Oleh: Videla Masera dan Widyaswari Norita

“… kita pasti bangga udah bisa buka lapangan kerja, dan masih muda. Apalagi kebanyakan yang dipekerjakan adalah sarjana.”

Toples-toples kaca berderet menyambut kami di sebuah restoran bergaya Joglo. Bukan sembarang isinya, toples-toples itu berisi teh berbagai merek. Alunan tembang campur sari terdengar di semua sudut ruangan,  menambah kesan tradisional restoran ini.

Wedangan Joglonama restoran ini – mengambil tagline Explore Teh Nusantara. Di sini, pengunjung dapat mencampur sendiri jenis teh yang akan diminum. Tak hanya itu, hidangan yang disajikan pun bergaya angkringan, seperti nasi kucing dan berbagai hidangan pendampingnya. Beragam gorengan dan hidangan tusuk berjajar rapi di gerobak mirip gerobak penjual soto.

Orang dibalik ini semua adalah Nugroho Dwi Widoyoko atau akrab dipanggil Nunu. Ia adalah mahasiswa Jurusan Informatika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta angkatan 2012.

Wedangan Joglo sendiri baru dirintis sekitar satu bulan lalu. Meski terbilang belum lama, omzet restoran yang berlokasi di Jalan Papagan Nomor 59 Makam Haji, Kleco, Sukoharjo tersebut dapat mencapai belasan juta rupiah tiap bulannya. Sebelum Wedangan Joglo, Nunu serius menekuni usaha merchandise MUNS Creative dan promosi kuliner Solo Delicious.

Berawal dari Passion

Sejak kecil, jiwa wirausaha Nunu sudah terlihat. Berawal dari sering diajak ke pasar dan berbagai tempat usaha, Nunu mulai tertarik ke dunia wirausaha. Awalnya, berjualan pulsa sewaktu SMP. Tetapi karena dulu telepon genggam belum gencar-gencarnya, jarang ada yang membeli.

Kemudian di bangku SMA, Nunu membuka wedangan di dekat rumah bersama omnya. Pernah juga mengikuti Multi Level Marketing (MLM), namun tidak berjalan lama. ”Ya mungkin MLM yang bodong-bodong itu,” katanya santai. Lalu pernah juga berjualan makanan di kelas, coverbag, dan alat gunung.

Keseriusan berwirausaha mulai ia lakoni saat menjadi mahasiswa. Bermodalkan lima puluh ribu rupiah, Nunu mulai membuka MUNS Creative setahun silam.

MUNS Active sendiri berawal dari kesenangannya di bidang desain. Sampai saat ini, segala kegiatan pemasaran masih melalui online, baik website maupun social media, seperti facebook dan instagram. Karena menurutnya, lebih efisien dan hemat. Omzetnya bisa mencapai tiga sampai empat juta tiap bulan.

Tidak hanya dalam bidang desain, kesenangannya di bidang kuliner juga membuatnya sukses menjalani bisnisnya, Solo Delicious. Awalnya, Nunu berniat untuk mengangkat kuliner tradisional Kota Solo agar lebih dikenal khususnya di kalangan masyarakat dan wisatawan dari berbagai daerah.

“Dulu satu bulan pertama jasanya gratis, muter-muter gitu bisa nggak aku makan di satu restoran tapi gratis dan timbal baliknya cuma aku foto terus di share,” kenangnya. “Dan mulai September baru mulai berbayar, per postingannya 75 ribu rupiah. Jadi sistemnya aku diundang ke restoran terus mereka bayar baru aku post. Jadi cuman muter, makan, foto, dibayar,” ungkapnya. Dari usaha ini, Nunu dapat memperoleh omzet tiga sampai lima jutaan per  bulan.

 ***

 222

Matahari mulai menyingsing ke arah Barat. Senja masih mendung di pelataran Gedung C Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Di depan Laboratorium Biologi, Saryo Asy-Syarif Al-Banari tengah duduk sambil menggenggam telepon genggam pintarnya.

Syarif –panggilan akrabnya– adalah mahasiswa Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (PKP) Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2014. Kini, ia tengah merintis usaha sabun herbal.

Awalnya, Syarif menekuni usaha sabun ini sebagai sampingan. Namun karena harganya mahal, ia mulai menjadikan sabun menjadi peluang usaha utama. Selain itu, menjual sabun ini tidak dapat dilihat dari kuantitasnya, tetapi cenderung dilihat dari manfaatnya bagi tubuh. Dan jika konsumen sudah merasa terpikat dengan produk tersebut, maka konsumen tidak akan berpindah ke produk lain.

“Kalau secara kuantitas cuman enam puluh gram, tetapi harganya sekitar tiga belas sampai lima belas ribu rupiah,” terangnya dengan logat Banjarnegara.

Dari Nol Lagi

Di kota asalnya, Banjarnegara, brand sabun milik Syarif telah meraih delapan penghargaan. Nahas, brand sabun herbal miliknya terlanjur diklaim orang lain. Kini, Syarif memulai usaha sabunnya di Solo dari nol lagi.

Tentu tidak mudah memulai usaha yang sudah berhasil itu dari nol lagi. Setelah rehat dari usahanya selama dua tahun untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus, ia berpikir untuk melanjutkan usaha yang sudah dirintisnya sejak tahun 2013 tersebut. Bermodalkan uang beasiswa bidikmisi, suntikan dana dari dosen, dan uang sendiri, Syarif mulai menata kembali usahanya. Awalnya ia sendiri, tetapi setelah berjalannya waktu, banyak teman-temannya yang ikut membantu.

Tak seperti Nunu yang terbilang sukses dengan bisnis merchandise dan kuliner, usaha sabun herbal milik Syarif masih jalan di tempat. Bahkan modal usahanya belum dapat kembali. Keuntungan yang diperolehnya pun, masih digunakan untuk mengembangkan usaha sabunnya.

“Kalau dulu di Banjarnegara dalam satu bulan nyaris satu setengah juta itu mudah karena pasarannya sudah mengetahui produknya. Sedangkan kalau disini (Solo, red) masih trukah, nyari pasar gitu dan baru beberapa,” ujarnya santai.

Kesibukan kuliah turut memengaruhi perkembangan usahanya ini. “Saat ini bagaimana mau usaha, sedangkan laporan saja ada enam praktikum, belum laporan yang lain. Jadi sulitnya di waktu. Meskipun sabtu minggu libur tapi tidak efektif karena harus memikirkan praktikum juga,” katanya.

Jadi Wirausaha Sebelum Wisuda

Baik Nunu maupun Syarif, mereka adalah potret wirausahawan muda di UNS. Berbekal modal seadanya, mereka nekat keluar dari zona nyaman masing-masing.

Syarif misalnya, sejak kelas satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), ia sering menjual beraneka barang. “Hampir semuanya tak jualin,” katanya.

Selain itu, Nunu berpendapat, keberanian adalah syarat mutlak dalam merintis usaha. “Jadi menurutku hilangkanlah ketakutan itu, mulailah ciptakan produk, cobalah dulu.”

“Coba dulu saja untuk buka usaha, nanti pasti ada jalan. Usaha yang bagus itu usaha yang dibuka. Kalau sudah dibuka pasti tau celah-celahnya lah,” terang Nunu sambil tersenyum.