lpmkentingan.com-International Office Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS menyelenggarakan acara Asian-African Student Discussion bertempat di lantai 3 Puskom UNS pada Rabu (24/6). Acara tersebut merupakan follow-up mahasiswa Afrika yang menghadiri Konferensi Asia-Afrika di Bandung lalu untuk kemudian mengadakan sebuah diskusi. Diskusi ini diikuti oleh puluhan mahasiswa baik mahasiswa Indonesia maupun mahasiswa asing yang berkuliah di UNS. Dalam diskusi tersebut, turut hadir Ketua Young African Ambassadors in Asia, Nsikan Ekwere.

Benua Afrika merupakan salah satu benua dengan ciri khas tersendiri. Mindset masyarakat Indonesia tentang benua hitam ini sedikit banyak dipengaruhi oleh media yang beredar. Taufiq Al Makmun, Ketua International Office (IO) UNS menjelaskan bahwa selama ini, media mengabarkan Afrika sebagai negara terbelakang. Seolah-olah semua negara di Afrika terbelakang. “Interaksi antarbudaya ketika hanya melalui media akan mendapatkan false information dan false awareness (kesadaran yang keliru), tetapi dengan bertatap muka kita mendapat kesadaran yang baru,”terang Taufiq saat menjelaskan pandangan perihal perkembangan pendidikan di Afrika.

Hal tersebut juga dibuktikan saat Abdullah, mahasiswa dari Tanzania mengungkapkan pendapatnya terkait dengan Organisasi Boko Haram, “If you think that Boko Haram is built by us (African People), now, thinking how could we bought such as expensive weapons and war supply while our kids had starving?”ungkap Abdullah yang kurang lebih maknanya, “Jika kalian berpikir bahwa Boko Haram itu dibentuk oleh warga Afrika, sekarang, pikirkan bagaimana bisa kita membeli senjata-senjata mahal dan perlengkapan penyuplai perang sedangkan anak-anak kita sedang kelaparan?”.

“Pandangan media dengan fakta di lapangan bisa berseberangan, oleh karena itu one on one exposure seperti dalam diskusi ini memuculkan understanding awareness tidak menjadi distorted knowledge by media,”jelas Taufiq.

Understanding Awareness

Understanding awareness atau kesadaran pemahaman bisa diperoleh jika kita berinteraksi secara langsung dengan sesuatu atau seseorang yang bersangkutan. International Office sebagai fasilitator mahasiswa asing yang ada di UNS sudah seharusnya menjembatani informasi yang simpang siur terkait isu mancanegara. Sebagai contohnya adalah isu yang berkaitan dengan negara dari salah satu mahasiswa asing yang ada di UNS untuk kemudian ditindaklanjuti dalam sebuah diskusi.

Taufiq menjabarkan bahwa seringkali, jika kita bekerjasama dengan negara barat kita cenderung belajar dari mereka, tapi kerjasama dengan negara yang mengalami nasib yang sama kita mulai dengan kesejajaran. Kerjasama dengan afrika memang bukan sesuatu yang bombastis, tetapi sesuatu yang real. “Wujud dari understanding awareness dapat dilihat dengan dibangunnya salah satu produksi pabrik terbesar Indomie ada di Nigeria atau mini market Indomaret yang telah hadir di Cape Town Afrika Selatan,”sambungnya.

Taufiq melanjutkan, sebelumnya kita tidak pernah melihat Afrika, kita tidak tahu Afrika, media pun jarang membahas tentang Afrika. Dengan acara seperti ini mata kita bisa ‘terbuka’, generasi muda Afrika sekarang sudah cukup progresif. Pasca era Mandela, sekarang sudah banyak bermunculan pemikir-pemikir muda Afrika. “Be free, be open minded. Those who close minded will never get an education,”sambung Abdullah.

Acara yang diselenggarakan dengan kerjasama BEM UNS ini, memudahkan International Office agar informasinya tersalurkan ke mahasiswa. “Ada kemungkinan International Office kembali berkolaborasi dengan BEM. Kita berharap bisa menyelenggarakan Pertemuan Nasioal Mahasiswa Asia-Afrika Indonesia di UNS,”harap Taufiq. (Gilar)