(A’isah)

 

Surakarta, saluransebelas.com – Aliran Geometris semakin diminati para desainer interior muda, terutama di kalangan mahasiswa. Hal ini tampak dalam pameran Interior Design of Craft and Furniture (INRARE). Pameran tahunan mahasiswa program studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tersebut digelar di Solo Grand Mall Rabu (19/10) sore hingga Kamis (20/10) malam.

 

Dalam penyelenggaraan ketiganya tahun ini, INRARE mengusung tema Geometrical Design of Interior. Geometris sendiri adalah desain atau rancangan yang memanfaatkan beberapa aspek geometri, baik bangun datar maupun bangun ruang. Desain ini lantas diterapkan pada elemen ruang dengan memadukan ilmu seni, perancangan, dan matematika.

 

Karya yang dipamerkan dalam INRARE 2016 adalah tugas praktik dari mahasiswa desain interior dua dan tiga dimensi. Beberapa di antaranya adalah prototype desain furnitur skala 1:5 dan 1:1, maket interior, gambar layout interior, gambar perspektif, nirmana, sketsa, serta karya submisi dari luar jurusan maupun universitas/ institusi.

 

Aryanto (41), salah satu pengunjung yang mengaku baru pertama kali melihat pameran desain interior, mengapresiasi acara ini. “Yang saya tahu, desain interior itu cuma me-layout dan menata ruangan. Tapi saya belum tahu ilmunya, sekadar tahu gambarannya lewat browsing. Setelah lihat pameran ini jadi nambah pengetahuan. Ternyata desain interior itu prospektif dan karya-karyanya bagus,” ungkapnya.

 

Memasyarakatkan Desain Interior

 

Ketua Panitia INRARE 2016, Muhammad Alvin Fauzi (20) mengatakan bahwa masyarakat sekarang cenderung banyak beraktivitas di daerah mal. Dengan menggelar pameran di mal, diharapkan dapat mewujudkan tujuan INRARE untuk mengenalkan desain interior ke masyarakat, khususnya mengenai konsep geometris.

 

“Masyarakat awam menilai desain interior hanya untuk masyarakat tingkat atas. Banyak juga yang belum mengerti pentingnya desain interior dalam kehidupan sehari-hari. Persepsi-persepsi itulah yang perlu diluruskan. Padahal, desain interior sangat dekat dengan masyarakat. Para desain interior ikut berperan membangun bangunan publik dan fasilitas umum tanpa membedakan status masyarakat,” jelas Alvin.

 

Selain pameran, INRARE juga mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat di Rumah Baca Teratai Sangkrah, Solo. INRARE membuatkan pajangan karya untuk rumah baca dengan menjunjung konsep geometris yang diaplikasikan dalam karya furnitur. Dalam seminggu, dua meja, satu rak display gantung, dua rak display portabel, serta tiga lampu belajar berhasil diproduksi dan dipamerkan dalam INRARE 2016.

 

Alvin mengharapkan pameran ini juga dapat memberi kontribusi untuk masyarakat. “Dengan mengangkat Rumah Baca, diharapkan dapat menarik minat masyarakat untuk lebih peduli ke Rumah Baca, sebagai salah satu contoh motor gerakan untuk kampung lain yang butuh perubahan. Jadi bisa lebih bermanfaat, tidak sekadar pameran seperti tahun-tahun sebelumnya,” tambah Alvin. Pengabdian masyarakat ini direncanakan akan terus berlanjut setelah INRARE 2016 berakhir.

 

Selain pameran karya mahasiswa desain interior, terdapat juga pelatihan workshop terrarium oleh Anis Choirunnisa, mahasiswi Desain Interior angkatan 2013 dan hand lettering oleh Irma Wijaya, mahasiswi Desain Interior angkatan 2012. Keduanya mengajak masyarakat berkarya melalui desain serta dapat menerapkannya pada interior rumah masing-masing. Serangkaian acara hiburan lain yang disajikan adalah penampilan band dari Seni Murni Band, Rustic, ATW Band, Mantapgan, Sketsa Band, Sans Coronal, serta penampilan tarian modern dari Dance Cover BSB.[]