SETELAH KONGRES Lekra I yang diadakan di Solo, terbentuklah Lembaga Perfilman Indonesia. Lembaga ini, bersama organisasi-organisasi lain seideologi, kemudian melakukan aksi boikot terhadap film-film Amerika yang, singkatnya, dianggap kontra-revolusi. Kendati demikian, paska 1965 film-film dari luar Indonesia malah menjamur pada layar-layar dalam negeri.

 

Gayung bersambut, bisnis teater alias bioskop pun berkembang, termasuk di Solo. Tercatat ada 21 bioskop yang pernah beroperasi di Solo, baik yang telah dibangun pada masa Hindia-Belanda, maupun setelah kemerdekaan. Angka tersebut merupakan bangunan bioskop yang dalam periode hingga 1990-an terus mengalami pergantian nama dan kepemilikan.

 

Kehadiran film-film luar tidak lepas dari peran tiga lembaga utama yang berwenang dalam menghadirkan film-film tersebut. Mereka adalah Asosiasi Importir Film Eropa-Amerika, Asosiasi Importir Film Mandarin, dan Asosiasi Importir Film Non-Mandarin. Setelah para pelaku impor tersebut membentuk PT Subentra Twenty One, pola perfilman dan bioskop dalam negeri perlahan mulai berubah. Hari ini, hampir semua bioskop di Solo berada di bawah naungan PT Subentra Twenty One. Berbeda dengan masa silam yang mana bioskop merupakan satu bangunan tersendiri, bioskop-bioskop di Solo hari ini banyak berada di dalam pusat perbelanjaan.

 

Kendati demikian, layar-layar alternatif di luar bioskop arus utama terus berkembang. Secara umum, komunitas-komunitas film independen mulai bermunculan paska reformasi 1998, begitu pula di Solo. Kami mencatat pola apresiasi film-film alternatif di Solo mulai 2010 yakni saat diadakannya Temu Komunitas Film Indonesia yang pertama. Pada tahun yang sama, Pesta Film Solo lahir. Satu tahun setelahnya, Festival Film Solo, dan seterusnya. Hingga kini, layar-layar alternatif tersebut terus berkembang.

 

Berbeda dengan gambaran festival-festival film yang glamor dan eksklusif, skena film di Solo selalu hadir dengan nuansa yang hangat dan sederhana. Bahkan pola yang paling kentara adalah kegiatan turun ke kampung-kampung dan titik-titik pemutaran tertentu.

 

Bagaimanapun, Solo akan tetap menghadirkan pengalaman bersinema dengan caranya sendiri. Jika bukan lewat bioskop arus utama atau layar-layar yang digelar oleh komunitas-komunitas, maka pemutaran privat film bajakan pun jadi. Yeay! [*]