Oleh: M. Fauzi Sukri

 

 

ISLAM pop di kampus pernah mengejutkan seorang ibu dosen asing. Si dosen antropolog yang sedang melakukan penelitian itu, Nancy Smith-Hefner, kaget terhadap perubahan dramatis yang terjadi dengan pakaian mahasiswa wanita muslim antara tahun 1970an dan 1990an. Wanita muslimah masih biasa-biasanya saja memakai rok western selutut dengan baju lengan pendek.

 

 

“Kurang dari 3 persen dari populasi mahasiswi yang memakai kerudung. Ketika saya kembali ke Yogyakarta akhir tahun 1990an, terjadi perubahan yang dramatis. Mahasiswa perempuan telah mengganti rok pendek (short skirts) bawah, dan presentase wanita muslim di kampus yang memakai kerudung naik lebih dari 60 persen,” kata Nancy (2011: 154) yang sampai sekarang masih tetap meneliti kajian antropologi agama.

 

 

Seingatku, Ahmad Wahib yang menjadi mahasiswa pada akhir 1960an bahkan tidak pernah membuat catatan tersendiri tentang kerudung, yang dipakai para aktivis wanita muslim di HMI. Dan, tentu saja, juga tidak ada catatan mahasiswa akan menggunakan celana kain, bukan jeans, yang ‘diwajibkan’ terpotong di atas mata kaki, seperti yang sekarang bisa dengan cukup mudah ditemukan.

 

 

Sekarang, lebih besar dari perkiraan angka 60 persen, mahasiswi sudah memakai kerudung, dengan berbagai variasinya. Mulai dari ‘liberal’ agak minimalis sampai yang ‘konservatif’ yang maksimalis, plus dengan nama baru yang trendi dan mutakhir, yakni hijab, bukan kerudung atau jilbab. Bahkan, terkadang ada juga nama hijab ala Manohara, hijab ala Dian Pelangi, dan sebagainya, mengikuti perkembanga tren mode terbaru.

 

 

Persoalan musik tidak kalah menarik. Pada awal 1980an, grup musik pop Bimbo mangkel pada pembajakan kaset di Indonesia, lalu mencoba membuat musik pop ‘baru’ yang dipadukan dengan lirik-lirik islami yang sebagian diambil dari puisi-puisi islami Taufik Ismail. Bimbo menggunakan instrumen musik pop Barat, namun dengan sentuhan minimalis agak akustik, untuk menyampaikan lirik-lirik yang islami mendalam. Pengkaji budaya Bernard Arps menyebutnya sebagai interpretasi “kasidah modern” (Edwin Jurriëns, 2006: 184).

 

 

Saat itu, kasidah dan musik pop seakan minyak dan air. Mustahil dipadukan. Musik pop islami yang dicoba Bimbo masih ditanggapi dengan miring saat itu. Kita pun ingat, si raja dangdut Roma Irama yang mulai mengislamikan lirik-musiknya tidak begitu ‘laku,’ bahkan diremehkan di kampus-kampus yang dikuasai musik rock sejak tahun 1980an sampai pada tahun 1990an – yang memang digerakkan para legenda rock kelas global yang masih hidup. Namun, Bimbo sudah menyadari, musik pasti jauh lebih bisa diterima di masa depan, dan mereka membuktikan serta melihatnya sekarang.

 

 

Semua itu hanya menunggu waktu yang sangat sebentar saja. Musik kasidah pop ngislami, busana wanita dan lelaki yang ngislami, ustaz seleb yang ngislami di berbagai media mainstream, sinetron ngislami, bank-bank ngislami, novel-novel ngislami, film-film ngislami, perjalanan ngislami, wisata ngislami, dan sebagainya dan sebagainya. Kemudian menjadi ekspresi keislaman yang sangat dominan sampai sekarang.

 

 

Jika kita menilik kembali polemik keislaman pada awal abad ke-20 yang dominasi Islam politik kenegaraan, lalu tahun 1960an yang mendapati Indonesia sudah merdeka dan kaum muslim didaulat untuk mendukung ideologi negara ini, dan tiba-tiba ekspresi politik dikebiri semasa Orde Baru berkuasa, kita tahu perjalanan keislaman warga Indonesia memang akhirnya mengarah pada Islam pop yang bercorak kebudayaan. Tentu, tiap kebudayaan adalah politik. Dan hal ini baru disadari Orde Baru pada tahun 1980an saat ekspresi budaya umat Islam Indonesia begitu kuat mempengaruhi ekspresi politik mereka. Yang pop adalah yang politis. Soeharto akhirnya harus mengakomodasi perubahan ini sedikit demi sedikit.

