“APA yang terjadi dengan seorang manusia ketika tidak ada lagi yang mengingatnya?” Pertanyaan ini diajukan Han Nolan dalam novelnya, Dancing In The Edges yang ditulis tahun 1997. Miracle, si tokoh utama dalam novel tersebut, bertanya-tanya setelah Ayahnya, Dane, menghilang entah ke mana. Miracle lalu mengajukan pertanyaan tadi. Jangan salah. Ayah Miracle tidak mati. Itu berarti, pertanyaan tadi tidak ditujukan kepada manusia-manusia yang sudah tak bernyawa. Nolan – lewat Miracle – justru menggugat eksistensi manusia yang masih menyatu jiwa dan raganya. Apakah kita masih bisa disebut manusia, ketika tidak ada yang mengingat kita?

 

Sekitar satu abad sebelumnya, seorang gadis Jawa keturunan ningrat mengajukan pertanyaan serupa. Namun kali ini pertanyaannya diajukan khusus kaum hawa. “Apa yang terjadi dengan seorang perempuan ketika tidak ada lagi yang mengingatnya?” Pertanyaan itu memang tidak diajukan secara langsung. Tapi Kartini, sang gadis Jawa, secara tersirat mengajukan pertanyaan itu kepada seluruh perempuan.

 

Pertanyaan itu bukan pertanyaan sembarangan. Kartini tak pernah mengangkat senjata, turun ke jalan, atau menyusup laiknya mata-mata. Tapi namanya tetap dikenang hingga sekarang. Padahal ia sudah tak bernyawa sejak berusia 25 tahun. Usia yang bagi perempuan sekarang, digunakan untuk membangun karir usai lulus dari bangku kuliah.

 

Kartini sadar suaranya tak bakal didengar. Maka ia memilih tak bersuara. Tapi bukan berarti pemikirannya terpenjara. Lewat kata-kata, ia bebas dari kamar sempit nan dingin yang ia huni sejak berusia 14 tahun. Kartini berusaha menjadi manusia. Baginya, seorang perempuan yang hanya berjongkok di belakang pria, tak punya pendidikan tinggi, dan rentan dipoligami, bukanlah manusia. Justru setelah tak bernyawa, Kartini menjadi hidup. “Saya menunggu waktu saya dengan tenang. Kalau waktu itu tiba, maka orang akan melihat bahwa saya bukan benda mati, tetapi manusia. Dengan kepala dan hati yang dapat berpikir dan merasa,” tulis Kartini kepada Nyonya Abendanon bertarikh 7 Oktober 1900.

 

Yang membuat Kartini tetap menjadi manusia adalah buku-buku dan tulisan-tulisan yang ia hasilkan. “Surat-surat itu memiliki peran yang sedemikian besarnya terhadap hidup kami, hampir semuanya kami peroleh berkat korespondensi itu,” katanya dalam surat kepada Tuan Abendanon, 8 Agustus 1902. Kartini melanjutkan, “Percakapan mungkin dapat lebih mudah dilakukan dan masuk dalam memori kita, tapi semua itu tentu lama kelamaan akan tergerus oleh waktu, meski pokoknya masih terjaga utuh.” Ia memandang tulisan akan lebih abadi dibanding ucapan. Sehingga dalam penutup suratnya Kartini menuliskan, “Dan sesungguhnya keberadaan surat-surat itulah sewaktu-waktu dibaca akan mengingatkan kita, sesering yang kita kehendaki.”

 

Kartini benar. Kumpulan pemikirannya tak pernah habis dibaca manusia. Membuatnya tetap hidup meski sudah mati. Kebalikan dari Kartini, mimbar akademis Indonesia tengah diduduki mayat-mayat hidup. Mereka adalah manusia tanpa gagasan, manusia tanpa pemikiran. Mereka hidup tapi mati, ketika mati akan tetap mati. Bukan bermaksud mengkritik apalagi menghakimi. Hanya mengingatkan bahwa sebuah pertanyaan masih mengintai para penghuni mimbar akademis. “Apa yang terjadi dengan seorang mahasiswa (dan mahasiswi) ketika tidak ada lagi yang mengingatnya?”[]

 

Redaksi.[*]