian. “Apa saja yang ada kami manfaatkan” katanya. Karena memang dibuat sedekat mungkin dengan keseharian petani, maka benda-benda yang digunakan dalam pembuatan instalasi memedi juga beragam. “Ya kadang orang-orangannya menggunakan baju, bajunya baju partai” ungkap Bokir.

 

Karya arsip Art Edu Care #7 yang dipamerkan pada perhelatan Art Edu Care #10 di Taman Budaya Jawa Tengah, (11-15/4) – Adhy Nugroho/LPM Kentingan

 

Baca Juga: Para Penentang Elitisme Seni

 

Perihal memedi sawah, beberapa waktu silam pameran bertajuk “Memedi Sawah” karya Hari Budiono dihelat di Balai Soedjatmoko, Solo. Memedi-memedi sawah malah tidak terlihat menakut-nakuti. Ia membawa wajah-wajah tokoh terkenal yang sedang tersenyum, tertawa.

 

Dalam pengantar untuk pameran ini, Sindhunata menyampaikan bahwa kita tidak perlu untuk takut dengan memedi sawah. “Pesan yang ingin ditampilkan adalah memedi sawah bukan lagi orang-orangan yang dibuat untuk menakut-nakuti burung pipit pemakan padi di sawah, melainkan manusia-manusia yang kini di mana-mana menakuti sesamanya. Jelas memedi sawah adalah simbol yang memadatkan pengalaman ketakutan yang sedang mencekam banyak warga di tahun politik 2019 ini” tulisnya. Karena menurutnya, tertawa akan mengalahkan segala ketakutan.

 

Memang kita sebagai orang-orang beneran yang nantinya akan membeli padi dari petani tidak perlu takut dengan memedi sawah. Apalagi mereka semua tersenyum. Petani memang hanya ingin menakut-nakuti burung-burung yang suka mencuri padinya. Sungguh malang burung-burung itu, di sisi lain berbahagialah para petani yang sebentar lagi akan panen.[]

 

Reporter: Adhy Nugroho