Judul Buku      : Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma

Penulis             : Idrus

Tebal                 : xviii + 176 hal

Penerbit           : Balai Pustaka

Cetakan ke-     : 30, 2014

Pendudukan Jepang di Indonesia membawa babak baru dalam dunia sastra nusantara. Tidak lagi berbicara mengenai pertentangan adat atau perjodohan, karangan-karangan Zaman Jepang lebih berbicara mengenai perjuangan kemerdekaan dan pertentangan watak para tokohnya. Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma adalah salah satu karya terkenal yang lahir pada zaman tersebut. Buku ini bukanlah roman atau novel, namun merupakan antologi prosa yang dikemas sedemikian rupa oleh sang pengarang, Idrus.

Idrus menghadirkan sesuatu yang baru dalam penulisan karya sastra. Menghadirkan dua belas kisah yang dibagi dalam tiga babak; yakni Zaman Jepang, Corat-Coret di Bawah Tanah, serta Sesudah 17 Agustus, Idrus berusaha menampilkan Indonesia yang penuh ketidakaturan, semrawut, penindasan yang berujung penderitaan, namun berujung pada satu hal: Membangkitkan semangat perjuangan kemerdekaan.

Buku ini diawali dengan cerita Ave Maria, mengisahkan seorang pemuda yang gila gara-gara asmara. Melupakan bangsanya karena berpisah dengan istrinya, namun memutuskan untuk kembali berjuang usai menjalani hari-hari yang mengesankan. Idrus, tampaknya menginginkan sesuatau yang berbeda. Maka, diselipkanlah sebuah naskah sandiwara di buku ini. Kejahatan Membalas Dendam bercerita dengan jujur realitas percintaan – yang tidak lagi menjadi pertentangan adat – namun pertentangan pemikiran antar tokohnya.

Kejujuran berlanjut pada Corat-Coret Bawah Tanah. Pembaca seakan menyaksikan dan merasakan langsung kejadian zaman itu. Perempuan-perempuan jalang, perjudian yang merajalela, pemakan bangkai, seakan menjadi keseharian yang tak pernah tak dijumpai. “Mereka semua pucat. Mereka melakukan onani… untuk menghilangkan lapar. Akhirnya mereka ini pun mati. Kata dokter karena banyak onani” (Corat-Coret Bawah Tanah: Jawa Baru). Begitulah adanya.

Pendudukan Jepang berakhir, namun tidak dengan permasalahan bangsa. Dalam kisah Surabaya, kita bisa menemukan sisi lain dari pertempuran Surabaya yang historis. Entah nyata atau tidak, Idrus melukiskan sebuah penyakit yang mengakibatkan perebutan Surabaya oleh para pejuang terhambat. “95 % dari anak-anak kita yang memanggul senapan sekarang ini,.. menderita suatu penyakit yang menegakkan bulu roma: 95 % dari mereka sekarang mendapati penyakit sipilis, penyakit raja singa,…” (Sesudah 17 Agustus: Surabaya). Mungkin begitulah adanya.

Kisah Open dalam Jalan Lain ke Roma menjadi penutup. Entah kenapa, Idrus seperti berusaha menceritakan pengalaman pribadinya dalam kisah ini. Open, seorang pemuda yang tidak berbicara kecuali dengan terus terang. Hidupnya seakan berkelana, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjadi seseorang yang berguna, dengan mencurahkan pikirannya terhadap permasalahan sekitar. Ya, menjadi seorang pengarang.

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma memang bukan buku paling wah. Namun, buku ini telah memberikan metode baru dalam penulisan sejarah. Dengan kejujuran dan gaya bahasa yang mudah dipahami, buku ini menjelma menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan sejarah bangsa.

(Satya)