Di antara puluhan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa), cuma satu yang berhasil membuat anak-anak pers mahasiswa jatuh cinta. Ialah BEM. Iya, Badan (ng)Eksekutif Mahasiswa.

 

Rasanya cuma anak-anak pers mahasiswa yang dengan getol menunjukkan perhatian. Dan itu dilakukan ya cuma kepada BEM. Misalnya, sekira dua tahun silam anak-anak pers mahasiswa kere yang getol cari duit melalui pemuatan tulisan di Subrubrik Mimbar Mahasiswa Solopos itu jalin-menjalin. Padu argumen. Setiap Selasa, subrubrik yang menjadi pijakan pergulatan gengsi sok ngintelek para mahasiswa Soloraya itu memuat tulisan hal-ihwal BEM Universitas Negeri Sengsara. (Eh. Omong-omong, buku Universitas Negeri Sengsara cetak lagi, hlo. Handai taulan bisa segera memesan. Rajin-rajin menengok postingan dan instasory @kentinganpers ya. Hufff).

 

Mulai dari nyinyir terhadap acara pemilihan Mas-Mbak UNS yang sempat bernama Festival Seni Budaya sampai ganti nama jadi Festival Apresiasi Mahasiswa. Menantang para aktivis BEM untuk meladeni keangkuhan anak-anak persma dengan menulis di subrubrik yang sama. Sampai, ada yang ngimpi jadi presiden BEM. Wong edan!

 

Selasa dua pekan lalu, tulisan Wakil Presiden BEM terhormat: Ananda Faith Aqila Silmi muncul di subrubrik Mimbar Mahasiswa. Menurutmu, siapa yang paling ekpresif menyambut pemuatan itu? Ya anak-anak persma. Siapa lagi sih yang masih selo hidupnya untuk sekadar membaca koran. Jadul banget. Sama sekali ndak kontemporer.

 

Anak-anak persma yang jelas kere, mengandalkan subsidi koran dari kampus. Membaca di sekretariat pers mahasiswa yang pengap oleh buku-buku pengangguran. Peristiwa membaca tak cukup untuk mendorong niat menulis. Butuh pisuhan, caci maki dari kawan-kawan sesama pers mahasiswa untuk kemudian memulai peristiwa menulis dengan darah dan amarah. Dan tentu saja, nafsu untuk eksis!

 

Foto tulisan sudah dibagi di grup perpesanan Whatsapp, segelintir anak-anak pers mahasiswa segera membikin sumpah. Membalas tulisan wapres BEM. Marwahnya sebagai anak pers mahasiswa merasa dipertaruhkan. Bagaimanapun, bersinggungan dengan aktivis BEM melalui tulisan ialah jalan  membribik dus menunjukkan kasih sayang yang paling mungkin dilakukan anak pers mahasiswa.

 

Hari Selasa tiba lagi, malam harinya anak-anak pers mahasiswa yang sudah mengirim tulisan ke redaksi Solopos berebut mimpi. Sudah berencana membikin instastory atas pemuatan tulisan. Jebul, pagi berkhianat. Yang muncul memang tulisan anak pers mahasiswa, tapi yang paling nggak niat. Hari-hari berikutnya, si penulis tetap tak percaya tulisannya muncul mengalahkan tulisan kawan-kawannya yang dalam keseharian berbuih-buih sok ngintelek.

 

Aku emoh ngirim maneh

 

Weh, kepiye tha kik. Emang kowe ora seneng tulisanmu dimuat?”

 

Ndak nyaingi awakmu, mas, mbak. Ndak tulisanku kemuat maneh. Kan artine tulisan kalian ketolak maneh. Hehehe

 

Gavle, ya”

 

Anak-anak pers mahasiswa kadung yakin, tulisan ialah medium membribik paling romantis. Mereka jadi buta. Bahwa untuk dekat dengan seseorang, harus pula pandai merasa dan turut serta. Dikira para aktivis BEM punya cukup waktu luang untuk sekadar membaca kasih sayang anak-anak pers mahasiswa di koran, apalagi membalasnya? Cih!

 

Waktu mereka habis untuk diskusi hal-hal genting kenegaraan dan mendampingi warga. Itulah esensi aktivis mahasiswa sesungguhnya. Tak terlalu banyak wacana. Cuma ada satu kata: lawan! Hidup mahasiswa Indonesia!

 

Mustinya anak-anak pers mahasiwa ini rajin ikut urun serta turun ke jalan. Merasakan atmosfir demontrasi yang kerap mereka curigai ditunggai organisasi-organisasi ekternal bahkan partai politik. Di medan demonstrasi, anak-anak pers mahasiswa kan bisa menyeka peluh para aktivis BEM, memberi mereka minum. Jangan lupa foto bersama dengan tangan terkepal dan lantang teriakkan “Hidup mahasiswa Indonesia!”. Cheers. Publik instagram pasti akan turut mendoakan supaya hubungan kedua insan ini senantiasa romantis bahkan bila perlu bisa segera dikukuhkan ke jenjang yang seriyes. Tsah! []

 

 

Rizka Nur Laily Muallifa. Senang pergi ke pantai, acara seni, dan toko buku.