Oleh: Vera Safitri

Kepulangan “Bapak” disambut ulah “Anak-anaknya.”

WILDAN Wahyu Nugroho masih sibuk dengan telepon genggamnya. Sesekali Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Sebelas Maret (UNS) itu berbicara dengan beberapa orang di depannya. Ia kemudian berbicara dengan “seseorang yang jauh” melalui telepon genggamnya, sambil memegangi kabel headset yang menjuntai di kedua telinganya. Entah apa yang ia bicarakan.

Wildan bersama sekira 30 mahasiswa lainnya tengah berkumpul di lapangan yang terletak di belakang gedung I Fakultas Teknik (FT) UNS. Sejak pukul tujuh pagi mereka sudah ada di sana. Sekilas mereka seperti mahasiswa kebanyakan, tidak ada perbedaan mencolok. Hanya saja, atribut yang digunakan memberi pembeda dengan penghuni kampus lain. Hampir seluruhnya berjaket almamater. Beberapa memainkan bendera dan melipat spanduk. Rupanya, mereka adalah segelintir awak Badan Eksekutif Mahasiswa se-UNS.

Mengapa mereka ada di FT? Padahal pagi itu, Jumat, 11 Maret 2016, hajatan besar tengah digelar UNS. Bukan di FT, tapi di auditorium. Sidang senat Lustrum ke-8 sedang berlangsung dengan dihadiri ratusan tamu undangan dari berbagai elemen internal maupun eksternal universitas. Bahkan Presiden Joko Widodo akan hadir dalam sidang tersebut, melengkapi birokrat lainnya yang hadir, seperti Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Natsir, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan politisi Partai Golkar Akbar Tanjung.

Di FT, awak BEM masih duduk santai sambil bercengkrama dengan teman disamping mereka. Ada pula yang sedang asyik dengan gawainya. Suasana tampak santai, tak jarang terdengar gelak tawa dari mereka.

Gelak tawa itu tiba-tiba berhenti. Wildan memerintahkan mereka untuk merapat. Ia memberi pengarahan kepada rekan-rekannya. Sayang, saya tak mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan. Lepas itu, puluhan mahasiswa langsung memasukkan spanduk dan bendera tadi ke dalam tas.

“Eh, eh, [jaket] almamaternya dicopot aja! Masukin tas!” teriak Wildan kepada beberapa orang di depannya.

Yang diperintah menurut. Jaket almamater mereka lepas dan disimpan di tas masing-masing. Sekira pukul 09.30, mulailah mereka berjalan menuju gedung pusat Dr. Prakoso alias gedung rektorat.

Namun Wildan tak ikut berjalan bersama rekan-rekannya. Ia dibonceng menggunakan sebuah sepeda motor bebek oleh seorang rekannya yang lain, menuju arah yang sama. Keadaan sekitar cukup sepi walaupun beberapa meter di depan mereka berjejer mobil dan sepeda motor yang sedang terparkir.

Mereka berjalan lamban sekali. Beberapa di antaranya berjalan sembari berkedok menyebarkan brosur suatu acara jaz di UNS. Belum sampai menyeberang ke arah rektorat, seorang petugas keamanan menghentikan mereka.

“Ada apa ini?” tanyanya curiga.

“Nggak, Pak. Kami cuma mau nyebar brosur. Datang ya, Pak!” jawab salah satu awak BEM sambil menyerahkan selembar brosur kepada si petugas. Strategi mereka berhasil. Si petugas mengizinkan mereka lewat.

Sebagian kecil melanjutkan langkah ke rektorat. Tapi sisanya memilih berkumpul di Lembah Teknik. Mereka menanti momen agar tak terlihat mencolok. Beberapa saat kemudian, mereka kembali melangkah. Namun kali ini mereka berjalan sendiri-sendiri.

Ternyata para awak BEM ini dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama bermarkas di FT UNS (kelompok barat) dan kelompok kedua bermarkas di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam FMIPA (kelompok timur).

“Eh jangan ngegerombol di sini!” teriak petugas keamanan di depan rektorat.

Kelompok barat yang baru saja tiba di depan halaman rektorat langsung pergi ke arah selatan. Disaat yang sama, kelompok timur datang ke halaman rektorat. Gawatnya, mereka datang dalam keadaan sangat mencolok. Mereka berbaris dan telah mengenakan jaket almamater. Sontak aparat keamanan yang sedang berjaga terpancing keluar. Adu mulut tak lagi bisa terhindarkan.

PUKUL 11.00, rombongan mobil kepresidenan akan keluar dari teritorial UNS. Jokowi akan melanjutkan agendanya ke Waduk Kerjo, Karanganyar. Ini berarti, Presiden BEM UNS, Doni Wahyu Prabowo, gagal melakukan dialog damai yang direncanakannya dengan “Bapak” Presiden. Saat ingin memberikan surat tuntutan secara langsung, ia mengaku lehernya sempat dirangkul oleh lengan salah seorang polisi untuk menjauhkannya dari Presiden.

