Sumber Gambar: store.systemofadown.com

Bersuara Melalui Karya

Judul                     : Protect The Land

Karya                    : System Of A Down

Rilis                       : 2020

Produser             : Lara Aslanian, Ani Vorkanyan & Edgar Karpatyan

Sudah 15 tahun semenjak rekaman terakhirnya, Hypnotize. System Of A Down akhirnya kembali dengan mengeluarkan 2 buah karya, penantian yang sangat dinanti-nanti oleh para metalheads setelah sekian lama. Kali ini, mereka menyuarakan tentang konflik perang dan genosida. Mereka mencoba menyuarakan konflik Nagarno-Karabakh/Artsakh (bagi orang Armenia) dimana Negara Azerbaijan mencoba untuk merebut daerah sengketa tersebut, bahkan Armenia sekaligus. Sebelum perang ini meletus beberapa bulan yang lalu, pada 1994 kedua belah pihak pernah menandatangi perjanjian gencatan senjata. Namun, setelah terpilihnya Presiden Azerbaijan, Aliyev, Azerbaijan dengan dukungan Turki langsung memutuskan untuk menyerang wilayah sengketa Nagorno-Karabakh bahkan Armenia sekaligus.

Dilansir dari NME, para personil band mengatakan bahwa lagu ini sebagai respon terhadap “perang yang mengerikan dan serius yang sedang dilakukan terhadap budaya, dan tanah air [mereka]”

The big gun tells you what your lie is worth
(Meriam akan memberitahumu bertapa berharganya hidupmu)

What do we deserve before we end the earth
(Apa yang pantas kita dapatkan sebelum kita membuat bumi kiamat)

If they will try to push you far away
(Jika mereka mencoba mendorong jauh darimu)

Would you stay
(Maukan Kau bertahan)

And take a stand
(dan mengambil sikap)

Would you stay with gun in hand
(Maukah kau bertahan dengan senjatamu di tangan)

They protect the land
(mereka akan melindungi wilayahnya)

They protect the land
(mereka akan melindungi wilayahnya)

Dalam lagu tersebut, Karj Tankian dkk mencoba bercerita tentang bagaimana para warga dari Armenia dan Artsakh saling bahu membahu untuk melindungi tempat tinggal mereka, melawan genosida terhadap etnis Armenia. Didalam video klip resmi SOAD yang rilis di platform Youtube pada tanggal 6 November 2020, memperlihatkan bahwa tidak peduli perempuan, laki laki, tua ataupun muda, para warga bersedia mengangkat senjata di garis depan peperangan demi mempertahankan tanah air dan melawan penjajahan.

Our history and victory and legacy we send
(Sejarah dan kemenangan serta pusaka akan kami kirimkan)

From scavengers and invaders those who protect the lands
(Dari pemulung hingga prajurit, orang-orang yang melindungi wilayahnya)

Those who protect the land
(orang-rang yang melindungi wilayahnya)

Bassis dari System Of A Down, Shova Odadijan sampai buka suara mengenai perilisan lagu tersebut setelah absen 15 tahun tak membuahkan karya. Menurutnyaa, kali ini mereka mengesampingkan egonya masing-masing demi menyuarakan persoalan di tanah air asal mereka.

Drummer SOAD, John Dulmayan baru baru ini bersilisih dengan rekan band-nya, sang vokalis, Serj Tankian karena perbedaan pandangan politik terutama ketika Serj Tankian memberikan dukungan kepada Donald Trump. Bulan lalu, Tankian mengaku frustasi karena “berlawanan secara politik” dengan Dolmayan, meskipun dia mengklarifikasi bahwa keduanya berada di posisi yang sama dalam konflik Armenia.

Tapi Odadijan mengungkapkan bahwa sang drummer bisa mengesampingkan ego dan mengajak untuk membuat karya baru. “Dia menulis dan berkata bahwa kita harus meninggalkan segalanya dan melakukan sesuatu”, kata Odadijan dikutip dari tirto.id, Alasan System of a Down Terus Suarakan Konflik Armenia Lewat Lagu (9/11).

Some were forced to foreign land
(beberapa orang dipaksa meninggalkan tempatnya)

Some would lay dead on the sand
(beberapa orang mati terbaring diatas pasir)

Would you stay and take the command
(mau kah kau bertahan dan mengambil kendali)

Would you stay with gun in hand (with gun in hand )
(mau kah kau bertahan dengan senjata di tangan)

They protect the land
(mereka akan melindungi wilayahnya)

They protect the land
(mereka akan melindungi wilayahnya)

They protect the land
(mereka akan melindungi wilayahnya)

Menurut beberapa literatur, konflik perang ini mengandung sejarah yang panjang. Bermula pada tahun 1915, ketika Kesultanan Ottoman, Turki saat itu melakukan genosida terhadap etnis Armenia. Pemerintahan Turki sampai saat ini enggan untuk mengakui kesalahan masa lalunya, sampai akhirnya terjadi sengketa di daerah Nagorno-Karabakh atau biasa disebut oleh orang Armenia sebagai Artsakh sampai tahun 1994. Kemudian perang meletus kembali beberapa bulan yang lalu dengan Turki sebagai tokoh dibalik layar. SOAD seperti dulu yang biasa dikenal oleh para metalheads menggunakan musik sebagai “senjata”nya untuk meluncurkan kritik-kritiknya entah di lingkup sosial atau bahkan politik. Lirik lirik mereka penuh dengan unsur politis. Kali ini para personil SOAD memanfaatkan karya mereka untuk membawa pesan terhadap setiap orang di dunia, khususnya bagi orang Armenia dan Artsakh. Bahwa mereka tidak sendirian berada di garis depan peperangan untuk mempertahankan tanah airnya.

The enemy of man is his own decay
(Musuh manusia adalah kebusukan dalam dirinya sendiri)

If they’re evil now, then evil will stay
(Jika mereka sekarang menjadi iblis, maka mereka akan tetap menjadi iblis)

Dalam keterangan seluruh Personil band SOAD, selain menciptakan lagu Protect The Land mereka juga Menciptakan Single yang berjudul Genocidal Humanoidz yang juga bisa didengarkan di platform Youtube. Seluruh penghasilan dari dua single tersebut dan  penggalangan dana yang dilakukan akan disumbangkan ke Armenia Fund termasuk hasil penjualan Kaos, kaset dan vinyl mereka.

SOAD kai ini menyampaikan pesan bahwa genosida, perang, kejahatan perang dalam keadaan apapun tidak dibenarkan. Dalam video klipnya serta lirik yang disampaikan oleh mereka, memperingatkan tentang berbahanya patrotisme yang buta  dan menyerukan untuk mempertahankan tempat tinggal bahkan tanah air dari serangan para penjajah. Lebih dalam lagi, SOAD menyampaikan bahwa musuh terbesar manusia adalah kebusukan dalam dirinya sendiri.

THE BOYS ARE BACK!

 []

Muchammad Achmad Afifudin