Oleh: Na’imatur Rofiqoh

 

MESTINYA huruf-huruf ini menyapa kamu lebih cepat, Mas, Mbak. Ngapunten. Redaktur yang geregetan itu sampai menerbitkan esai M. Fauzi Sukri, Beban Poskolonial Mahasiswakonon bacaan wajib mahasiswa baru dan para aktivis—demi menghibur dirimu yang menanti keseruan kolom Lha Nggih edisi kedua. Barangkali memang tipis harapan kita pada pers mahasiswa yang satu ini. Baru mau nongol dua kali, kolom sudah telat tayang saja. Eh. Sorry ya, Mas Redaktur.

 

Perihal keterlambatan ini, daku punya penjelasan, Mas, Mbak. Sungguh.

 

Dirimu kan tahu, mahasiswa akhir mempunyai rutinitas kesarjanaan yang jauh berbeda dengan mahasiswa-mahasiswa anyar yang baru belajar bergincu itu. Gerak tubuh dan pikiran mahasiswa akhir tiadalah seluwes mereka. Menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari mahasiswa akhir hanyalah berkisar antara perpustakaan, kamar kos, dan ruangan dosen pembimbing—semoga beliau senantiasa diberkahi kulit yang jauh dari penuaan dini, kesehatan, kebahagiaan, dan umur panjang. Penampakan mahasiswa akhir pada lingkup geografis lain berlabel taman, penginapan, candi, atau gunung dan laut hanyalah dalih, little escape dari kerumitan sikiripisi (maaf, lidah dan jari-jariku kelu mengeja skripsi), biar tidak depresi dan bunuh diri.

 

Maka, di sanalah hari itu diriku berada, Mas, Mbak: di depan ruang dosen, setelah semalaman bergumul dengan tuntutan ilmiah huruf dan kata-kata. Mengenakan rok merah bata semata kaki berpadu kaus panjang biru dongker, jilbab motif bunga-bunga berwarna senada, bersepatu tak lupa bergincu, diriku setia menanti kehadisan dosen pembimbing—semoga beliau senantiasa diberkahi kulit yang jauh dari penuaan dini, kesehatan, kebahagiaan, dan umur panjang—sedari pagi.

 

Penantian seringkali membawa orang pada pikiran-pikiran aneh dan tiada masuk di akal, mengandung pusparagam prasangka berujung cemburu tiada tahu pangkal ujungnya. Lho. Dalam penantian, diriku berpikir konsultasi, agenda akademik khusus mahasiswa akhir. Kukira, sudah tiada terhitung kata konsultasi diucapkan oleh bibir-bibir mahasiswa akhir tanpa sedikit pun prasangka pada mereka, mengapa mereka mesti berkonsultasi sedang tubuh-pikiran dirasa tiada memiliki perilaku menyimpang.

 

Sebagai mahasiswa akhir cum peneliti, diriku merasa tergugah rasa ingin tahunya. Karena tiada mungkin diriku meninggalkan tempat duduk demi ke perpustakaan universitas di mana Kamua Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berada, KBBI dalam gawai pun jadilah dimintai petunjuk.

 

Kamus andalan generasi milenial itu memberi penerangan, konsultasi berarti “pertukaran pikiran untuk mendapatkan kesimpulan (nasihat, saran, dsb) yang sebaik-baiknya.” Petunjuk kedua memberi konsultasi arti, “perundingan antara pemberi dan penerima layanan kesehatan yang bertujuan mencari penyebab timbulnya penyakit dan menentukan cara pengobatannya.”

 

Aku pikir-pikir, pancen mahasiswa itu punya penyakit menular membahayakan: alergi buku-buku, koran, dan obrolan serius tetapi santai bergairah keilmuan. Makanya mahasiswa akhir wajib menjalani konsultasi sebelum enyah dari kampus. Biar waras, sehat wal afiat, sembuh dari segala macam penyakit malas berbuku dan malas pikir.

 

Rupanya bisa juga kampus bikin agenda berfaedah begini. Sikiripisi memang bakal memaksa mahasiswa buat menyambung tali silaturahmi yang sempat putus dengan buku-buku. Obrolan bergairah keilmuan mau tak mau mesti terjadi juga dengan dosen—semoga beliau senantiasa diberkahi kulit yang jauh dari penuaan dini, kesehatan, kebahagiaan, dan umur panjang. Tiadalah mungkin dosen—semoga beliau senantiasa diberkahi kulit yang jauh dari penuaan dini, kesehatan, kebahagiaan, dan umur panjang, bakal ngobrol bermodal proyektor dan poin-poin presentasi di ruangannya. Sebagai pembimbing yang baik, dosen mesti memberi tuntunan, petunjuk biar penelitian yang dijalani mahasiswa memiliki kualitas untuk diterbitkan sebagai buku.

 

We e e, seneng aku, Mas, Mbak! Meski gerah, lapar, dan dahaga dalam penantian dua jam yang tak kunjung usai, agenda konsultasi jadi terasa semakin seru. Derita ini bukanlah apa-apa bila dibandingkan dengan jerih payah Bapak dan Ibu bekerja demi duit kuliah putrinya.

 

Tetapi, suasana keseruan itu segera tiada bersisa saat diriku akhirnya gagal berjumpa dosen—semoga beliau tetap diberkahi kulit yang jauh dari penuaan dini, kesehatan, kebahagiaan, dan umur panjang. Diriku menatap tulisan setebal hampir 40 halaman di tangan, mengingat bagaimana sang dosen—semoga beliau tetap diberkahi kulit yang jauh dari penuaan dini, kesehatan, kebahagiaan, dan umur panjang—tiada berkenan membaca tulisan itu kecuali pada sepotong sub bab dan memberi komentar pendek yang sulit terbaca.

 

Gosip akademis di kampus yang berseliweran mengisahkan kesulitan para mahasiswa ihwal sikiripisi dengan nada serupa. Entah dosen yang sulit dijumpai, dosen meminta mahasiswa berganti penelitian sebab tak paham ihwal topik penelitian mahasiswa, dosen tak mau diganggu bila sedang tidak in the mood untuk konsultasi, sampai dosen gagal membimbing dan menyebabkan anak bimbingannya mengulang penelitian sehabis sidang pun terjadi.

 

Kita segera teringat pada kisah cucu perempuan Wisnusarman dalam buku Cucu Wisnusarman (Parakitri T. Simbolon, 2005: 41). Dalam sebuah mata ujian, para mahasiswa telah tahu jika ingin lulus, mereka mesti mengutip buku dosen penguji. Si cucu rupanya lupa menyebut judul buku itu. Syukurnya, ia lulus dalam mata ujian itu. Ia memberi keterangan pada temannya yang gagal lulus, “Saya pun lupa judul buku itu, tapi saya ganti dengan menyebut titel, jabatan, dan bekas jabatan pengarangnya.” Duh, Gusti. Nalar akademis remuk-redam saat mahasiswa berhadapan dengan skripsi.

 

Demikianlah ceritanya, Mas, Mbak. Diriku tidak segera menemui dirimu dalam kata sejak kemarin tiada lain tersebab konsultasi. Konsultasi yang rasa-rasanya malah membuat diriku mempertanyakan kewarasanku sekali lagi sebagai mahasiswa. Atau jangan-jangan, aku yang tidak waras? Lha nggih.[]


naimaturrNa’imatur Rofiqoh. Penggarap sikiripisi (baca: skripsi), pendoa ulung. Surel: [email protected]