 

 

Pemantiknya adalah sebuah kain kerudung anak SMA pada awal tahun 1980an. Bukan organisasi politik yang memberontak terhadap otoritarianisme politik Orde Baru. Kita ingat, pada awal 1980an, seorang gadis SMA bersikukuh memakai jilbab (bukan ‘hijab’) ke sekolahnya yang negeri (Tempo, 1983). Dan, kita tahu akibatnya: anak itu mau dikeluarkan jika tetap memakai jilbab. Indonesia pun heboh akibat selembar kain.

 

 

Secara umum, ada dua argumentasi yang dipertentangkan: kebebasan menjalankan keyakinan agama versus kewajiban mengikuti undang-undang negara (Indonesia yang divonis sekuler, tentu saja) yang melarang ekspresi keagamaan, khususnya memakai jilbab ngislami. Sebenarnya, suster agama Katolik bahkan beberapa agama lain juga memakai ‘kerudung’ dengan sedikit perbedaan gaya potongan.

 

 

Insiden jilbab ini bukan sekadar insiden selembar kain. Ada rentetan panjang diskursus keilmuan Islam yang berkembang di Indonesia dan global. Ada satu corak keilmuan yang berkembang secara global dan juga masuk ke Indonesia: islamisasi ilmu modern yang dianggap ateistik atau setidaknya sekuler yang dijadikan vonis penyebab menyebabkan manusia modern terasing kehilangan arah hidup. Manusia modern dituduh telah menuju kemerosotan moral, kekejian sosial politik yang menjadi keseharian, materialisme duniawi yang selalu diarahkan pada keserakahan, selalu mengejar hasrat kesenangan duniawi, dan sebagainya. Semua ini adalah akibat ilmu modern yang tidak beresensi spiritualitas keilahian.

 

 

Tokoh-tokoh islamisasi bisa kita sebut. Sir Muhammad Iqbal, Ali Syari’ati, Ismail Al-Faruqi, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dan banyak lagi. Di Indonesia, kita tentu ingat seruan modernisasi pemikiran Islam sehingga membentuk semacam korpus wacana berislam dalam tataran keilmuan sejak M. Natsir, Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Bang ‘Imad, H.M. Rasjidi, Harun Nasution, Dawam Rahardjo, Johan Efendi, Haidar Baqir, dan seterusnya dan seterusnya.

 

 

Sejak itu, banyak kampus yang secara umum sebenarnya mengkaji sains modern atau ilmu eksakta, malah menjadi kampus yang sangat bernuansa keagamaan ngislami kental. Kita wajib menyebut Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam kasus ini, yang pernah banyak melahirkan cendekiawan muslim, meski awalnya mereka belajar tentang listrik, fisika, biologi, dan sebagainya, yang hampir sama sekali tidak ada kurikulum keagamaannya secara eskplisit. Dan dari masjid Salman di ITB, kita mengenal corak pergerakan keislaman yang berpadu dengan gaya aktivisme politik dari serambi-serambi masjid yang menyebar dan ditiru banyak kampus di seluruh Indonesia—kemudian berevolusi menjadi PKS yang sekarang.

 

 

Tentu saja kita wajib menyebut pertumbuhan ekonomi kelas mengengah umat Islam Indonesia sebagai penyebab maraknya Islam Pop. Perkembangan ekonomi Indonesia, meski ekonomi yang vital tidak banyak didominasi umat Islam, akhirnya juga menumbuhkan kelas menengah umat Islam. Di sinilah, satu aksioma sosial yang aneh tapi pas muncul: ekspresi budaya pop membutuhkan keyakinan agama sesuai dengan perkembangan jumlah uang.

 

 

Budaya pop islami banyak berkembang di perkotaan, mulai dari sufisme urban, managemen ekonomi ngislami, gaya pakaian yang mulai terislamikan, suara musik yang semakin bernuansa keagamaan, bacaan pop islami yang semakin melimpah, media cetak islami yang mencapai puncaknya pada akhir 90an dan awal 2000an, lalu disusul ustaz seleb di televisi, dan seterusnya. Semua ini perlu untuk mengakomodasi ekspresi keislaman kaum urban, yang akhirnya juga menyebar ke desa-desa.

 

 

Aku ingat, beberapa waktu yang lalu, saat pulang kampung, tanpa sadar ternyata siswa-siswa SD sudah memakai celana panjang untuk para cowok dan memakai rok panjang dan kerudung untuk cewek. Itu tingkat SD, bisa dibayangkan tingkat perguruan tinggi sekarang dan di masa depan. Islam mutakhir dan di masa depan memang bermazhab pop…[]


M. Fauzi Sukri. Koordinator Tadarus Buku di Bilik Literasi, Solo.


 

sampulEditorial                      : Mazhab Masa Depan

Laporan Khusus       : Hijab dalam Pergolakan Makna

Laporan Khusus       : “Wajah” Baru di Ruang Semu

Laporan Khusus       : Maniak Selawat Bernama Syekhermania

Infografis                    : Perkembangan Islam Pop di Indonesia

Catatan Kentingan   : Islam dalam Kepungan Budaya Pop