Teater Thoekoel dalam pementasan di Fakultas Pertanian UNS, Rabu (18/6).

Teater Thoekoel dalam pementasan di Fakultas Pertanian UNS, Rabu (18/6).

Surakarta – Teater Thoekoel, kelompok kerja yang bertempat di Fakultas Pertanian UNS sejak 1991 ini, Rabu (18/6), menunjukkan kebolehannya di hadapan para penonton. Pentas bertajuk “Kota Knalpot” itu digelar di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah dalam suasana dingin karena hujan yang turun pada malam itu.

“Ini merupakan pentas tahunan yang selalu diadakan Teater Thoekoel. Dan ini yang ke-15,” kata Ahmad Nur Huda selaku Pimpinan Produksi.

Dalam dua pementasan teater Thoekoel yang terakhir, naskah-naskah yang digarap merupakan karya-karya Hanindawan. “Mas Hanin selalu membebaskan sutradara, bagaimana sutradara itu menafsirkan naskahnya. Saya suka naskah-naskahnya karena selalu kontekstual dengan situasi Indonesia saat ini, tapi tidak terlalu cerewet, tidak terlalu menangis-nangis, dan tidak terlalu marah-marah. Selalu kontekstual,” begitu pengakuan sang sutradara, Retno Sayekti Lawu.

Untuk kali pertama

Naskah lakon “Kota Knalpot” ini baru pertama kalinya dipentaskan. “Naskah ini memang khusus saya buat untuk ini,” ujar penulis naskah, Hanindawan. Naskah ini merupakan sebuah spirit untuk membersihkan diri yang telah melalui permenungan cukup panjang. Laki-laki yang hobi mengenakan topi itu menyatakan bahwa ide tentang cerita itu sudah ada sejak 2012 dan baru ia tuliskan pada 2014.

Naskah yang bercerita tentang perkembangan pembangunan di zaman Soeharto itu berhasil disuguhkan secara apik. Dua belas pemain bergerak dalam ketidakteraturan, berjalan ke samping, melangkah ke depan, layaknya gerakan paskibra. Lalu berlari-lari, menari-nari, dan lebih sering menggunakan mimik muka datar. “Saya ada kecenderungan itu, selera saya bukan pada akting yang sangat ekpresif pada raut muka, tapi lebih pada gerak tubuh dan permainan mata,” tutur Retno Sayekti Lawu, sutradara.

Menurut Retno, jalannya persiapan pementasan ini bukanlah tanpa tantangan. “Para pemain ini kan anak-anak pertanian yang jauh dari kesenian, masih baru pula, maka training untuk menjadi aktor agak kurang bahkan beberapa di antaranya baru pertama kali ini pentas sehingga harus ada keselarasan antara sutradara, tafsir naskah, dan pemain,” tuturnya. (Hanputro)