Judul               : SAIA

Pengarang       : Djenar Maesa Ayu

Penerbit           : Gramedia

Cetakan II       : 28 April 2014

Tebal               : 144 hlm

ISBN               : 978-602-03-0170-9

 

MESKI terbit di hari ulang tahunnya yang ke 41 pada tanggal 14 Januari 2014 dan berisi 14 buah cerpen ditambah sebuah cuplikan novel. Tapi Djenar nyatanya enggan menamai buku kumpulan cerpennya ini dengan angka 414 atau 141, macam model penamaan aksi-aksi yang terjadi beberapa bulan terakhir ini.

 

Usai dibaca setengah habis, ternyata judul SAIA justru diambil dari cerpen ketujuh Djenar dalam buku tersebut. Apa karena kumpulan cerpen SAIA ini merupakan buku ketujuh Djenar? Duh, semoga saja, jika aku menanyakan perihal angka tujuh ini pada Djenar, ia tak akan menjawabku dengan alasan karena, “Tuhan suka angka ganjil, atau karena angka tujuh itu favorit Tuhan.”

 

Ketimbang angka ganjil, Tuhan mungkin lebih suka pada keganjilan cerpen-cerpen yang dibikin Djenar dalam buku SAIA ini. Misal cerpen Nol-Dream Land yang berkisah tentang seorang wanita yang berpacu dengan waktu dan realita keruwetan di kota urban. Dalam cerpen itu, Djenar menghabiskan 11 lembar “hanya” untuk menulis “tik-tok tik-tok” yang mendeskripsikan suara jam yang ada di kepala sang tokoh utama, Nayla. Tapi pembaca harap jangan bablas meneruskannya jadi “tik-tok jam, bunyi alarm…” milik Silampukau lho ya!

 

Cerpen Air Mata Hujan pun mengandung keganjilan serupa. Cerpen ini berisi 454 buah garis miring yang sekilas telihat seperti rintik hujan. Dalam cerpen itu, Djenar cuma menulis sebuah kalimat, “Di ruang tunggu klinik Dokter Kandungan, ia termenung sendirian.” Cerpen ini mau tidak mau berpotensi menciptakan empat kemungkinan.

 

Kemungkinan pertama, pembaca yang akan mengatakan, “ini apa sih?”. Kemungkinan kedua, mereka yang tertegun dengan keganjilan ini akan menyalinnya mentah-mentah untuk diunggah di media sosial. Ketiga, mereka yang menolak berpindah ke cerpen berikutnya agar bisa membiarkan diri berpikir, menerka apa yang hendak dikatakan oleh Djenar melalui kisah ini. Dan kemungkinan keempat adalah, kemungkinan ketiga itu tidak ada.

 

Selain kedua cerpen tadi, kita juga bisa membaca cerpen berjudul Urbandit. Cerpen ini bukan lagi menyuguhkan keganjilan angka, melainkan keganjilan makna yang kerap membuat orang memicingkan mata.  Penulisannya mirip naskah film. Alur waktu yang melompat-lompat, ditambah penggambaran per waktu yang hanya satu paragraf membuat pembaca bakal sukses kebingungan. Cerpen yang mengisahkan lima orang perempuan bernama Nayla, Ara Yana, Lila dan Anya ini, sebenarnya akan lebih mudah jika dibaca urut waktu berdasarkan tokoh yang sama.

 

Namun, meski tokoh dalam cerpen ini juga bernama Nayla, tapi pembaca jangan beranggapan jika mereka adalah satu tokoh, atau kisah lanjutan dari cerpen sebelumnya. Ada tujuh cerpen dalam  buku ini yang tokohnya dinamai Nayla oleh Djenar (lagi-lagi angka tujuh). Ketujuh dari cerpen-cerpen itu adalah, Nol-Dream Land, Sementara, Kulihat Awan, Fantasi Dunia, Urbandit, Gadis Korek Api dan Insomnia. Tapi, sungguh! Mereka semua tak terkait sama sekali.

 

Keganjilan-keganjilan yang ada dalam cerpen-cerpen di buku SAIA ini menggoda pembaca untuk berpikir. Bukan kalimat-kalimat indah yang menjuntai, retorika mengagumkan atau motivasi asmara yang malah menggoda pembaca untuk gaco menyalin dan mengunggahnya di media sosial mereka. Itu mah tanpa berpikir pun bisa! Tapi kan, Tuhan tidak suka. Tuhan suka pada orang yang mau berpikir, benar kan Tuhan?

 

 

Kenikmatan Ganjil

Jika Tuhan mengaku mencipatakan manusia dari tanah, Djenar ternyata mencipta SAIA dari Air. “Air putih kental itu…” (hlm.1), mengawali cerita sekaligus jadi simbol awal terciptanya manusia. Manusia-manusia ciptaan Djenar tampaknya  memang  berkelamin satu. Perempuan. Dengan wujud yang tak begitu variatif rupanya.

 

Jika pembaca sudah membaca karya-karya Djenar sebelumnya, tentu pembaca akan merasakan kesamaan pola pengisahan dan secara tema, kurasa tak perlu lagi ditanyakan.

 

Bisa jadi ini dikarenakan Djenar telah memilih ‘feminisme’ sebagai spesialisasi tulisannya. Ini bisa menjadikan karya-karya Djenar disukai dan dijauhi sekaligus. Karya Djenar bisa saja jadi rujukan, tapi bisa pula jadi memuakkan karena terus-terusan dipakaikan baju feminisme yang itu-itu melulu!

 

Maka bacalah cerpen-cerpen Djenar ini dengan berpikir dan berdzikir. Tanpa berpikir, cerpen-cerpen Djenar ini bakal diprasangkai penuh noda dimata Tuhan. Dengan berdzikir, Tuhan akan memaafkanmu karena berlama-lama memandang tubuh indah Djenar di sampul buku. Namun meski sampul buku bergambar tubuh indah Djenar yang dililit tulisan Do not cross (dilarang melintas). Tapi pembaca tak usah gelisah, karena Tuhan tak akan melarangmu menyentuh dan membawa SAIA pulang. Percayalah![]


[author title=”Fera Safitri” image=”https://www.saluransebelas.com/wp-content/uploads/2016/04/Vera-Safitri1-e1463310719132.jpg?w=618″]Sosiologi UNS 2015. Memaksa ingin dipanggil Vera (dengan huruf V) meski dalam Akta Kelahirannya tertulis Fera. Surel: [email protected][/author]