(Satya Adhi)

DI SORE yang gerah, Rabu (10/8), sebongkah kereta kencana berwarna emas melaju di kampus UNS Kentingan, Surakarta. Dua kuda coklat menariknya. Oleh si kusir, kereta diarahkan menuju gedung auditorium di belakang gedung rektorat. Kemudian, berhenti tepat di depan gedung yang biasa digunakan untuk acara wisuda tersebut.

Kereta pinjaman keraton Surakarta itu ternyata diisi tiga orang. Begitu berhenti, Rektor UNS, Ravik Karsidi, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Muhammad Nasir, serta Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani melompat turun dari kereta. Ketiganya lantas bergegas masuk ke auditorium yang telah penuh sesak oleh mahasiswa yang meraih beasiswa Bidikmisi, ADIK, SM-3T, dan PPG. Perwakilan mahasiswa dari seluruh Indonesia hadir dalam acara Temu Nasional yang berlangsung sejak pagi itu.

Acara selanjutnya bisa ditebak. Sambutan yang biasa diisi laporan birokrasi dan basa-basi khas pejabat. Sesekali diringi keprok-keprok dari penonton. Serta ajakan-ajakan untuk membangun bangsa dan negara untuk menjadi lebih baik.

Tapi usai sambutan, tak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi.

“Saya dan Ibu Menko ada kejutan ini,” ucap Nasir usai sambutan.

“Siapa yang mahasiswa semester tiga ke atas?” Lanjutnya. Sebagian besar mahasiswa mengangkat tangan kanannya.

“Yang mahasiswa eksata angkat tangan,” pinta Nasir lagi. Puluhan mahasiswa masih mengangkat tangannya.

“Siapa yang IPK [Indeks Prestasi Kumulatif)-nya tertinggi?”

Seisi auditorium geger. Pertama ada yang berteriak 3,7. Ada juga yang 3,9. Terakhir, lelang IPK dimenangkan oleh dua orang mahasiswa dengan IPK 4,0. Keduanya dihadiahi masing-masing satu unit laptop. Entah dari Menristek Dikti atau Menko. Di pembungkus laptopnya tersemat logo Bank Tabungan Negara (BTN).

Mahasiswa Sosial-Humaniora mulai grusah-grusuh. Entah karena coba mengingat-ingat IPK yang selama ini sering dilupakan, atau karena gatal ingin mengangkat tangan sambil menyebut IPK-nya.

“Sekarang mahasiswa sosial,” teriak Nasir.

“3,4!” Kata seorang mahasiswi.

“4.0!” kata yang lain.

“4.0!” ada lagi yang berteriak demikian.

Tanpa disangka, enam mahasiwa sosial memenangkan lelang. Keenamnya memiliki IPK 4.0. Karena laptop yang disediakan awalnya hanya empat, empat mahasiswa lain harus sabar menanti. “Nanti jangan lupa dicatat ya!” perintah Nasir kepada stafnya.

Gara-gara belum berakhir sampai di situ. Kedelapan mahasiswa yang memenangkan lelang diminta memberikan harapan mereka kepada pemerintah. Rata-rata berharap beasiswa Bidikmisi dan sejenisnya tetap dilanjutkan. Ada juga yang berterima kasih kepada pemerintah sambil tersedak menahan tangis.

Mikrofon sampai ke tangan Suhendra, mahasiswa asal Universitas Singaberbangsa, Karawang. “Beasiswa Bidikmisi yang saya dapatkan membantu sekali bagi saya untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi,” katanya diplomatis.

“Kalau harapan buat pemerintah,” ia berhenti sejenak. “Saya kan dari Karawang. Nah, Karawang itu kota industri. Biaya hidup di sana mahal.” Sampai di sini, beberapa mahasiswa sudah dapat menebak apa harapan Suhendra.

“Jadi kalau bisa, uang saku kami ditambah, Pak.”

Seisi auditorium geger untuk kedua kalinya. Ravik, Puan, dan Nasir tersenyum geli. Para mahasiswa tertawa, lalu bertepuk tangan dengan semangat. Mungkin di dalam hati mereka juga berteriak, “Setuju!”[]

(Foto: Rofi’ah Nurlita/LPM Kentingan)