Oleh: Hanputro Widyono

IMING-IMING honorarium sering menjadi penggerak utama pena. Deretan angka nol menggiurkan dan menggoda orang-orang ikut menulis. Dikiranya, menulis membikin kaya. Kita bisa melacak kabar-kabar yang beredar di jagat internet. Beberapa laman, blog, atau akun media sosial sering memberi keterangan soal pemuatan tulisan-tulisan yang muncul di koran-koran pada hari itu—biasanya hari Minggu. Hal yang tak boleh lupa adalah mereka turut menyebutkan jumlah honor bagi pemuatan sebuah tulisan di suatu koran. Sebagai tambahan, mereka juga memberikan kabar ihwal, dalam bahasa motivator, tips atau kiat-kiat pencairan honor.

 

Pengelola laman, blog, atau pemilik akun tak mau mengurusi, mendiskusikan atau mengapresiasi isi tulisan-tulisan yang terbit. Mau tulisan itu berbobot atau tulisan ngawur, tidak menjadi masalah. Bagi mereka, setelah tulisan dimuat, informasi yang dibutuhkan si penulis adalah honor dan pencairannya. Urusan menulis adalah urusan uang dan perut.

 

Majalah TEMPO edisi “Ledakan Buku” (17 September 1977) pernah menurunkan laporan khusus mengenai penulis, sastrawan, dan kekayaan. Laporan itu bertajuk “Buku Bikin Kaya?” yang termuat di halaman 50-51. Beberapa penulis diwawancarai. Salah satunya adalah Ashadi Siregar, penulis novel Cintaku di Kampus Biru. Ashadi dengan tegas mengatakan untuk sementara ia lebih suka menjual novel daripada mencoba menulis skenario, karena pendapatannya bisa lebih besar. Skenario film kelas satu saat itu harganya hanya sekitar Rp 1,5 juta. Sedangkan dari menulis sebuah novel, Ashadi mampu meraup Rp 2 juta, yang tentunya cukup memenuhi kantongnya. Istilah “menjual” menjadikan laku menulis tampak seperti hitung-hitungan untung-rugi.

 

Kita dapat pula menyimak pengakuan La Rose, pengarang Wajah-Wajah Cinta dan Bukan Karena Aku Tidak Mencintai. Meski La Rose tak bekerja (menulis) sepanjang hari atau ia langsung berhenti mengetik tatkala suaminya pulang, ternyata “Buku memang bisa membuat kita kaya,” katanya. Ia sempat menunjukkan jumlah uang penjualan novel Wajah-Wajah Cinta dengan oplah 25 ribu yang berhasil cetak ulang hanya dalam tempo empat bulan. Dari sana TEMPO kemudian menyimpulkan bahwa galaknya penerbitan buku memberikan imbas yang berarti bagi pendapatan La Rose.

 

Bagi para pemilik nama-nama besar, gairah penerbitan dan pembelian buku di akhir dekade 1970-an semakin membuat simpanan hartanya menumpuk. Misalnya yang dialami Motinggo Boesye, penulis yang mampu menghasilkan beberapa judul novel dalam satu bulan. Kepercayaan diri bahwa namanya cukup luas menggigit para pembaca, membuat Boesye selalu menuntut agar oplahnya 10 ribu setiap kali membikin perjanjian penerbitan buku. Dengan begitu, Boesye pun dapat pulang menggenggam Rp 1 Juta secara beruntun. Ia sudah menulis sejak akhir tahun 1950-an, karena itu kesempatan kaya melalui buku bukan hal yang mustahil menurutnya.

 

Sekian fakta ini jelas memperkokoh tuduhan bahwa alasan materi menjadi penggerak utama seseorang untuk menulis. Penulis jadi berkelakuan seperti pejabat dan politikus, yang sering ribut soal uang. Uang di atas segalanya. Orang-orang pun jadi gagal meneladani penulis-penulis legendaris seperti Raden Ajeng Kartini yang menulis buat mengangkat derajat dan pengadaban rakyat, atau seperti Pramoedya Ananta Toer yang mengaku menulis adalah tugas nasionalnya, atau seperti Hamka yang menulis untuk memberi persembahan kepada pembaca. Ejekan bagi penulis-penulis mata duitan pernah diberikan seorang sastrawan agung Norwegia, Bjornstjerne Bjornson. Begini katanya: Jangan buang waktu menulis buku! Andaikan bertubuh tinggi kekar, lagipula rupawan lebih baik jadi pemain drama! []


 

Hanputro WidyonoHanputro Widyono. Bergiat di Bilik Literasi, Solo. Surel: [email protected].