Pada saat yang bersamaan di depan halaman rektorat, kelompok barat dan timur sudah membentuk lingkaran dan menyanyikan lagu Happy Birthday untuk UNS. Doni yang kemudian berlari dari arah auditorium langsung berteriak kepada mereka.

“Hei, cegat, cegat!” kata Doni setengah berlari. Ia memerintahkan rekan-rekannya untuk mencegat mobil kepresidenan.

Di belakangnya mengikuti Presiden BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Addin Hanifa. Petugas kemanan tak tinggal diam. Ada puluhan petugas dari berbagai elemen, baik Satpam, Kepolisian, Militer, dan Resimen Mahasiswa. Doni dicegat petugas. Tangan-tangan besar berotot mencengkeram kedua lengannya. Sadar telah kehilangan kesempatan untuk mencegat Jokowi, para awak BEM mengeluarkan atribut mereka dari dalam tas. Doni merebut toa dari salah seorang awak BEM dan melakukan orasi. Ia naik ke batu prasasti di depan halaman. Suasana yang tadinya damai berubah tegang. Puluhan peserta demo mengeluarkan atribut mereka dan tak henti-hentinya menyanyikan Mars Mahasiswa.

Mereka mengajukan tujuh tuntutan. Pertama, mendesak penyelesaian semua kasus korupsi dan menyelenggarakan pemerintahan yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme. Kedua, menjamin tercapainya swasembada pangan dan kesejahteraan petani. Ketiga, renegosiasi blok tambang dan migas untuk dikelola secara penuh oleh putra bangsa demi kemandirian bangsa Indonesia.

Keempat, meningkatkan aksesibilitas pendidikan masyarakat mulai tingkat Sekolah Dasar sampai Pendidikan Tinggi. Kelima, menjamin perlindungan tenaga kerja pasca diterapkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Keenam, mewujudkan aksi nyata pengelolaan sumber daya energi terbarukan. Terakhir, yakni memperbaiki penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional mulai dari kesejahteraan tenaga kesehatan dan pelayanan masyarakat.

Tak Semua “Anak” Menyambut

Tak semua BEM fakultas ambil bagian dalam “penyambutan” ini. BEM Fakultas Kedokteran (FK), BEM Fakultas Ilmu Budaya (FIB), serta BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menolak ikut. BEM FEB misalnya, dalam akun Line resminya mereka menuliskan sepuluh alasan mengapa mereka tidak mau mengikuti aksi ini. Beberapa diantaranya adalah, “…Tuntutan yang diangkat sebagian besar merupakan isu pada periode kemarin dan belum jelas apakah isu tersebut sedang dilakukan oleh pemerintah atau tidak.”

“Isu besar ekonomi seperti nasionalisasi aset, dana desa, penguatan dolar, dan BBM sudah ditindaklanjuti oleh pemerintah dengan peninjauan ulang serta sebagian telah terealisasikan.” Selain itu, menurut pandangan BEM FEB, aksi yang dilakukan seharusnya bersifat mencerdaskan, bukan hanya memanfaatkan momentum.

Sementara Ketua Dewan Mahasiswa (DEMA) UNS, Amar Farizi, mengatakan, “di waktu Dies Natalis UNS yang seharusnya disambut dengan baik, malah melakukan aksi. Bolehlah aksi damai, tapi yang kemarin sedikit melenceng karena tak seperti rencana awal yang hanya ingin berdialog dengan Jokowi,” ujarnya saat saya hubungi via Whatsapp pada Minggu, 13 Maret lalu.

Doni, saat ditemui pada 14 Maret 2016, menegaskan hal lain. “Kami [ingin] mengingatkan pemimpin, berarti kami masih peduli, kan? Rasa cinta kami pada bapak Jokowi, ya, kita wujudkan dengan ini. Kami ingin berdialog. Walaupun ada beberapa pihak yang menilai ini salah,” jelasnya. Ia juga menjelaskan, pada awalnya BEM hanya ingin berdialog dengan Presiden secara damai. Hanya saja tindakan represif petugas keamanan memaksa mereka melakukan demo.

Kepulangan “Bapak” ke Solo amat jarang, apalagi sekadar berkunjung ke universitas “dunia ketiga” seperti UNS. Beberapa kalangan akhirnya menyesalkan aksi organisasi kemahasiswaan terbesar di UNS itu. Mereka yang menyesalkan termasuk sebagian rekan wartawan yang bertugas saat demo berlangsung. “Halah, demo opo kuwi?! Ora ana obong-obongan!”[]

Foto: Fajar Andi/lpmkentingan.com

(Erata. Saat berita ini dipublikasikan pertama kali pada 16 Maret 2016 pukul 00.07 WIB, tertulis “Wildan Wahyu Prabowo masih sibuk…” seharusnya “Wildan Wahyu Nugroho masih sibuk….” Dengan ini kesalahan telah kami perbaiki dan berita telah kami perbarui.)