Oleh: Hanputro Widyono

KEMARIN saya ngobrol sama Bapak. Tentang banyak hal, seperti gempa di Mentawai, gerhana matahari di Indonesia, sepak bola, perkuliahan, dan kampus saya tercinta, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo pastinya. Dalam tempo itu, saya yang lebih banyak ngomong. Bapak diam saja sambil manggut-manggut. Bapak maklum sama usia saya yang masih muda, yang membuat saya ketika ngobrol selalu menggebu-menggelora. Meski begitu, sesekali Bapak juga membalas kicauan dan menyelipkan nasihat pada saya.

Salah satu obrolan kami adalah UNS yang mencanangkan program berbahasa Inggris—dugaan saya penggunaan bahasa Inggris sebagai simbol internasionalisasi kampus—One Student Five Trees, satu mahasiswa menanam lima pohon, yang diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. (Kompas, Solopos, dan Joglosemar, 25 Februari 2016). Program tersebut digadang-gadang mampu mendukung langkah UNS yang telah mengusung konsep Green Campus (Kampus “berwarna” Hijau). Selain itu tampaknya UNS juga ingin mencitrakan diri sebagai kampus yang cepat tanggap terhadap aib parahnya kerusakan lingkungan yang menyerebak.

Ia seakan tak mau kalah dengan aksi-aksi tanam pohon oleh instansi-instansi lainnya. Seperti Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) sekecamatan Karangpandan, Karanganyar yang menyumbang 10 ribu bibit pohon untuk hutan Gunung Lawu dan SDIT Al-Kautsar di Gumpang, Kartasura yang menanam 650 pohon buah-buahan dalam rangka Al-Kautsar Go Green (Solopos, 5 Maret 2016). Program “satu mahasiswa menanam lima pohon“ itu akan dijadikan syarat yudisium lulusan UNS. Bayangkan saja, kalau setiap tahunnya UNS mampu meluluskan 8 ribu mahasiswa, maka akan ada 40 ribu pohon baru di UNS, Solo dan sekitarnya. Angka yang fantastis. Namun tak cukup menggiurkan lantaran penanam pohon (mahasiswa), akan kesulitan dalam hal perawatan.

Mendua

Bapak cuma manggut-manggut. Saya tidak tahu apakah Bapak setuju dengan pikiran di atas atau tidak, tetapi yang jelas Bapak serius mendengarkan. Saya pun melanjutkan: selain aksi tanam pohon, kampus hijau rupanya juga mempunyai agenda aksi “tanam” gedung tinggi. Di UNS, sebut saja gedung perpustakaan pusat, gedung kedokteran, dan gedung pascasarjana. Gedung-gedung itu tumbuh subur menyaingi tinggi pohon-pohon di sekitarnya. Entahlah, pupuk apa yang digunakan untuk membuat gedung-gedung itu lekas meninggi. Tetapi yang paling jelas, biaya penanaman dan perawatannya memang tak akan terbeli “juru kunci” pepohonan.

Bapak tertawa. Perkataan saya dibilang ngawur. Saya bergeming saja. Demokratis. Tapi di balik pembangunan gedung-gedung tinggi itu, yang dilengkapi dengan area parkir luas, kita dapat mengimajinasikan bahwa pembangunan juga memuat peristiwa penebangan pohon-pohon. Seperti yang dipersaksikan Saras Dewi, seorang penyair, penyanyi, dan dosen filsafat di Universitas Indonesia, misalnya. Saking ngerinya, Dewi sampai trauma, mungkin tidur tak nyenyak dan makan pun tak enak.

Melalui bukunya Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam (2015), Saras Dewi berkisah: Pada saat kenaikan kelas, saya sedih mendengar berita bahwa pihak sekolah akan menebang pohon itu untuk memperluas bangunan sekolah. Saya berusaha protes, tetapi pikiran kanak-kanak saya belum mampu membuat argumen yang kuat untuk menolak penebangan itu. Tidak ada satu hari pun terlewat tanpa saya menyesali ditebangnya pohon itu.

Kepentingan untuk menanam gedung-gedung membuat pemangku kebijakan melupakan kebermanfaatan pohon. Kita juga bisa menduga, barangkali para pemangku kebijakan tersebut belum membaca sajak-sajak L.K. Ara yang terjilid dalam buku Pohon-Pohon Sahabat Kita (1994). Buku setebal 40 halaman itu memuat 20 sajak yang berjudul nama-nama pohon. Isinya berbagai informasi mengenai pohon-pohon itu, seperti asal daerah atau negaranya, medan-medan yang menjadi persebarannya, dan tak lupa juga kebermanfaatan pohon tersebut.

L.K Ara juga berpesan dalam sajak Jabon: jangan tebangi aku/ niscaya akan teduh sekitar/ udara kering/ aku tak gentar/ jangan bingung/ aku tanaman pelindung// secara alam/ aku tersebar/ dari India, Cina/ sampai Indo Malesia/ di Indonesia/ aku ada di Jawa/ Sulawesi dan Kalimantan/ Nusa Tenggara Timur dan Irian// aku berdaun tunggal/ tumbuh berhadapan/ musim kering/ gugur daunku/ bulan April-Agustus/ tumbuh bungaku// aku dipakai obat demam/ buahku dapat dimakan// aku tumbuh cepat/ namaku?/ Jabon/ sungguh tepat.

Setelah gedung-gedung tinggi siap dipakai, mahasiswa, dosen, dan civitas academica ramai membawa “pohon-pohon” (baca: kertas) untuk mencatat, membuat laporan, maupun ujian ke dalam gedung yang telah ber-air conditioner (AC). Pulang dan pergi, meski rumahnya hanya di depan kampus, menggunakan kendaraan bermotor. Alam pun semakin tercemar dan kebermanfaatan pohon-pohon yang ditanam dalam aksi One Student Five Trees pun menjadi pudar.

Kata pepatah, jangan menilai buku hanya lewat sampulnya. Maka tidak selayaknya jika kampus hijau hanya berhenti di titik aksi tanam pohon tetapi terus menambah pemakaian AC, kendaraan bermotor, penggunaan kertas dan penanaman gedung-gedung tinggi. Artinya, kampus tak boleh mendua. Begitulah kata-kata terakhir saya, tempo itu. Tapi dengan entengnya Bapak berkata, ”Maklumi saja, namanya juga kampus muda. Bulan ini baru 40 tahun to?” []

Hanputro Widyono, pembaca koran

(Ilustrasi: M. Widad Bayuadi)