PESTA penyambutan mahasiswa baru (maru) sudah berakhir. Kamis (18/8) dibuka dengan ceramah “mimpi” oleh Tung Desem Waringin. Minggu (21/8) ditutup dengan timang-timang bola kok secara massal.

 

Para maru lega. Sudah sah mereka masuk di lingkungan Universitas Sebelas Maret (UNS). Mudah kan? Hanya bermodal “mimpi” dan raket. Semua pengorbanan dan pencapaian 12 tahun bersekolah terbayar sudah. Terngiang pesan Bapak Ibu di kampung halaman. Untuk belajar yang tekun, enggak usah neko-neko, hemat uang saku, mungkin juga, berpesan untuk, “ampun pacaran riyin, nggih!” Bagi yang lelaki mungkin lebih radikal lagi nasihatnya: “Bagus utawa gantenge bocah lanang kui ning dompet!”

 

Bayangkan pula kejenuhan para mahasiswa senior (baca: tua) yang sungguh sangat tekun belajar sampai tak kenal waktu. Setiap tahun mereka menyaksikan pemandangan yang serupa. Wajah-wajah lugu yang bergerombol mengenakan jas almamater biru telur asin. Berfoto di depan bulevar atau papan fakultas masing-masing. Sibuk menyiapkan Kartu Rencana Studi (KRS) mereka yang pertama, dan bertemu dosen Pembimbing Akademis (PA) yang masih misterius penampakannya.

 

Mahasiswa senior yang non-aktivis pasti sudah lama tak mengenakan jas almamater mereka. Lantas bernostalgia dengan kesimpang-siuran yang belum terjawab sampai sekarang. Apalagi kalau bukan soal warna jas almamater UNS. Warna yang menunjukkan dua kepribadian sekaligus: Kebebasan berpikir dan kepalsuan duniawi.

 

Yang pertama tercermin dari warna jas yang sangat argumentatif. Orang bisa mengatakan warna biru telur asin. Bisa juga warna hijau telur asin. Ada yang cuma bilang warna telur asin. Atau biru kehijau-hijauan. Setiap pendapat akan punya argumennya sendiri-sendiri. Ini sebuah kepribadian yang bagus untuk mahasiswa kita: bebas berpikir.

 

Yang kedua justru sebaliknya. Jangan lupa kalau warna yang timbul di telur asin bukanlah warna asli, melainkan warna yang timbul setelah proses pengasinan. Imitasi. Palsu. Tak sesuai kenyataan. Wah, jadi ingat video profil UNS dan baliho-baliho ihwal World Class University dan Green Campus.

 

Dua kepribadian yang saling bertolak belakang ini bisa jadi fundamen kuat bagi maru. Mereka bisa mencintai budaya akademis, justru karena kebencian terhadap kepalsuan duniawi kampusnya. Benci Bilang Cinta, kata Ian Kasela.

 

Selamat jatuh cinta di kampus biru (telur asin)! Baik maru maupun mahasiswa senior, bergaulah yang akur. Salinglah menghargai dalam perbedaan. Jadilah manusia yang senantiasa berpikir, jangan terus menerus minta dipikirkan.

 

Nah, pesan terakhir ditujukan untuk mahasiswa senior. Segera bayar utang di kantin, juga utang keilmuan yang tertuang dalam skripsi. Kalau sudah lunas, mereka yang religius mungkin sudah mulai mbribik calon ukhti/akhi pujaan hati. Lha yang jomblo cum non-religius? Jangan sesali sabda orang tua di awal masa kuliah: ampun pacaran riyin, nggih!

 

Redaksi.[*]