“Aku ra pengin kowe lungo, aku yo ra pengin kowe mulih, aku mung pengin kowe ono,” Isakan Sipon dalam film Istirahatlah Kata-kata. [Aku tidak ingin kamu pergi, aku juga tidak ingin kamu pulang, aku hanya ingin kamu ada].

 

Kalimat tersebut menyiratkan sebuah pengharapan, kekhawatiran, sekaligus kebanggaan. Mengetahui aktivitas Wiji Thukul sebagai seorang aktivis HAM tak menjadikan Sipon menghentikannya, namun tak juga berhenti mengkhawatirkannya, ia hanya berharap suaminya selamat, baik-baik saja.

 

Diskusi dan pemutaran Film Istirahatlah Kata-Kata digelar dalam acara Melaung Hak Asasi Manusia di FISIP UNS (27/11). Dalam film garapan Yosep Anggi Noen kita disuguhi adegan-adegan sunyi, tanpa banyak penjelasan dan dialog yang membangun. Namun tak menjadikan diskusi berjalan serupa, diskusi yang dimoderatori oleh Feraldi salah satu mahasiswa FISIP UNS berhasil menciptakan iklim interaktif. Pemaparan narasumber Yulia Evina Bhara sebagai Produser Film, Tonny Trimarsanto dari Sineas, dan Zaenal Muttaqien selaku perwakilan Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) memancing peserta diskusi untuk menanggapi. Pasalnya, film ini mengambil sisi Wiji Thukul sebagai sosok dalam balutan emosionalnya, karya-karyanya, kemudian betapa takutnya ia dalam pelarian.

 

Isu-isu HAM seperti kasus aktivis 1998 yang belum ditemukan hingga saat ini masih belum menampakkan titik terang. “Hingga saat ini, tiga belas orang masih hilang,” jelas Zaenal Muttaqien, termasuk diantara mereka adalah Wiji Thukul. Itulah mengapa adanya film-film yang mengangkat isu-isu HAM menjadi penting, karena menjembatani generasi muda untuk mengetahui realitas HAM pada tahun-tahun yang telah lalu.

 

Peran media film menjadi penting untuk membangun aspek-aspek yang tidak bisa dikenalkan melalui buku teks. Walaupun, seringkali media perfilman juga dibatasi. Hanya film yang telah disepakati oleh industrialislah berhasil ditayangkan dengan bebas. Isu-isu sensitif, tentang HAM misalnya, begitu kurang ditampilkan dalam industri perfilman. Sehingga sangat diperlukan alternatif-alternatif lain yang lebih kreatif untuk mempromosikan atau mendekatkan isu-isu HAM kepada khalayak ramai.

 

Seperti halnya dengan sivitas akademika UNS yang berusaha menarik perhatian warga UNS dengan membawa isu-isu HAM dilaungkan kembali. Serangkaian acara dilangsungkan pada 26-27 November, mengusung  tema “Melaung HAM Bersama sivitas akademika UNS”.

 

Dengan menggandeng IKa (Indonesia untuk Kemanusiaan), Komnas HAM, dan FISIP UNS. Hari HAM Internasional yang jatuh setiap tanggal 10 Desember diperingati dengan mengadakan serangkaian acara di lingkungan UNS.

 

Diselenggarakan pula seminar publik, paralel workshop, pameran foto, pentas musik, dan napak tilas sejarah reformasi 1998 yang bertujuan mendekatkan isu-isu HAM kepada sivitas akademika UNS.

 

Pemutaran dan diskusi film Istirahatlah Kata-kata menjadi acara terakhir dalam rangkaian acara Melaung HAM. Seluruh acara berjalan sesuai dengan ekspektasi penyelenggara, tak terkecuali pemutaran dan diskusi film Istirahatlah Kata-Kata, “Iya, ini bagus banget. Terutama kan hari ini kita saksikan untuk penutupan acaranya yaitu pemutaran film ternyata penuh dan dinamis”, tanggapan Lilik HS dari anggota IKa terhadap antusiasme mahasiswa, “Orang juga nggak beranjak pulang meskipun sudah sore, hujan pula”, tambahnya. []

 

Reporter dan penulis: Diana Kurniawati