Pengalaman pertama saya membeli celana dalam sendiri berakhir dengan kepanikan. “Beli lima, mbak, yang cokelat,” kata saya kepada pramuniaga yang merangkap sebagai penjaga mesin kasir, setelah dia menunjukkan pilihan warnanya: cokelat telur ayam atau biru pudar langit siang hari.  Tangannya memencet tombol dan bunyi seperti mengelupas plaster keluar dari mesin. Di layar, nominal angka muncul. Saya lupa tepatnya, tapi sekitar Rp 100.000.

 

Saya berusaha mengatur mimik muka setenang mungkin. Dan makin kepayahan ketika melongok isi dompet.

 

“Eh, beli tiga saja deh, mbak,” kata saya setelah melalui perdebatan pendek di dalam kepala: “Kalau beli dua, perbedaannya terlalu jauh.”

“Tapi—“

“Tiga saja!

 

Di perjalanan menuju indekos, saya mengutuki diri. Mestinya, dengan duit segitu, saya bisa beli buku puisi Buku Latihan Tidur dari Joko Pinurbo yang sudah berminggu-minggu saya idamkan, ketimbang tiga helai celana dalam. Sejurus kemudian, saya membayangkan ada larik-larik puisi Joko Pinurbo di sekujur celana dalam saya. Puitis sekali.

 

Saya kira satu harganya lima ribu, kata saya ketika ibu menghubungi. “Kalau lima ribu kamu baru dapat karet kolornya saja!” katanya. Repot juga, pikir saya, kalau celana dalam dijual terpisah.

 

Sampai kuliah, untuk keperluan sandang, saya nyaris tidak pernah beinisiatif beli sendiri, baik urusan dalam atau urusan luar. Baru dua kaos yang saya beli karena keinginan. Sisanya dibelikan ibu atau dipaksa membeli oleh suatu kepanitiaan atau teman-teman kelas—jadi, setidak-tidaknya saya bisa memaklumi diri saya sendiri ketika tidak tahu perkiraan harga celana dalam.

 

Dulu saya mengira menjadi dewasa berarti mempunyai keleluasaan membeli baju sendiri. Saat saya kecil, orang dewasa di sekitar saya sering mengenakan kaus bergambar logo band atau tulisan dengan font sulit terbaca. Sampai sekarang, saya tidak yakin kalau itu dibelikan ibu mereka. Orang tua rasanya tidak punya selera segaul (pada masanya) itu.

 

Menjadi dewasa kemudian saya artikan melakukan apa-apa sendiri dan sesuka hati. Memilih baju sendiri, menentukan model pangkasan rambut sendiri, atau naik motor sendiri. Tidak perlu ada orang tua duduk di jok belakang; bukan sebagai yang–dibonceng, tapi yang-mengawasi.

 

Samar-samar saya ingat pertama kali berangkat ke tukang cukur seorang diri. Mungkin waktu itu saya berada di SD kelas tinggi. Saya bersepeda menggunakan sepeda keranjang berwarna merah. Tukang cukur langganan jaraknya sekitar empat kilo meter dari rumah. Saya selalu ke sana tiap bersama orang tua. Tapi tidak kali ini. Saya mengontel lebih jauh ke utara sekitar 400 meter. Di sana ada tukang cukur lain. Saat duduk di bangku dan menghadap cermin, saya bilang, “Jangan pendek-pendek, pak.”

 

Seketika itu saya merasa bukan anak kecil lagi. Biasanya potongan rambut saya pendek dan kotak seperti Tukul Arwana. Orang tua saya, yang meminta saya bercukur demikian, bilang itu gagah seperti tentara. Padahal, ketika kelas dua SD dan berangkat telat, saya mondar-mandir di depan kelas dan hampir memutuskan tidak masuk kelas berkat malu karena sore kemarin rambut saya terpangkas dan kepala saya berwujud seperti bus antar-kota antar-provinsi. Tapi, dengan cukuran tak cepak ini, besok saya bisa berjalan penuh percaya diri.

 

Pada baju lebaran tahun ini saya merasa seperti bocah kembali. Sudah dari kelas satu SMA baju hari raya saya itu-itu saja. Baju koko lengan panjang berwarna putih. Saya tidak ada keberatan. Ketika saya pulang pada sore kelima sebelum hari raya, ibu mengoper plastik putih. Isinya baju koko lengan pendek berwarna merah. “Biar bajumu gak itu-itu saja, ibu sama adikmu memilih baju yang kira-kira kamu suka. Lama sekali lho milihnya,” kata ibu.

 

Ketika saya pakai, bajunya kekecilan.

 

“Seharusnya kamu ikut,” kata ibu ketika hendak berangkat menukarkan baju pada minggu pagi, “biar bisa pilih sendiri.” Saya sedang bermain dengan dua keponakan saya, melihat mereka mendorong-dorong kursi kesana-kemari dan melempar benda-benda yang ada dalam genggaman sesuka hati dan berteriak-teriak tiada henti. Lagi pula saya baru bangun tidur. Malas sekali kalau mesti ke pasar.

 

“Ayo,” kata ibu sekali lagi. Sambil ogah-ogahan, saya menuju kamar, memakai celana panjang.

 

Dari kecil ia tahu, saya selalu malas ketika diajak menemaninya ke pasar. Hawa pasar selalu bikin saya mengantuk. Maka ketika dia mengetahui saya menunjukkan gerak-gerik mau ikut, dia terlihat gembira.

 

Ibu menyalakan motor. Dari dalam rumah saya berjalan malas-malasan persis pemain bola yang diganti ketika timnya unggul. Yang dia tidak tahu, seketika itu saya seperti terlempar kebelakang dari umur saya yang sudah dua puluh tahunnan ini: dibonceng dan memegang lekuk baju bagian pinggangnya erat-erat, menuju pasar, buat beli baju lebaran. Mungkin dia akan bilang “jangan tidur” ketika helm kami bertumbuk. Tapi sebelum itu terjadi, ibu bilang, “Kamu yang depan, ya?”[]

 

 

Irfan S. Fauzi
Takmir Liqo Akar Sungai, komunitas sastra Kampus IV UNS Surakarta. Surel: [email protected]