Oleh: Satya Adhi

PAUL Salopek seorang pejalan kaki normal. Paling tidak dia sendiri yang mengakui hal itu. Namun, bagi banyak orang, ia adalah jurnalis tangguh sekaligus gila. Pada Januari 2013, ia bertekad melakukan reportase dengan berjalan kaki mengelilingi dunia selama tujuh tahun. Peraih dua kali hadiah Pulitzer ini memilih rute yang tak sembarangan. Perjalanannya dimulai dari Ethiopia, lalu menyeberangi Timur Tengah menuju Asia, menjejak Alaska, dan berakhir di Amerika Selatan. Rute ini adalah rute yang dipakai nenek moyang kita ketika bermigrasi pertama kali dari Afrika. Hanya saja, Walking 21,000 Miles Across The World is… Normal (Salopek, outofedenwalk.nationalgeographic.com, 6 April 2016). Ya, meski banyak yang menganggapnya gila, Salopek tetap mengatakan apa yang ia lakukan ini normal.

Apa yang dilakukan Salopek hampir mustahil dilakukan wartawan surat kabar dan media daring. Keduanya butuh kecepatan, dan kecepatan kaki manusia tak mampu memenuhi kebutuhan itu.  Kalaupun nekat berjalan kaki ke tempat liputan, bisa-bisa para wartawan kehilangan momen, terlambat menulis berita, kena “semprot” sang redaktur, dan ujung-ujungnya potong gaji.

Dari sekian banyak kendaraan yang ada, sepeda motor menjadi kendaraan wajib para wartawan. Bisa menembus kemacetan jalan raya, mudah dikendarai, mudah dikeluarkan dan dimasukkan ke tempat parkir, dan tentunya, pembelian bisa dicicil. Katakanlah rata-rata kecepatan mengendarai motor adalah 60 km/jam. Bandingkan dengan kecepatan jalan kaki manusia. Mungkin 60 km baru bisa ditempuh dalam dua hari.

Lantas, apa yang terjadi dengan manusia-manusia yang hanya terlewati motor-motor cepat para wartawan? Bisa jadi manusia-manusia itu punya hal penting untuk diberitakan. Atau, mungkin juga ada kejadian tersembunyi yang hanya diketahui manusia yang tinggal di sebuah kampung. Mereka tak sempat direkam oleh pena-pena wartawan.

Dari Warga Kembali ke Warga

Budaya lisan memproduksi lagu-lagu, legenda dan dongeng, syair-syair, yang disampaikan dari lidah ke lidah. Kabar-kabar ditularkan lewat suara-suara manusia yang tertiup angin. Di sinilah cikal bakal jurnalisme modern terbentuk.

Jurnalisme modern lahir sekitar abad ke-17 di Eropa dan Amerika, dua abad setelah Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak. Kala itu jurnalisme masih terpengaruh budaya lisan sehingga betul-betul lahir dari perbincangan. Di kafe, di pub, di kedai minuman, orang-orang saling menyampaikan kabar. Para pengelana – seperti Salopek – menjadi manusia yang dinanti kisahnya oleh pemilik kedai dan para pengunjung. “Surat kabar pertama muncul dari kafe-kafe ini sekitar 1609, ketika percetakan mulai mengumpulkan berita perkapalan, gosip, dan argumen politik dari kafe dan mencetaknya di atas kertas” (Kovach & Rosenstiel, 2006: 17).

Peran kedai tak berhenti sampai di sini. Ketika pers dibungkam penguasa, warga kembali ke kedai-kedai untuk bertukar berita. Warga telah terbukti memiliki peran prestisius dalam jurnalisme. Mereka tak hanya manusia pasif yang mengakses jurnalisme. Mereka bisa menjadi pelaku jurnalisme saat dibutuhkan. Inilah yang kemudian disebut jurnalisme warga. Warga bisa memanfaatkan ketidakmampuan wartawan dalam merekam detail-detail kecil kehidupan. Persoalannya, mampukah warga umum memproduksi kualitas jurnalisme sesuai standar yang berlaku?

Paul Salopek memang berjalan kaki dalam melakukan reportase. Tapi ia memiliki pengalaman 31 tahun di dunia jurnalisme. Dua hadiah Pulitzer sempat ia raih. Sementara warga umum bukanlah jurnalis professional. Mereka bisa dikatakan, hanyalah manusia biasa yang kebetulan menyaksikan suatu peristiwa. Lalu, berkeinginan peristiwa yang ia saksikan bisa turut disaksikan orang lain.

Kepraktisan menjadi hal yang diutamakan dalam jurnalisme warga. Di sisi lain, kepraktisan ini agak bertentangan dengan disiplin verifikasi yang – menurut Bill Kovach – adalah salah satu elemen penting jurnalisme. Bila kepraktisan terlalu dikedepankan, akibatnya jurnalisme warga yang dihasilkan adalah berita-berita tak jelas yang sering muncul di media sosial. Tapi bila terlampau kurang praktis, antusiasme warga dalam jurnalisme akan menurun. Kita tidak bisa memaksa mereka mempelajari buku-buku pengantar jurnalisme. Minat baca-tulis yang rendah juga tercermin dari mayoritas media yang digunakan warga untuk publikasi jurnalisme. Video atau foto akan lebih praktis daripada straight news 250 kata. Bila merunut sembilan elemen jurnalisme yang digagas Bill Kovach, warga umum akan kesulitan mengikuti standar tersebut. Kepraktisan akan membuat jurnalisme warga terancam mengalami reduksi menjadi surat pembaca atau berita gosip.

Dilema kepraktisan dan disiplin verifikasi bisa diatasi dengan kemunculan rubrik dan kanal jurnalisme warga di media arus utama. Metro TV misalnya, sudah empat tahun menyelenggarakan anugerah jurnalisme warga. Net TV, stasiun televisi muda di Indonesia, juga menyediakan segmen khusus untuk jurnalisme warga. Di ranah daring, kompasiana.com menjadi pilihan utama netizen. Sejak September 2008, situs ini telah berkomitmen untuk menjadi media warga. Otomatis, kontributor-kontributornya adalah warga biasa.

Kehadiran jurnalisme warga di media arus utama membuat berita-berita yang terpublikasikan mengalami proses penyaringan di tangan profesional. Tak asal tayang tanpa verifikasi. Tinggal mau atau tidak para warga berjalan kaki. Melihat keadaan sekitar mereka, melihat manusia-manusia yang hanya terlewati sepeda motor cepat para wartawan. Seperti kata Salopek, “Out walking, I constantly meet people. I greet them. I chat with strangers. In this way walking builds a home everywhere.”[]

(Ilustrasi: Muhammad Widad Bayuadi)


Satya AdhiSatya Adhi. Mahasiswa yang gemar berjalan kaki (sendiri). Surel: [email protected]