(Ririn Setyowati)

Surakarta, saluransebelas.com – Hari Aksara Internasional (HAI) yang jatuh pada Kamis (8/9) menjadi momentum perbaikan budaya literasi di kalangan sivitas akademika UNS. Dosen Sosiologi UNS, Akhmad Ramdon justru mengatakan, ia enggan mengaitkan budaya literasi dengan momentum HAI. Baginya literasi bukanlah momentum, namun kebiasaan yang harusnya menjadi roh bagi sivitas akademika. Ironisnya, roh tersebut kini mengalami degradasi.

 

“Universitas-lah yang justru tidak memberikan atmosfer keberagaman literasi,” ujarnya.  Pasalnya dalam kelas pengajaran dosen kerap mengacu hanya pada satu buku, entah buku terebut karangannya maupun bukan. “Mahasiswa hanya terpusat pada satu sumber dari sekian banyaknya sumber yang dapat mereka diskusikan,” lanjutnya. Ramdon juga menyayangkan penyambutan mahasiswa baru yang mengundang motivator Tung Desem Waringin. Baginya, kegiatan tersebut menandakan kegagalan universitas sebagai penyampai pesan intelektualitas.

 

Senada dengan Ramdon, Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS, Wildan Wahyu Nugroho mengatakan bahwa budaya literasi di UNS masih sangat rendah. Hal ini ia lihat dari minimnya antusiasme mahasiswa dalam pameran-pameran buku di kampus. Selain itu, persoalan budaya literasi yang masih harus dihadapi mahasiswa UNS, adalah minimnya ketertarikan mahasiswa untuk membaca literatur di luar disiplin ilmu yang ia pelajari. Ia pun memberikan contoh “Kalau zaman dulu seorang dokter juga punya keahlian lain seperti astronomi, politik, dan lain-lain. Namun sekarang, kebanyakan ahli atau katakanlah profesor, semakin tinggi gelar keahliannya [doktor atau profesor], semakin sempit literasinya,” ujarnya.

 

Kontradiktif

Awal September lalu, saluransebelas.com telah melakukan riset ihwal minat baca mahasiswa UNS. Dari data yang dihimpun, rata-rata mahasiswa UNS sudah mau membaca buku. Bahkan dalam hasil riset tersebut, 76 persen mahasiswa UNS mengaku membaca buku di waktu luang. Lebih besar ketimbang 24 persen yang membaca buku hanya karena tugas kuliah saja.

 

Hal ini cukup mengejutkan. Pasalnya, menurut riset Central Connecticut State University di New Britain pada Maret 2016, tercatat bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat baca.

 

Aditya Very Cleverina, selaku Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) UNS 2016 beranggapan bahwa apa yang mahasiswa seringkali baca bukan untuk memperkaya pengetahuannya namun hanya sebagai aktivitas formal. Seperti mengerjakan tugas atau ujian. “Sebenarnya saya terkejut dengan hasil survei ini. Namun, jika benar begitu saya juga senang bila pemuda memiliki ketertarikan untuk membaca buku. Hal tersebut perlu diapresiasi,” ungkapnya.

 

Sementara itu, Kepala UPT Perpustakaan UNS, Muhammad Rohmadi mengaku, jumlah pemustaka yang mengunjungi perpustakaan UNS mengalami peningkatan signifikan. “Perpustakaan haruslah menjadi rumah kedua bagi mahasiswa,” katanya.

 

Menurut data yang dihimpun UPT Perpustakaan UNS per 2016 (unduh di sini), jumlah koleksi perpustakaan UNS telah mencapai 178.054 buku. Genre buku ilmu sosial menempati jumlah koleksi tertinggi yaitu 58.948 buku.

 

Sementara peminjaman buku hingga Agustus 2016 mencapai 80.491 total peminjaman. Selain itu, akses jurnal online seperi Emerald, Prorequest ML, Science Direct, serta Scopus juga disediakan. Jumlah datanya pun diupayakan terus meningkat tiap tahunnya.

 

UNESCO pada HAI ke-50 tahun ini mengusung tema Reading The Past, Writing The Future. Perayaan HAI 2016 sendiri berpusat di Paris, Perancis 8-9 September 2016. Selain itu, HAI 2016 juga dirayakan di seluruh penjuru dunia.[]